Minggu, 23 Juli 2017

Hall of Fame-Perpusda Jabar

Ehm  jujur... saya sendiri sebetulnya kurang paham. Apakah saya yang kudet atau memang ada yang baru di perpustakaan daerah Jabar ini. Yang jelas, setelah beberapa waktu absen-lumayan lama- baru beberapa minggu ini saya kembali menyambangi Perpustakaan daerah Jabar dan menemukan sesuatu yang baru. Oya... kalau boleh jujur, Perpusda Jabar ini merupakan alternatif tempat yang paling rekommended buat saya saat:
1. Emak bokek berat, jadi tidak bisa mengajak main anak-anak ke tempat-tempat wisata yang kesohor di Bandung.
2. Ayah sibuk berat, jadi tidak bisa mengantar main ke tempat-tempat yang jauh. Bisa sih emak bawa mobil buat nganter anak-anak, tapi selain nyali emak belum begitu besar untuk nyetir ke tempat-tempat yang -mendaki gunung menuruni lembah- halah! Lagian nyetir sendiri itu ternyata capek banget😑 apalagi kalau si emak masih harus gendong-gendong batita 2.7 tahun yang lumayan beratnya setibanya di tempat tujuan. Ogaah deh. Makanya emak suka males pergi jauh-jauh kalo Ayah nggak bisa nemenin. Eh..ealah.. koq malah curcol disini😆😅
3. Emak sudah mati gaya; seperti kemarin, kue lebaran sudah habis, tamu yang dikunjungi sudah habis, acara halal bi halal sudah tuntas, sementara libur anak-anak..... lhooo.... koq masih panjang bangeeet😣
4. Alternatif kegiatan yang mengalihkan perhatian anak dari gadget, selain kegiatan fisik  atau bermain lainnya.
5. Memelihara minat baca anak
6. Jarak yang dekat. Tidak perlu keluar uang sama sekali. Tinggal ajak anak-anak jalan kaki, bahkan Maryam sekalipun sudah kuat jalan kaki ke Perpustakaan. Yah, sekalian olahraga ya.
7. Me time buat emaknya😅maklum emaknya doyan banget liat buku, biarpun ga semua sempat dibaca... lihat cover buku aja sudah senang hihihi.

Eitt.... sudah dulu ya pengantarnya... kita langsung saja masuk ke topik bahasan kali ini;
Hall of Fame di Perpusda Jabar.
Posisinya kalau mau masuk, tepat disebelah kiri dari pintu masuk. Awalnya saya juga bingung dengan tempat ini. Tapi setelah menelusuri hingga ke dalam... ternyata seru juga😍 apalagi masuk-masuk saya langsung disapa mbak-mbak cantik nan ramah yang meminta saya mengisi buku daftar tamu. Yuk.. kita cek saja foto2nya berikut ini



















Tuh kan... keren-keren banget kan foto-fotonya. Cuma sayangnya tempat ini kelihatannya masih agak sepi nih. Perlu dipromosikan lagi tampaknya, supaya pengunjung juga jalannya ga lurus saja, tapi bisa mlipir cantik, belok kiri untuk sekedar mengagumi hall of fame ini. Cukup menambah wawasan lho..  terutama tentang tokoh-tokoh Jawa Barat. Yuuk...

Kamis, 25 Mei 2017

Bahagia Itu Sederhana. Bahagianya Saya....

Dulu, waktu SMP saya sering jealous saat melihat teman-teman memakai jam tangan branded ke sekolah. Merk-merk sw*tch, b***tton atau g**ss yang harganya-buat saya-selangit itu rasanya sesuatu banget. Almarhum Bapak memang membelikan jam tangan buat saya merk q**rtz tapi.. apalah artinya jika dibandingkan merk jam tangan teman-teman saya yang ngetop dan hitz banget. Pikiran kanak-kanak saya membatin, pasti keren kalau saya bisa punya jam tangan branded itu. Tapi untuk minta ke orangtua rasanya tidak tega. Insya Allah mereka mampu. Tapi buat apa juga? Kalau orangtua sudah memberikan jam tangan itu artinya menurut mereka itulah benda yang cocok buat saya dan sesuai kemampuan mereka.   Jadilah saya terima nasib ditemani jam tangan q**rtz selama masa sekolah. Tentunya sambil memendam angan, kelak saya akan membeli jam tangan branded kalau sudah bekerja dan mampu cari uang sendiri. Sepertinya saya akan lebih bahagia kalau mendapati jam tangan mahal itu melingkari tangan saya.
Dan setelah saya punya uang sendiri dari hasil bekerja, apakah saya jadi membeli jam tangan branded itu?  Tentu tidak hihi... Rasanya koq sayang ya.. sudah capai-capai bekerja banting tulang terus dibelikan benda semahal itu. Mending uangnya ditabung untuk biaya melanjutkan sekolah atau untuk keperluan tak terduga. Begitu pikir saya waktu itu. Jadilah sampai berhenti kerja dan akhirnya menikah saya masih setia dengan jam tangan lama. Ketika tinggal di Madinah situasi agak berbeda. Kebetulan beberapa jam tangan branded itu harganya lebih murah dibanding dengan harga di tanah air. Dan suami saya yang tahu banget "keinginan terpendam" istrinya😆 berinisiatif memberikan kado ultah kejutan berupa jam tangan merk t*ssot yang harganya lumayan mahal. Setelah itu beberapa jam tangan merk sw*tch juga saya koleksi, seiring perbaikan ekonomi keluarga kami. Tapi lalu... apakah saya betul-betul happy ketika akhirnya keinginan itu menjadi kenyataan. Happy sih.. tapi nggak bertahan lama.. hihi..  soalnya habis itu kasak-kusuk lihat model yang lebih baru.. pengen lagi.. seperti itu terus. Nggak ada habisnya. Kadang kalau sedang dipakai malah riweuh pas mau wudhu. Maklum saya orangnya suka lupaan kadang-kadang. Gawat juga kan kalau barang mahal itu hilang karena kelalaian saya.
Kemudian makin kesini, kebahagian ternyata semakin tidak terukur dengan benda. Hal itu saya rasakan justru ketika kondisi malah semakin memungkinkan untuk memenuhi keinginan duniawi (halah). Justru hal-hal kecil yang sekilas sepertinya biasa saja menjadi sesuatu yang membahagiakan buat saya.. seperti dibawakan makanan kesukaan oleh suami sebagai kejutan, memeluk si bungsu saya yang baru bangun tidur, bercanda dengan si tengah yang sotoy abis atau melihat si sulung yang mulai handal "menangani" adik-adiknya.. udah deh itu aja.  Ada juga sih yang lain... tapi costnya juga jauuuh banget dibanding beli barang-barang branded nan mahal itu. Misalnya... bisa beli buku diskon abis-abisan di cuci gudangnya Gramedia.. Nah itu bahagia banget saya, karena bisa borong buku-buku bagus sekardus dengan harga yang murah banget. Atau ketika ada kabar naskah buku perdana saya mau diterbitkan. Udah itu aja.
Kalaupun ada kebahagiaan lain yang saya cita-citakan mungkin sangat simpel. Bisa me time duduk lama-lama di perpustakaan buat riset untuk calon buku baru atau melanjutkan hoby travelling lagi sepertinya akan jadi next target saya. Tapi sebagai emak-emak yang masih dibuntuti oleh batita dan sejumlah dedlen pekerjaan,  saya hanya bisa bersabar sampai waktunya tiba... ealah malah curcol 😂😂. Tapi iya, kebahagiaan saya sederhana. Bagaimana dengan Anda?




Rabu, 24 Mei 2017

Pilihan Karir (2)

Saya menemukan pengertian menarik tentang perbedaan bekerja dan berkarir. Menurut Isaacson  (1985)  bekerja mengacu pada  setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa. Sedangkan  karir lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang serta mewarnai seluruh gaya hidupnya (Winkel, 1991). See?  Kita bisa melihat perbedaannya. Tapi proses berkarir tidak serta merta muncul begitu saja. Seseorang mungkin perlu untuk merasakan proses bekerja dahulu sebelum dia memutuskan bahwa itulah karir dia. Bisakah proses kerja ini dilewati? Bisa saja. Apabila dia sudah mengenali dirinya dengan baik, tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekuranganya, tahu apa yang menjadi tujuan hidup dan passionnya. Singkatnya; "Ku tahu yang kumau" Tapi satu hal yang tidak bisa lepas dari masalah karir adalah Eksplorasi. Ya. Setiap orang bisa saja melalui proses yang panjang berganti-ganti pekerjaan berkali-kali sampai ia menemukan apa yang menjadi pilihan karirnya. Tapi ada pula orang yang hanya membutuhkan waktu singkat untuk paham apa yang menjadi panggilan hidupnya... apa yang menjadi passionnya. Tapi semuanya melalui proses eksplorasi. Seorang ahli ( Super, 1990) menyampaikan bahwa eksplorasi adalah upaya pencarian informasi yang dilakukan seseorang melalui berbagai sumber. Biasanya terjadi di tahapan remaja. Aktivitas mencari informasi ini memang sesuai dengan kebutuhan remaja yang haus akan informasi. Melalui proses eksplorasi ini mereka memperkaya informasi tentang pilihan kerja yang selanjutnya menjadi pilihan karir mereka. Proses ini tidak mudah karena sifat remaja yang banyak dipengaruhi peer group mereka. Fungsi orangtua dan guru akan sangat berperan besar disini dalam membimbing dan membantu mereka untuk mengenali potensi diri, mengetahui kekuatan dan kelemahan serta memberikan feedback yang bermanfaat untuk pengembangan diri mereka, termasuk berbagai informasi tentang bidang atau area minat yang bisa mereka masuki. Tentunya pendekatannya harus disesuaikan dengan karakteristik remaja yang enggan didoktrin. Pendekatan dengan berperan sebagai teman diskusi yang asyik memungkinkan remaja lebih nyaman untuk berkomunikasi. Pada akhirnya proses eksplorasi yang dilakukan diharapkan akan membantu remaja untuk tahu apa yang kumau, terlepas dari tekanan peer dan faktor lingkungan. Maka, kejadian bingung dan menyesal saat memilih jurusan yang keliru bisa diminimalisir.

Jumat, 19 Mei 2017

Pilihan Karir

Berkarir apakah sama dengan bekerja? Saya memaknakannya berbeda. Karir lebih dari sekedar bekerja karena karir sudah menyangkut passion. Ketika seseorang memutuskan berkarir di suatu bidang artinya ia sudah memutuskan untuk mendedikasikan waktu, tenaga dan fokusnya pada bidang tersebut. Artinya ia sudah menemukan bahwa dirinya bisa berarti dan bermanfaat saat berkarya di bidang tersebut. Bahkan bisa juga ia sudah menemukan tujuan hidupnya dengan berkarya di bidang tersebut. 
Buat saya, pilihan karir adalah hal yang kompleks karena berkaitan dengan peran sebagai istri dan ibu. Sejak kecil saya memang tidak bercita-cita untuk bekerja kantoran. Dalam bayangan saya, saya akan berkarir di rumah, mengetik di laptop atau mengerjakan sesuatu sambil mengawasi anak-anak. Hadir saat mereka membutuhkan. Sempat ngantor nine to five selama 2 tahun sebelum menikah. Bahkan setelah menikah pun saya sempat melalui beberapa tahapan rekrutmen di suatu BUMN dan seleksi akhir disebuah rumah sakit swasta di Bandung. Akan tetapi semua itu kalah oleh "panggilan" suami ke Madinah kala itu. Ketika kembali ke Indonesia saya memutuskan fokus pada cita-cita saya sedari kecil, bekerja di rumah dengan waktu fleksibel. Saat itu saya sudah punya si sulung. Rasanya tidak tega dan memang sulit sekali mencari pengasuh anak yang memenuhi syarat. Pilihan yang paling mungkin adalah melanjutkan kuliah, mengambil profesi sesuai pendidikan S1 saya. Dengan mengambil kuliah profesi, saya berharap akan lebih memiliki keluangan waktu untuk bekerja sambil mengasuh anak. Tidak perlu ditanya "babak belur"nya saya menjalani perkuliahan dengan status ibu dua anak yang masih balita. Apalagi kuliah di Psikologi yang sering disebut "berobat jalan" ;p Belum lagi masalah lain seperti biaya pendidikan. Adalah suami saya yang cukup "keukeuh" supaya saya melanjutkan pendidikan. Beliau pula yang membiayai seluruh pendidikan S2 dan profesi sampai selesai. Tadinya saya sempat berkeluh kesah. Rasanya tidak adil melihat teman-teman saya bisa full menjalankan peran sebagai ibu, santai2 di rumah, menemani anak bahkan melakukan perawatan ke salon dll, sementara saya berjibaku bolak balik ke kampus, berjam-jam menunggu dosen, pulang langsung pegang anak dan begadang bermalam-malam untuk mengerjakan tugas. Apalagi kalau besoknya ujian bersamaan dengan anak demam. Bisa tahan semalam dua malam tidak tidur :D Seiring berjalannya waktu, semua terlewati. Alhamdulillah ada support system yang memungkinkan semua terlaksana. Untuk saya itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Cita-cita saya saat ini bisa dibilang sudah tercapai. Saya bisa tetap berkarya menjalankan tanggung jawab profesi saya dan tidak meninggalkan tanggung jawab saya sebagai ibu. Beberapa pekerjaan mengharuskan saya hadir di tempat tapi dalam banyak hal saya bisa membawa pulang pekerjaan dan mengerjakannya di rumah. Saya bekerja saat anak tidur atau mereka sekolah. Memang tidak mudah. Saya masih tertatih-tatih mengatur waktu. Bekerja dari rumah dengan mengasuh tiga anak sendiri. Tapi saya menikmatinya. Bersyukur karena dua peran saya, sebagai ibu dan sebagai profesional bisa saling melengkapi dan menjadi passion saya. Saya merasa bisa memberi manfaat dan berarti untuk orang lain. Maka saya bisa mengatakan inilah pilihan karir saya. Nah sekarang... apa pilihan karir Anda? 



Kamis, 12 Januari 2017

Eksplorasi Keindahan Bukit dan Pantai di Kawasan Garut Selatan




Assalamu'alaikum.... jumpa lagi di tahun 2017, setelah tahun 2016 yang sama sekali tidak produktif untuk menulis blog :( tapiii... produktifnya di bidang lain sih... hehe...
Untuk mengawali hari-hari awal di  tahun 2017 ini, saya akan bercerita tentang  salah satu tempat wisata di Jawa Barat yaitu pantai di Garut Selatan. Tulisan ini juga sudah pernah dimuat di Majalah Sekar (almarhum) beberapa  tahun lalu dengan editan di sana-sini. Berikut tulisan aslinya.

Indonesia memiliki banyak kawasan wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah kawasan pantai di Jawa Barat. Beberapa diantaranya yang sudah terkenal adalah pantai Pangandaran atau Pelabuhan Ratu.  Waktu yang terbatas sementara disisi lain saya ingin mencari tempat  yang menjanjikan ketenangan dan kenyamanan, membuat saya  tergerak untuk mengeksplorasi  kawasan wisata yang belum banyak dikunjungi orang dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari Bandung, kota tempat tinggal saya.  Pilihan saya  jatuh  ke kawasan pantai di Garut Selatan yang indah dan masih alami. Perjalanan saya lakukan melalui jalur selatan Bandung yaitu Pangalengan-Cisewu. Jalur ini terhitung baru karena  baru saja diresmikan oleh Ahmad Heryawan,  Gubernur Jawa Barat pada tanggal 31 Januari 2013 lalu. Dan ternyata pilihan saya tidak salah. Tidak hanya wisata pantai yang saya dapatkan, namun saya pun berkesempatan untuk menikmati kesejukan pegunungan. Benar-benar wisata yang lengkap dalam waktu yang singkat dengan biaya murah meriah. Tak percaya? Berikut pengalaman saya kala menelusuri jalur selatan Bandung menuju  pantai Rancabuaya, salah satu pantai di kawasan Garut selatan.

Situ Cileunca dan Jalur Perkebunan Teh
Perjalanan saya pagi itu dimulai dari Bandung, kota tercinta.  Tanpa membuang waktu,  tepat jam enam pagi saya memulai petualangan saya dengan menggunakan kendaraan pribadi menuju arah selatan  Bandung yaitu  Banjaran-Pangalengan.  Jalan tidak terlampau macet saat itu karena hari libur.
Selepas keramaian Banjaran memasuki Pangalengan, mata saya menangkap pemandangan cantik  sebuah danau di sisi kiri  jalan raya yang saya lalui. Jika selama ini danau  yang banyak dikenal di Bandung dan sekitarnya adalah situ Patenggang, ternyata baru saya jumpai situ atau danau lain yang tak kalah cantiknya dengan situ Patenggang. Situ Cileunca, adalah sebuah danau buatan seluas kurang lebih 1400 hektar.  Meski tidak seterkenal situ Patenggang, namun  situ Cileunca menawarkan view yang tak kalah  menyegarkan. Letaknya yang berada tepat di sisi jalan raya semakin mempermudah akses jalannya. Situ ini dapat dinikmati dari berbagai sisi selain dari pintu masuk dengan membayar 5000 rupiah juga dari warung-warung makan yang berada di tepian situ. Sungguh pengalaman menyenangkan-menghabiskan pagi dengan menikmati segarnya pemandangan danau yang tenang  sambil sarapan di tepian Situ Cileunca.



Sepanjang jalur Pangalengan, cantiknya hamparan perkebunan teh dan pebukitan sungguh memanjakan pandangan mata. Jalan baru  yang mulus semakin menambah lancar perjalanan. Tak jemu rasanya melihat pemandangan kanan-kiri jalan. Tak hanya view  perkebunan teh yang memikat mata  namun  pemandangan  kehijauan bukit dan lembah  sungguh cantik sehingga perjalanan jadi tak terasa membosankan.
Oya, untuk anda yang menggunakan kendaraan umum,  dapat ditempuh dengan beberapa alternative transportasi yaitu dengan menggunakan angkutan umum rute Bandung-Pangalengan-Cisewu atau elf dari arah Garut. 


 

  
Jalur indah namun mendebarkan
Selepas dimanjakan hamparan daun teh,  pemandangan bukit dan tebing yang curam serta  derasnya aliran sungai di sela-sela batu kali semakin mempesona perjalanan saya kali ini. Sepanjang Pangalengan-Cisewu, jalur  diwarnai  tikungan dan kelokan yang semakin tajam serta  tanjakan maupun turunan yang semakin curam. Jalan di tepian jurang berkelok-kelok  sambung menyambung membelah bukit dan gunung, sehingga pengendara harus ekstra hati-hati dan kondisi kendaraan harus dipastikan benar-benar prima. Sungguh  perjalanan yang menantang dan memicu adrenalin. Namun semua itu sepadan dengan pemandangan indah yang tersaji sepanjang  jalur ini.  Untunglah kondisi jalan  yang masih baru ini dalam keadaan  mulus, sehingga tak banyak hambatan lain yang dijumpai kecuali tikungan dan tanjakan atau turunan yang curam tadi.
Jangan sia-siakan pemandangan yang mungkin sangat jarang anda temui dalam keseharian. Bahkan, saya terpaksa harus berkali-kali menepi  menghentikan laju mobil karena pemandangan yang ada di hadapan mata sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja. Jalur sepanjang Cisewu ini  membuat saya benar-benar terpesona.  Pemandangan di sisi jalan adalah lembah yang curam namun juga sekaligus sangat indah.  Menimbulkan rasa ngeri namun juga kagum  yang tak putus-putus. Subhanallah..  keindahan ini semakin dilengkapi pula dengan pemandangan hamparan sawah yang dibuat bertingkat-tingkat karena kontur tanah yang berbukit serta tebing-tebing yang mengelilinginya. 
Jalan yang dibuat cukup  banyak memapas pebukitan, namun di sisi lain membuat daerah ini rawan longsor. Pada beberapa jalur, para pengemudi diharapkan untuk ekstra hati-hati karena kondisi jalan yang tak mulus dan bergelombang. Namun jumlahnya hanya sedikit dibanding jalan yang mulus.
Meski saya seringkali singgah untuk menikmati indahnya pemandangan, namun jalan yang mulus membantu  perjalanan saya menjadi cukup cepat. Terhitung  saya menghabiskan waktu hanya 4,5 jam dari Bandung untuk sampai di tempat yang saya tuju, yaitu pantai Rancabuaya. Pemandangan yang menakjubkan segera menyambut saya selepas daerah Cisewu menuju Rancabuaya.  Dari arah pebukitan tampak samar-samar di kejauhan pemandangan garis pantai dengan ombak  yang saling berkejaran.  Garis pantai yang memanjang jauh sampai batas-batas yang tidak terlihat oleh pandangan mata saya.   Cantiknya pemandangan dilengkapi pula dengan  warna-warni alam berupa perbukitan yang hijau oleh pepohonan dan hamparan sawah berpadu dengan pantai dan langit yang biru. Sungguh keindahan yang sempurna.


Pantai Rancabuaya
Tiket masuk kawasan pantai Rancabuaya sangat murah. Hanya kurang lebih sekitar 3 ribu rupiah perorang, Total sekitar 10 ribu yang saya bayarkan untuk  kendaraan yang berisi  tiga orang dewasa dan dua anak-anak.
Pemandangan pantai yang cantik dengan pasir putih dan batu-batu karang segera menyambut saya saat tiba di Rancabuaya.  Sekilas melihat, saya segera tahu bahwa pantai ini sungguh sangat layak saya singgahi setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan mendebarkan.  Meski di beberapa tempat tampak  sedikit kotor oleh sampah yang berserakan namun  hal ini tidak mengurangi rasa antusias saya untuk segera merasakan semilir angin laut. Iklim di pantai tidak sekering dan sepanas umumnya di daerah pantai. Hal ini karena letak pantai yang tidak jauh dari perbukitan, pegunungan  dan melewati hamparan perkebunan teh.
Pantai Rancabuaya adalah pantai sepanjang 1000-2000 meter.  Kesan alami segera terekam di benak saya saat menyaksikan air laut yang bening bersih serta pasir putihnya.  Bagian pantai yang landai kebanyakan dijadikan tempat bagi para pengunjung untuk menikmati keindahan pantai serta para nelayan untuk berlabuh. Sementara di bagian pantai yang lain yang dipenuhi batu karang menjadi sasaran pengunjung untuk menangkap umang. Satu hal yang harus diwaspadai adalah ombaknya yang cukup besar.  Saya sendiri sempat nyaris menjadi korban keganasan ombak di pantai Rancabuaya ini.  Oleh karena itu, kewaspadaan dan kehati-hatian hendaknya tetap dipertahankan selama bermain di pantai.










Saat jam makan tiba, saya segera mengalihkan perhatian ke jajaran warung makan  yang menjual seafood di sekitar Rancabuaya. Harap dimaklumi, apabila di Pangandaran kita punya banyak pilihan untuk makan atau sekedar untuk jajan, maka di Rancabuaya tidak banyak  pilihan. Meski demikian, tidak perlu khawatir karena  hidangan yang tersaji di warung-warung makan di pantai Rancabuaya tidak kalah lezatnya.

                                
Salah satu tempat tujuan saya untuk makan siang itu adalah Warung makan Wajabrik. Warung makan ini merupakan warung makan yang paling terkenal di kawasan Rancabuaya karena hidangannya yang variatif dan rasanya juga cukup lezat. Salah satu hidangan yang menjadi andalan di warung makan Wjabrik dan banyak dicari oleh pengunjung adalah mata lembu. Mata lembu adalah  hidangan yang terbuat dari siput  air laut yang dimasak dengan bumbu saos pedas. Rasanya kenyal cenderung agak alot namun lezat dan gurih. Bersantap seporsi mata lembu  seharga lima puluh ribu rupiah ditemani kelapa muda yang diminum langsung dari buahnya benar-benar  kenikmatan yang tiada terkira.


Apabila ingin bermalam di pantai Rancabuaya tak perlu khawatir. Beberapa penginapan dengan kondisi yang memadai dan recommended tersedia di tepi pantai. Salah satu penginapan yang sempat saya singgahi menyediakan kamar dengan harga 400 ribu rupiah saja permalam dengan fasilitas yang lengkap, termasuk kamar mandi yang bersih di dalam dan berpendingin udara.
Apabila ingin mencoba alternative lain misalnya dengan berkemah atau kemping di tepi pantai juga memungkinkan. Beberapa fasilitas umum seperti kamar mandi umum dan musholla saya lihat juga tersedia di tepi  pantai Rancabuaya.
Berwisata ke pantai Rancabuaya tak hanya bermain di tepi pantai atau berburu umang di sela-sela batu karang. Alternatif lainnya adalah menyaksikan para nelayan yang pulang melaut di pagi hari. Ikan segar hasil tangkapan di laut bisa kita peroleh  dengan membeli langsung ke nelayan. Kita juga bisa meminta untuk langsung dibakar atau dimasak di warung-warung makan yang tesedia di tepi pantai. 
 

Pantai Rancabuaya hanya salah satu dari beberapa pantai yang terdapat di daerah Garut selatan yang dapat dikunjungi oleh wisatawan.  Beberapa pantai lainnya antara lain  pantai Santolo dan pantai Jayanthi.  Pantai-pantai ini bisa dicapai dengan menempuh berbagai jalur, diantaranya melalui Garut –Pameungpeuk, Cianjur ataupun jalur seperti yang saya tempuh yaitu melalui kawasan selatan Bandung; Pangalengan-Cisewu. Salah satu alternative wisata lainnya yang bisa dikunjungi selama di Rancabuaya adalah Puncak Guha untuk menyaksikan view pemandangan pantai dan hamparan perbukitan.
                                  


Setelah puas bermain di Pantai Rancabuaya, saya segera beranjak pulang. Namun  bukan berarti perjalanan wisata saya terhenti sampai disini. Karena perjalanan pulang pun adalah bagian dari wisata yang saya nikmati. Keindahan pemandangan pebukitan yang curam dan hamparan kebun teh yang saya lalui dalam perjalanan pulang seolah menggoda saya seiring dengan turunnya halimun sore itu. Apabila dalam perjalanan pergi  saya  lebih banyak melalui  turunan, maka dalam perjalanan pulang kendaraan lebih banyak dipacu melalui tanjakan. Tiba di Situ Cileunca  saya  menyaksikan  pemandangan kano-kano di antara keemasan cahaya matahari sore.

Tiba di Pangalengan, perut saya  terasa melilit di tengah dinginnya udara sore. Maka saya menyempatkan diri untuk mampir ke rumah makan “Asti” untuk mencicipi sop buntutnya yang terkenal lezat seharga tiga puluh ribu rupiah. Oya, jangan lupa mencicipi sensasi kehangatan bandreknya.  Tak lupa saya mampir untuk membeli oleh-oleh khas Pangalengan  seperti susu murni KPBS dan beragam produk yang terbuat dari susu seperti dodol, permen dan keripik.
Perjalanan kembali dari arah selatan Bandung tak kalah indah  dihiasi pemandangan kerlap-kerlip kota Bandung di kejauhan  saat  senja turun. Sungguh pengalaman wisata yang lengkap dan sempurna di bumi Pasundan.

Btw... foto-foto terakhir tidak bisa diapload karena hp saya tercebur ke pantai :( Jadi terpaksa harus puas dengan gambar apa yang ada :))

Kamis, 31 Desember 2015

KASIH IBU



Catatan empat tahun silam....


Pagi menjelang siang. Bandung yang macet membuat laju angkot yang saya tumpangi sedikit tersendat. Saya melirik  jam yang melingkar di pergelangan tangan. Masih satu setengah jam lagi perjalanan rute Margahayu- Dago, harus  saya jalani dengan sabar. Sambil menghela nafas saya membayangkan rentetan kesibukan yang harus saya lalui dan target yang harus saya capai hari ini. Terutama, menyangkut target pekerjaan saya dan  jadwal belajar si sulung yang besok akan UTS.
Sesaat angkot menepi. Seorang ibu berbadan kurus  dengan pakaian sederhana menggandeng anaknya naik ke dalam angkot.  Usia anak lelaki itu memasuki pra remaja. Kira-kira tiga belas  atau empat belas tahun. Satu hal yang menonjol, ketika duduk, anak itu tampak terkulai lemas di pangkuan sang ibu. Pandangan matanya kosong dan jemari tangannya kaku. Ibu itu dengan tenang memeluk bahu anaknya. Dibelainya  lembut, rambut anaknya.  Kemudian dengan sabar disekanya air liur yang sesekali menetes di bibir sang anak.
Mata kami bertemu dan kami saling bertukar senyum. Sambil menatap anak-anak SMP yang tertawa riang di sepanjang jalan yang kami lalui, ia berucap pelan,
“Seandainya saja tumbuh normal, anak saya juga pasti sudah SMP sekarang,” Ia menghela nafas kemudian melanjutkan ceritanya.
“ Anak saya sebenarnya terlahir normal. Hanya, pada usia sembilan bulan badannya panas tinggi dan kejang-kejang. Sempat dirawat di rumah sakit. Tapi, mungkin sudah nasibnya, jadi sekarang ia seperti ini,” ada kegetiran dalam suaranya.
“Dulu, waktu ayahnya masih hidup, ia sayang sekali pada anak ini. Ayahnya benar-benar bekerja keras untuk membiayai pengobatannya. Sayang, setahun lalu ayahnya berpulang. Sekarang saya yang berusaha membiayai pengobatannya.  Beginilah…. semampunya saja, kalau ada uang dibawa berobat, kalau nggak ada, ya sudah. Maklum kerja serabutan.” Tidak ada nada keluhan dari suaranya. Tak juga meminta belas kasihan. Hanya ada ketegaran mencoba menepis getir yang ia rasakan. Tampak sekali ibu itu hanya ingin berbagi untuk sedikit meluruhkan kegundahan hati akan nasib anaknya.
“ Alhamdulillah sekarang sudah terkumpul sedikit uang untuk biaya berobatnya. Mau saya bawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Ada seorang dokter yang begitu perhatian padanya dan berjanji mau membantu pengobatannya. Gratis. Mudah-mudahan dokter  itu hari ini ada,” Ia tersenyum penuh harap. Meski bias wajahnya tidak menghilangkan kegundahan yang ia rasakan,  tetapi rasa optimis dan kasih yang begitu besar  terpancar di sorot matanya.
Saya terhenyak. Menyembunyikan rasa haru yang menyesakkan dada. Ibu, begitu besar kasihmu. Kesabaranmu bagai mata air yang tak pernah putus. Semangatmu bagai api yang tak kunjung padam. Dan saya hanya dapat terpaku. Menyadari, betapa kesabaran saya pada anak-anak kadang begitu mudah punah ditelan lelah dan riuhnya tugas sehari-hari. Meski begitu banyak kelimpahan dan kemudahan yang saya peroleh, namun terkadang begitu mudah pula keluh terlontar dari bibir saya. Betapa malunya saya padamu, wahai Ibu.  Semoga Allah yang maha rahman dan rahim  mendengar doa-doa khusyu’ yang terucap dari bibirmu. Semoga pula  keberkahan selalu menyertai  setiap langkahmu. Aamiin Allahumma Aamiin

Senin, 28 Desember 2015

Travelling with Baby, Bandung-Malang (Jatim Park part 2)







Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 10 malam. Menempuh perjalanan malam menjadi salah satu pilihan karena pertimbangan efektifitas waktu dan agar anak-anak bisa beristirahat selama perjalanan. Si Ayah sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Mempersiapkan GPS; termasuk mempersiapkan tempat tidur alakadarnya di bagian belakang mobil agar anak-anak bisa selonjoran. Membuat tempat tidur ini sudah menjadi agenda kami setiap kali  menempuh perjalanan jauh.
Hujan yang turun  mengiringi perjalanan  ke arah timur Jawa membuat laju kendaraan sedikit tersendat. Alhamdulillah perjalanan Bandung-Semarang lancar dan kami tiba di Semarang pagi hari. Setelah sholat subuh di masjid  yang ditemui di perjalanan, mobil diarahkan ke Semarang Kota untuk  mencari sarapan lezat.
Selama ini saya banyak melakukan kunjungan keluar kota dalam rangka pekerjaan. Medan, Balikpapan, Padang dan Surabaya adalah beberapa kota yang pernah saya kunjungi. Beberapa kota lain yang juga pernah saya kunjungi antara lain Makassar, Jogjakarta dan Solo.  Namun belum sekalipun saya  pernah menginjakkan kaki di Semarang. Maka Semarang  merupakan “most wanted city” yang saya ingin kunjungi dalam perjalanan ini. Pandangan mata sekilas, tidak banyak yang istimewa dari kota ini. Sama umumnya seperti kota-kota besar lainnya. Pusat keramaian berada di Simpang Lima. Udara yang cukup panas menjadi salah satu penanda kota ini. Tadinya saya ingin mampir ke Lawang Sewu, namun karena si Ayah tidak kunjung menemukan jalan masuknya akhirnya kami membelokkan arah untuk mencari sarapan. Soto Kudus Mbak Lien menjadi tujuan kami, berdasarkan (lagi-lagi) hasil browsing si Bunda. Tidak sulit menemukan tempat makan yang cukup terkenal ini. Namun porsinya yang kecil- sesuai dengan harga, sedikit agak  mengejutkan. Rasanya menurut saya cukup enak, meski masih standar. Saya sempat  mencicipi Lekker  camilan khas kaki lima  yang rasanya yummi dan anak-anak suka.  Oya sebelum melanjutkan perjalanan, kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh Jl. Panandaran untuk membeli lumpia Semarang sebagai bekal perjalanan. 



 

Sebenarnya ada keinginan untuk menjelajahi kota Semarang lebih jauh, namun waktu yang terbatas menghambat langkah kami. Jadinya cuma bisa dadah-dadah cantik…… Mudah-mudahan kelak ada waktu untuk lebih jauh mengenalmu, Semarang.
Kami tak langsung menuju Jatim Park tetapi mampir dahulu ke rumah teman lama kami, keluarga dr. Tasfiyah di Salatiga. Setelah puas bercengkrama, dijamu dan si Ayah istirahat sebentar (nyetir 24 jam lebih soalnya bow..) sorenya capcuss.
Perjalanan Salatiga-Batu (Malang) ternyata lumayan jauh. Melewati beberapa kota kecil di daerah Jawa Timur-Jawa tengah yang ingin saya singgahi jika kelak ada waktu luang; diantaranya kota  Brebes, Pekalongan, Kendal dan Tegal.  Sementara hari beranjak semakin malam. Si Ayah sudah mulai kelelahan dan sempat ngantuk berat sementara perjalanan menuju Batu masih jauh dan menanjak. Sempat beristirahat sejenak walau tidak lama karena perkiraan  jalan menuju Batu tidak lama lagi.  Setelah menempuh perjalanan di kegelapan malam, akhirnya kami tiba juga di Batu tepat tengah malam. Sebelumnya karena agak mendadak, kami tidak mendapat kamar di hotel Pohon Inn, hotel yang lumayan happening di Batu karena sudah fully booked. Akhirnya setelah mencari-cari yang dekat dengan lokasi wisata didapatkan Pondok Jatim Park yang persis berada di area Jatim Park 1.  Sebenarnya  lokasinya sangat mudah dicapai, namun berhubung  kami  sangat  mengandalkan GPS dan google map sementara semua baterai gadget dalam keadaan mati  jadilah kami terkatung-katung di tengah kota Batu pada tengah malam.
Sebenarnya kota Batu pada tengah malam masih lumayan ramai. Beberapa warung makanan masih dipenuhi pembeli. Namun saat kami menanyakan alamat hotel Jatim Park ternyata banyak yang tidak tahu. Salahnya kami juga tidak tahu  kalau hotel itu  ternyata berada di dalam area jatim Park. Pantas saja beberapa kali bolak-balik tidak juga menemukan hotel tersebut. Apalagi saat itu sudah tengah malam dan kondisi sudah mengantuk, lelah dan lapar. Anak-anak pun sudah terlelap pulas.
Alhamdulillah setelah berhasil menemukan hotel dan beristirahat , esoknya bangun dalam keadaan bugar dan  bersemangat untuk bertualang ke Jatim Park.
 Jatim Park…. I’m coming..
Setelah dihitung-hitung… kami cuma punya waktu dua hari full untuk menikmati beragam destinasi di kota Batu Malang. Oke, baiklah.. kami coba memaksimalkan waktu agar semua keinginan terpenuhi dengan menyusun rencana perjalanan sebagai berikut:
Jatim Park 1 termasuk museum Bagong (museum tubuh)  dan museum Angkut menjadi destinasi hari pertama.
Selanjutnya, Jatim Park 2  yang meliputi Batu Secret Zoo* , Eco Green Park, Museum Satwa dan BNS (Batu Night Spectacular) menjadi destinasi hari kedua.
Kami memutuskan membeli tiket paket sakti  yang meliputi keenam area destinasi tersebut dengan harga  Rp 275.000 yang berlaku dua hari.
* Oya karena Batu Secret zoo  mulai pukul 10.00 sementara kami sudah  siap sedari pagi jam 08.00 teng, akhirnya kami memutuskan  berkunjung ke Eco Green Park terlebih dahulu yang  sudah buka sejak jam 09.00 pagi, setelah itu siangnya baru ke batu Secret Zoo.  Itu pun anak-anak yang sudah excited masih menunggu sekitar setengah jam sebelum gerbang Eco Green Park dibuka. Maklum, selisih waktu satu jam cukup berarti untuk kami yang datang dari jauh dan memiliki waktu yang terbatas. Kedepannya sih salah satu masukan ke pengelolanya, kalau bisa semua area wisata di Batu  bisa dimaksimalkan jam bukanya sejak pagi  hari terutama untuk peak season atau libur panjang. Untuk Jatim Park 1 tidak ada masalah karena sudah buka sejak pukul 08.30 pagi.
Bismillah…