Rabu, 08 Januari 2014

Episode Kehidupan : Madinah (1)






Meski  telah tujuh tahun  saya meninggalkan Madinah, namun tidak mudah rasanya melupakan begitu saja episode kehidupan saya selama hampir dua tahun saya berdiam di kota kecintaan nabi tersebut.
Akhir tahun 2004, ketika  mendengar kabar bahwa suami mendapat pekerjaan di departemen kesehatan pemerintah kerajaan Saudi  dan ditugaskan di rumah sakit King Fahd, Madinah,  terus terang saya sempat galau. Maklum, waktu itu sebagai ibu muda dengan pengalaman yang masih minim alias newbie dalam urusan rumahtangga, meninggalkan kenyamanan di tanah air bukan perkara mudah buat saya. Apalagi, mendengar cerita-cerita  tentang ketatnya aturan plus lika-liku kehidupan di tanah suci yang nota bene adalah hal yang asing untuk saya.
Tapi, berhubung mantan pacar alias suami yang  terlebih dulu berangkat sudah ribut memanggil saya untuk segera menyusul dengan membawa buah hati kami…. apa boleh buat.  Siaap Grakk!  Walaupun terus terang cerita yang beredar semakin menciutkan hati saya. Kalau masalah segala pernak-pernik urusan rumah tangga  yang kudu dihandle sendiri itu sih biasaaa….  Namanya rumah tangga baru, pastinya tahap itu harus dilalui. Sebenarnay yang lebih bikin cemas adalah kisah-kisah “seru” tentang  keamanan hidup disana sebagai warga negara  perempuan Indonesia. Bahkan ibunda pun sempat keberatan saya menyusul suami ke Madinah. Maklum, anak perempuan satu-satunya :)
Baiklah…. Dibalik semua itu  ada satu hal yang membuat saya bertekad menjejakkan kaki ke tanah suci. Adalah asa untuk datang memenuhi panggilanNya,  bersujud ke Baitullah. Kalau ini dinamakan rezeki, mengapa tidak dijemput? Kapan lagi saya beroleh kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah? Walaupun tidak serta merta saya akan mendapat kesempatan itu, mudah-mudahan dengan tinggal di Madinah, mimpi itu akan semakin mendekat.. Insya Allah.
Oya, zaman tahun 2004 itu jangan samakan dengan zaman kini ya, dimana sekarang semua begitu mudah mendapat informasi via internet- tinggal klik Mbah Google. Zaman itu  saya masih agak kesulitan untuk mendapat informasi tentang kehidupan sehari-hari di Madinah. Meski memang banyak informasi dari para saudara dan kerabat yang pernah menunaikan haji atau umroh, namun tetap saja rasanya berbeda. Tentu saja karena saya kondisinya berangkat ke Saudi adalah untuk menetap dan tinggal dalam jangka waktu yang cukup lama.  Pastinya ada banyak hal yang harus dipersiapkan ; termasuk kondisi psikologis.
Setelah melalui proses yang berliku-liku  termasuk bolak–balik mengurus paspor, menghubungi pihak kedutaan Arab untuk pengurusan visa undangan, booking tiket pesawat dan melakukan pemeriksaan kesehatan, tentunya sambil membawa Fathan- buah hati saya yang saat itu berusia 9 bulan, Alhamdulillah… disuatu musim panas pertengahan tahun 2005, resmi sudah saya menjejakkan kaki ke tanah Madinah yang gersang.
Panasnya suhu dan kerasnya tiupan angin gurun pasir yang menyambut saya, benar-benar mengejutkan saya ketika melangkah keluar pesawat Saudi Arabian Airlines yang menerbangkan saya dari Jeddah.
Oya, sebelumnya saya sempat transit dulu di Jeddah selama lebih dari enam jam. Berhubung ini pengalaman pertama melakukan perjalanan internasional, harap  maklum kalau saya sedikit norak. Termasuk ketika saya coba-coba  praktek bahasa Inggris kepada  seorang pelayan cafe di bandara Jeddah ketika membeli kentang goreng untuk sekedar pengganjal perut. Sst…. Cita-cita saya untuk bisa pergi keluar negeri diantaranya memang untuk memperlancar bahasa Inggris meskipun akhirnya tetap tak bisa tercapai :)…hihihi.. ya iya lah…di Madinah kan bahasa yang umum dipakai bahasa arab..jarang ada yang berbicara dalam bahasa Inggris.
Meski cukup kaget ketika kali  pertama merasakan iklim super kering dan panas di Madinah ditambah keribetan memakai cadar, itu masih belum ada apa-apanya dibanding ketika saya pertama kali tiba di imaroh alias apartemen perdana saya di Madinah.  Wew, sejujurnya....sempat speechless...saat itu rasanya saya  ingin lompat dan kabur kembali ke rumah saya yang aman dan  nyaman Bandung… hehehe…
Oya, sebenarnya suami sudah mendapat sebuah imaroh sendiri untuk keluarga kecil kami. Tapi berhubung sayanya penakut, saya memaksa suami untuk pindah dan  tinggal  sama-sama dalam satu apartemen dengan dua keluarga Indonesia lain. Imaroh itu terdiri dari 3 kamar, satu kamar mandi, satu dapur dan satu ruang mungil yang tak bisa dibilang ruang tamu. Keluarga kami menempati salah satu kamarnya. Sementara  keluarga lain adalah pasangan suami istri yang tinggal dan bekerja di Madinah.
Tinggal bersama-sama dalam satu rumah ini  merupakan suatu keputusan yang saya sesali di kemudian hari. Karena memang tak mudah untuk tinggal bersama keluarga lain dalam satu rumah. Yah, jangankan bersama dengan orang lain, dengan keluarga sendiri pun jamak terjadi perbedaan pendapat. Apalagi ini dengan orang lain yang benar-benar asing meski satu bangsa.
Di satu sisi, pengalaman tinggal serumah dengan dua keluarga itu, memberi warna juga pada keseharian saya, terutama awal saya tinggal di Madinah. Paling tidak saya bisa belajar masakan Padang pada salah satu tetangga kamar saya. Masakan Padangnya sungguh sangat lezat. Meski tinggal jauh dari tanah air, alhamdulillaah urusan perut masih terjamin. Saya tak heran kalau beliau akhirnya membuka restoran Padang ketika kembali  ke tanah air.
Imaroh pertama yang saya diami terletak di dekat kawasan Asia yang saat ini sudah dirubuhkan oleh pemerintah Saudi. Kawasan Asia ini adalah salah satu surganya warga Indonesia di Madinah, terutama buat suami saya yang fanatic dengan masakan Indonesia dan saya yang tak ahli-ahli juga memasak  meski sudah terdampar di padang pasir :)). Di kawasan Asia ini terdapat beberapa restoran yang menjual masakan Indonesia.
Jadwal hari-hari biasanya suami full bekerja di rumah sakit. Bahkan dalam seminggu ada saja  jadwal beliau untuk jaga malam, yang artinya dia tidak pulang sehari semalam. Kalau saat seperti itu biasanya  sewaktu di imaroh lama saya merasa agak tenang karena masih ada tetangga kamar-teman serumah. Tetapi ketika awal pindah di imaroh baru yang hanya ditempati saya sekeluarga, saya langsung kunci semua pintu dan mendekam di kamar. Kenapa? Ya itu ada ceritanya tentunya. 
(bersambung)

Yuk, Jalan-jalan ke Perpustakaan Daerah Jawa Barat




13891735341351804093
Ruang membaca anak di Perpusda jabar

Liburan lalu, saya sempat bingung mencari alternative kegiatan liburan untuk kedua anak saya. Maklum, karena keterbatasan (isi) dompet dan waktu plus kesibukan (orangtuanya) tak memungkinkan kami untuk merencanakan liburan panjang keluar kota. Untuk sekedar jalan-jalan di dalam kota pun agak sulit. Apalagi menyaksikan padatnya lalu lintas Bandung pada saat liburan, membuat suami saya ogah menghabiskan waktu berjam-jam terjebak kemacetan untuk sekedar berjalan-jalan ke Lembang atau tempat wisata manapun di Bandung.
Suatu hari, tak sengaja saya melihat foto di facebook seorang teman yang menceritakan kunjungannya ke gedung baru Perpusda Jabar. Lokasinya ternyata tak jauh dari rumah. Karena penasaran, saat itu juga saya mengajak anak-anak untuk berkunjung ke perpustakaan tersebut. Daaannn…. Surprise!! ternyata kondisi gedung Perpusda yang baru ini benar-benar nyaman. Fasilitas yang tersedia cukup memadai dan membuat saya beserta anak-anak ketagihan untuk kembali datang berkunjung. Sayangnya karena handphone rusak, saya tidak dapat mengambil foto dan hanya dapat memasang satu foto –atas kebaikan seorang teman.
Gedung Perpusda yang baru ini terbilang memiliki beragam fasilitas yang membuat pengunjung betah. Mulai dari tersedianya fasilitas lift dan escalator untuk naik-turun pengunjung di setiap lantai, juga ada mesin scan untuk mengisi daftar pengunjung. Kondisi toilet juga masih baru, mudah-mudahan dengan pemeliharaan yang baik kebersihannya masih tetap terjaga. Di setiap lantai tersedia kursi-kursi model sofa berwarna-warni dengan mejanya yang disediakan untuk pengunjung sehingga membuat suasananya terasa lebih “hommy”. Belum lagi ruangannya yang cukup luas dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup memadai. Perpustakaan ini juga dilengkapi dengan fasilitas wifi “Bandung Juara”nya Kang Ridwan Kamil  dengan koneksi yang cukup kencang, sehingga semakin membuat pengunjung betah untuk browsing, download atau sekedar membuka jejaring social (seperti saya).
Lantai satu diperuntukkan untuk ruang baca anak-anak. Buku-buku yang tersedia cukup memadai. Selain majalah anak-anak dan komik yang kebanyakan hanya boleh dibaca di tempat, masih tersedia banyak buku lainnya seperti beragam buku cerita anak, buku dongeng anak, buku sains, buku bergambar untuk balita dan banyak buku lainnya yang dapat dipinjam oleh anak apabila sudah terdaftar sebagai anggota. Kondisinya pun cukup layak dengan sejumlah buku yang bersampul hardcover dan gambar-gambar yang indah membuat anak semakin tertarik untuk membaca. Beberapa bangku bundar dan meja diatas lantai yang dialasi karpet membuat suasana ruangan bertambah nyaman. Belum lagi dinding bergambar yang menceritakan beberapa dongeng nusantara semakin menambah semarak ruangan ini. Di sini anak-anak yang belum bisa membaca bisa bebas berlarian sambil sesekali melihat gambar dan buku atau mendengar cerita yang dibacakan orangtua. Hal ini tentu sangat mendorong minat anak untuk tertarik melihat-lihat buku sekalipun belum bisa membaca. Untuk anak yang lebih besar dan bisa membaca sendiri, tempat ini pun sangat nyaman. Menurut informasi bahkan tersedia fasilitas story telling dan penayangan DVD.
Di lantai dua terdapat fasilitas ruang membaca dan pinjam buku untuk dewasa dan remaja. Ruang ini pun didisain cukup nyaman dengan cahaya yang cukup dan buku-buku dalam rak yang berjajar rapi. Untuk saya yang hobi membaca, menemukan tempat ini serasa menemukan harta karun. Betapa tidak, sejumlah buku mulai buku agama, biografi sejumlah tokoh, pendidikan, psikologi, sejarah, travelling bahkan novel-novel cukup banyak tersedia disana. Mulai buku tentang beragam aktivitas anak, sejarah Singapore, biografi Dahlan Iskan, buku kumpulan kasus psikologi Leila Ch Budiman sampai buku travellingnya Trinity dan novel-novel terjemahan karya Nicholas Sparks atau Da Vinci Codenya Dan Brown dapat ditemukan disana. Buku-buku ini dapat dipinjam dengan gratis bagi yang sudah terdaftar sebagai anggota. Terdapat meja untuk membaca dan ruang untuk diskusi bagi para pengunjung yang membutuhkan. Sementara di lantai tiga tersedia ruangan untuk mencari referensi dan ruangan untuk membaca koran atau majalah edisi terbaru yang harus dibaca di tempat.
Syarat untuk menjadi anggota sendiri tidak lah sulit dan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, Gratis tis! Cukup menyediakan fotocopy KTP Bandung bagi warga Bandung beserta foto 2x3 sebanyak 4 buah, dapat segera mendaftar dengan terlebih dahulu mengisi identitas secara mandiri dengan perangkat computer yang tersedia. Untuk anak, bisa diwakilkan oleh KTP atas nama orangtuanya. Apabila dibandingkan dengan perpustakaan di lokasi yang lama, cukup banyak juga kemajuan yang dicapai oleh perpustakaan daerah Jabar di gedung baru ini. Oya, untuk anda yang berminat berkunjung lokasinya  di kawasan Bandung Timur tepatnya Jl. Kawaluyaan Indah II No. 4. Jam buka perpustakaan mulai hari senin sampai sabtu mulai pukul 08.00 sampai 15.30 dengan waktu istirahat pukul 12.00-13.00. Tutup hari minggu dan hari-hari besar.
Alhamdulillah, saat liburan kemarin setelah menemukan perpustakaan ini saya benar-benar mendapatkan alternative mengisi liburan yang menarik untuk kedua anak saya; baik untuk si sulung yang sedang senang-senangnya membaca buku sains dan sulap maupun  untuk adiknya yang baru tahap senang melihat gambar dan mengeja huruf. Mereka tampak betah menghabiskan waktu di perpustakaan bahkan tidak segan-segan menagih kembali kunjungan ke perpustakaan untuk sekedar membaca atau meminjam buku. Tentu saja sebagai ibu, saya pun senang karena berkunjung ke perpustakaan sangat terasa manfaatnya. Selain mengisi liburan dengan aktivitas yang bermanfaat, hemat, murah dan menyenangkan juga semakin mengenalkan anak pada dunia perbukuan, syukur-syukur meningkatkan minat bacanya.
Bagi anda warga Bandung, mari sempatkan berkunjung ke Perpustakaan Daerah Jawa Barat ini. Sangat recommended.

Minggu, 05 Januari 2014

Jelajah Hongkong & Singapore, Duo Metropolitan nan Apik



Hongkong dan Singapore bukanlah kota yang asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Meski demikian, mengeksplorasi Hongkong dan Singapore  tidak pernah membosankan. Pemandangan apik sepanjang jalan sungguh memanjakan mata. Banyak kesamaan nuansa yang tertangkap dari kedua kota. Lalu lintas yang teratur, taman-taman kota yang  rindang,  bersih dan terawat, trotoar yang luas dan jangan lupa pula gemerlap  shopping center  yang seolah berlomba menawarkan discount .


Wuaa....siapa yang ga sirik ya..punya trotoar seluas dan senyaman ini... Mudah2an kelak di Indonesia juga begitu


Hongkong dan Singapore  memiliki beberapa kesamaan. Salah satunya  adalah latar belakang sejarah sebagai  sesama jajahan Inggris, membuat pengaruh kolonialisme Inggris masih terasa. Terutama dalam  bidang ekonomi dan pemerintahan.  Dari segi  demografi,  mayoritas penduduk Hongkong dan Singapore  dari etnis Tionghoa meski di Singapore, etnis melayu dan India cukup mewarnai.  Sementara sisi  pertumbuhan ekonomi  yang amat   pesat membuat kedua kota ini sama-sama bergerak dinamis  seiring dengan laju pembangunan yang semarak diseluruh penjuru kota.
Ada beberapa pemandangan khas yang mirip saat menyusuri lalu lintas  kedua kota. Taman-taman kota yang cantik dan teduh sungguh menggoda untuk sekedar duduk melepas lelah. Tidak mengherankan karena kedua kota ini mengalokasikan area nature reserves yang cukup memadai, menunjukkan concern dan komitmen pemerintah terhadap kenyamanan warga kota.
 Taman di  Hongkong



 Area hijau di Singapore-kejauhan tampak lapangan olahraga suatu sekolah- asyiiknyaa...

Tak hanya taman-taman cantik,  di lalu lintas kota, ada pemandangan yang tak kalah menarik. Tampak beberapa bus bertingkat dengan disain  dan warna-warni cantik terlihat  berlalu lalang.  

Bus Kota di Hongkong

Foto bus buat turis jalan2 di Singapore -sptnya Hippo City Sightseeing *sayangnya cuma dapat memandang dari kejauhan*



Selain bus, transportasi yang menjadi idola, baik di Hongkong maupun Singapore adalah kereta api listrik yang merupakan angkutan massal. Di Singapore dikenal dengan istilah MRT sementara di Hongkong istilahnya MTR. Sedikit mirip, bukan? Pengoperasian kedua transportasi massal ini juga hampir serupa. Yang jelas dengan adanya MRT maupun MTR ini sangat membantu warga kedua kota tersebut untuk bepergian dengan mudah, cepat, aman dan murah.
Menunggu MRT di SG



Berkunjung ke Singapore tentu tak lengkap apabila tidak mampir ke Orchad Road. Trotoar yang lebar, lapang dan nyaman  dengan jajaran megah shopping centre  Lucky Plaza dan Takashimaya di sisi kanan dan kiri.  Melongok tas-tas branded keluaran  terbaru  di etalase sungguh menggiurkan, namun harganya cukup “wow”. Rasanya cukup puas  meski hanya berwindow shopping saja.  Alternative belanja lain di Singapore terhitung banyak seperti Bugis Street, China town atau Mustafa Shopping Centre. Untuk Mustafa Shopping Centre, meski kategori barang yang dijual lumayan lengkap namun pilihan dan  variasi barangnya rasanya tak jauh berbeda dengan di tanah air. Untuk membeli coklat  sekedar oleh-oleh untuk keluarga di tanah air, Mustofa  cukup recommended. Sementara di China town, pilihan untuk membeli oleh-oleh lebih beragam dengan harga murah meriah.
Mejeng di Chinatown

Untuk tempat belanja, Hongkong menawarkan pilihan yang lebih beragam dan harga yang lebih murah.  Banyak sekali tempat belanja menarik di sini seperti Tsim Sha Tsui, Ladies market,  atau Temple Street market. Untuk membei oleh-oleh yang murah meriah Ladies Market cukup recommended. Ladies Market merupakan jajaran kios-kios yang didirikan di sekitar daerah Mangkook. Meski namanya Ladies Market, namun tidak semua barang yang dijajakan hanya ditujukan untuk memenuhi keperluan perempuan. Kebanyakan memang berkisar pada produk tas, sepatu, aksesories, gantungan kunci  lucu, sampai pada souvenir khas daerah setempat yang  unik. Perlu diingat apabila hendak membeli anda harus tega menawar barang dan teliti terhadap kondisi barang.  Oya, jangan coba-coba menawar barang apabila kita tidak berniat membelinya. 

Meski mayoritas penduduknya berasal dari etnik Tionghoa, namun banyak juga warga muslim yang berdiam di kedua kota. Di Hongkong, para buruh migrant Indonesia (BMI) turut berkontribusi pada  pesatnya perkembangan Islam di negara tersebut. Namun  ketika berkesempatan berkunjung ke masjid Ammar di Hongkong, saya melihat sejumlah warga asli yang sudah berusia lanjut sedang menunaikan ibadah di masjid tersebut. Sementara di Singapore, terdapat warga etnis Melayu yang muslim.
 Masjid dekat Mustafa Center


Hongkong maupun Singapore menawarkan beragam tempat wisata yang seru. Dari sekian tempat wisata, sebenarnya masing-masing kota memiliki icon yang wajib dikunjungi apabila anda bertandang ke kota ini. Di Hongkong, Star Avanue menjadi tempat yang wajib dikunjungi apabila berkesempatan berkunjung kesana. Di Star Avanue terdapat jejak-jejak cap tangan selebriti Mandarin serta patung Bruce Lee yang sedang beraksi dengan gaya khasnya. Sementara di Singapore, Merlion Park dengan patung Merlionnya merupakan tempat tujuan setiap wisatawan yang beranjangsana ke Singapore.
Star`Avanue, HK



 Merlion Park, SG


Lelah menjelajah kedua kota ini, ada  berbagai kuliner yang siap tersedia dengan rasa yang maknyus. Selagi berkunjung ke Hongkong, sajian berupa dimsum merupakan menu yang menarik untuk dicoba. Tentu dengan memastikan kehalalannya terlebih dahulu.  Berbagai dimsum dengan citarasa manis maupun gurih sangat menggugah selera. Di Singapore, variasi kuliner  tak kalah  lezatnya. Beragam masakan  dengan sentuhan citarasa  China, India dan Melayu tersaji lengkap. 

 Srlupp... menu ala India di sebuah rumah makan di SG



Dimsum ala HK

Sabtu, 21 Desember 2013

Cantiknya China di musim dingin








Tulisan ini  dimuat di rubrik Plesir majalah Sekar  edisi juli-agustus lalu - dengan beberapa editan di sana-sini- terimakasih pak editor ;p ... Nah ini tulisan aslinya, silakan dinikmati.
Akhir Januari 2013, saya berkesempatan mengunjungi kota Shanghai dan Beijing di China yang tengah diselimuti salju. Berikut sekilas cerita pengalaman saya. 

Nuansa Timur dan Barat di Shanghai
Perjalanan saya dimulai dengan menginjakkan kaki di Shanghai, salah satu kota tersibuk di daratan China. Selain merupakan salah satu pusat bisnis  dan kota termodern di China, Shanghai dikenal sebagai kota  yang cantik  dengan perpaduan budaya timur dan barat.  Tak hanya  ornament khas budaya setempat dengan nuansa merah menyala  yang saya jumpai di sudut-sudut kota. Namun  di  trotoar tepi jalan, saya jumpai pula jajaran cafĂ© mungil dengan deretan kursi  dan  meja  yang dinaungi payung besar;  mengesankan nuansa  yang  khas Eropa. Di Shanghai, saya pun terhitung lebih mudah menjumpai warga asing dibandingkan di Beijing. 

Nuansa barat yang mewarnai pemandangan di Shanghai tidak terlepas dari jejak sejarah dimasa lampau. Secara geografis Shanghai terletak di dekat sungai  dan sejak dahulu merupakan pusat perdagangan  sehingga  memungkinkan interaksi penduduk setempat  dengan para pendatang di berbagai penjuru dunia. Nama Shanghai berasal dari kata shang  yang artinya  di atas  dan hai yang berarti laut. Cikal bakal kota Shanghai adalah sebuah kampung yang sudah berusia sekitar 100 tahun. Melalui perkembangan ekonomi yang sangat pesat, Shanghai menjelma menjadi kota metropolitan  yang modern dengan jumlah penduduk saat ini mencapai 22 juta jiwa. Dari jumlah tersebut sekitar 13 jutanya merupakan warga asli sementara sisanya adalah kaum pendatang dari sejumlah negara  termasuk pendatang dari Taiwan yang cukup memegang peran penting dalam bidang ekonomi.
Shanghai adalah salah satu potret dari kemajuan bangsa  China.  Sebagai salah satu kota metropolitan yang mendunia, Shanghai menunjukkannya dengan jelas melalui banyaknya jalan layang dan  gedung modern pencakar langit. Jalan-jalan layang yang mulus tampak mendominasi kota, sementara disisi  jalan menjulang gedung-gedung tinggi. Di antara ramainya  gedung pencakar langit,  tampak kawasan pemukiman, ditandai dengan gedung-gedung apartement yang bertingkat banyak dan jemuran yang melambai-lambai dari sisi-sisi jendela.  Tak hanya modern, sejumlah taman kota yang terawat dan terpelihara dengan rapi semakin menambah pesona Shanghai. 


Aliran sungai Huangpu  yang berada di tengah kota membelah Shanghai menjadi dua  bagian, timur dan barat. Bagian timur merupakan sisi kota yang modern sementara bagian barat  kota  adalah old town. Diantara kedua sisi itu  terdapat The Bund yang merupakan waterfront atau kawasan kota yang  berbatasan langsung dengan sungai Huangpu. Dengan berdiri di area The Bund kita bisa melihat sisi old town dari kota Shanghai yang dipenuhi bangunan lama, kuno namun artistik dan sisi kota baru yang terdiri dari gedung-gedung modern. Sungguh pemandangan yang kontras. Namun, inilah uniknya Shanghai.

Di sisi timur Shanghai yang merupakan kawasan mahal dan modern, terdapat salah satu gedung   yang sempat menjadi  salah satu gedung tertinggi di dunia, yaitu Oriental  Pearl  TV Tower  dengan tinggi sekitar 468 meter. Pengunjung dapat menyaksikan pemandangan dari atas dengan menaiki lift canggih berukuran superbesar dan bergerak supercepat. Sungguh mempesona melihat Shanghai yang jelita dimalam hari dengan gemerlap cahaya  dan kilauan lampu  di tepi sungai  Huangpu yang terbentang  sampai jauh di kegelapan.
Pemandangan Shanghai tidak hanya cantik oleh warna-warni bunga, cafĂ© atau  warna-warni lampu kota  di malam hari. Ramainya lalu lalang gadis-gadis Shanghai yang jelita dan modis dengan berbagai model busana musim dingin  terbaru semakin membuat semarak di tengah suhu dingin yang menggigit.  


Di Shanghai sendiri  terdapat kaum muslim, meski tidak sebanyak di Beijing.  Terdapat sejumlah masjid di Shanghai. Salah satunya yang sempat saya singgahi adalah masjid Xiaotaoyuan yang didirikan tahun 1925. Sementara  untuk kuliner halal, saya sempat menyambangi beberapa restoran China muslim dengan label halal. Masakan disajikan dengan citarasa perpaduan China dan timur tengah. Untuk Anda yang sedikit pemilih soal makanan akan lebih baik membekali diri dengan abon atau makanan kering lainnya karena terkadang ada bumbu yang rasanya sedikit terlalu tajam dan bisa membuat nafsu makan malah menurun. Di beberapa restoran muslim ini, saya menemukan makanan khas timur tengah seperti Kubz dan kebab dengan proses pembuatan yang tidak berbeda dengan di negara asalnya, lengkap dengan tungku pembakarannya. Kubz sendiri dapat dicemil sebagai makanan ringan penahan dingin dengan harga sekitar 5 yuan perlembar (1 yuan = Rp 1600,-).

Untuk wisata belanja, tak lengkap ke Shanghai apabila belum mampir ke Nanjing Road. Nanjing  Road merupakan pedestrian yang ramai dikunjungi para wisatawan setempat maupun traveller mancanegara;  sangat terkenal di Shanghai  bahkan di Asia.  Dengan trotoar yang sangat lebar dan bebas lalu lintas kendaraan- kecuali kereta mini yang sesekali lewat- para pejalan kaki mendapatkan surganya disini. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat berbagai toko yang menjual beragam produk, utamanya fashion dan produk branded. Di tengah-tengah keramaian  Nanjing Road,  saya menemukan pemandangan unik, yaitu adanya sekelompok perempuan  dalam balutan mantel musim dingin yang asyik menari mengikuti alunan music. Tanpa mempedulikan udara dingin dan ramainya lalu lalang pengunjung, mereka bergerak dengan energik. Pemandangan menarik lainnya adalah banyaknya wisatawan dari berbagai bangsa yang ditemui di Nanjing Road. Tempat belanja lain yang sempat saya singgahi adalah Chenghuangmiao Bazzar. Meski Chenghuangmiao lebih dikenal sebagai tempat wisata kuliner non halal namun tempat ini cukup recommended untuk membeli  buah tangan. Coba menelusuri pasar ini lebih ke dalam, maka kita akan menemukan berbagai pernak-pernik  dengan harga 10 yuan for all.  Oleh-oleh yang tersedia di Chenghuangmiao sangat beragam. Mulai dari keramik mungil beraneka bentuk, gantungan kunci, tempelan magnet, pajangan, mainan anak, selendang, kaos sampai aneka produk kesehatan.

Main salju di Beijing
Beijing adalah tujuan perjalanan saya selanjutnya. Dengan menumpang speed train (kereta cepat) perjalanan sekitar 1150 km  antara Shanghai-Beijing sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu lima jam saja. Hanya saja, karena salju yang sedang turun dengan deras di sepanjang perjalanan, membuat laju kereta  sedikit terhambat, hingga kami baru tiba di Beijing sekitar enam jam kemudian.  Speed Train ini cukup nyaman dengan  harga tiket sekitar 553 yuan untuk perjalanan Shanghai-Beijing. Sepanjang perjalanan saya melihat hujan salju yang semakin tebal menutupi seluruh pemandangan menjadi putih bersih di beberapa tempat yang dilalui kereta..
Sampai di Beijing, tampak salju menyelimuti berbagai tempat. Suhu di Beijing  terasa lebih dingin  dan menggigilkan daripada Shanghai.  Suasana yang  sedikit berbeda segera tertangkap ketika kami menelusuri jalan-jalan di Beijing. Nuansa Beijing tidaklah semeriah Shanghai. Beberapa bangunan yang saya lihat bahkan terkesan suram berpadu dengan dinginnya cuaca saat itu. Kala malam menjelang, cahaya lampu kota yang berpendar juga tak sesemarak di Shanghai yang bermandi cahaya.
Apabila di Shanghai saya lebih banyak melakukan wisata kota, maka Beijing menawarkan wisata sejarah dan budaya. Beijing memiliki banyak sekali tempat indah yang sangat recommended untuk dikunjungi dan dapat menambah wawasan tentang perjalanan sejarah dan kebudayaan kuno bangsa China. Tapi sebelum beranjangsana ke tempat-tempat itu, tentu saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mampir sejenak mencicipi cemilan halal ala China. Cemilan ini diperoleh dari sebuah restoran muslim di Beijing, harganya  3 yuan perpotong dengan cita rasa manis.

Sementara untuk wisata belanja di Beijing,  saya menyempatkan mampir ke Silk Street, sebuah pusat perbelanjaan di Beijing. Mirip-mirip Mangga Dua kalau di Jakarta. Di sini tersedia beragam produk yang bikin lapar mata dan potensial menguras isi kantong, dari mulai tas, dompet, jam tangan, tas, koper sepatu, oleh-oleh, handycraft sampai galaxy tab. Semuanya made in China.  Dari harga 1000 yuan yang ditawarkan untuk sebuah tas yang saya taksir, saya berhasil mendapatkannya dengan harga 100 yuan yang artinya 10 % dari harga yang ditawarkan. Cukup fantastis, bukan?

Beberapa tempat wisata di Beijing dan sekitarnya
Di Beijing banyak terdapat tempat wisata. Diantaranya antara lain Tiananmen Square, Forbidden City, Summer Palace, Ming Tomb dan last but not least; Great Wall. Kunjungan pertama saya adalah Tiananmen Square. Lapangan dengan luas 440.000 meter persegi namanya cukup terkenal di dunia karena peristiwa demonstrasi bersejarah tahun 1989.
Suhu udara  yang terasa dingin  menggigit, tidak menghambat sejumlah wisatawan untuk datang berkunjung;  termasuk serombongan besar wisatawan dengan bendera  Negara Vietnam. Tak jauh dari situ tampak Foto Mao Ze Dong terpampang dalam ukuran super besar. Melalui  tangga dan lorong di bawah tanah kami segera bergegas menuju Forbidden City yang terletak di sebelah utara lapangan Tiananmen.  Forbidden City atau istana terlarang memiliki  sekitar 800 bangunan yang merupakan peninggalan dynasty Ming dan Qing. Siapkan alas kaki yang nyaman untuk menelusuri cantiknya  arsitektur bangunan istana di Forbidden City.  Pastikan juga alas kaki tersebut tidak licin, karena di dalam Forbidden City kita harus melalui undakan tangga yang basah terkena salju. Menyusuri Forbidden city harus melalui beberapa gerbang. Forbidden City memiliki banyak kuil, kamar-kamar untuk anggota kerajaan serta berbagai bangunan yang merupakan bagian dari rangkaian istana cantik ini. Hmmm…., imajinasi saya langsung melayang.  Suasana tempat  ini benar-benar mengingatkan saya pada  film The Last Emperor.  Meski musim dingin, forbidden city  tetap ramai pengunjung terutama penduduk setempat. Selepas area Forbidden City, saya disambut aliran sungai yang membeku, tepat di pintu keluarnya.
Tempat tujuan saya selanjutnya adalah Summer Palace. Summer Palace merupakan istana tempat tinggal  raja selama musim panas. Di musim dingin, Summer Palace sama sekali tidak kehilangan pesonanya. Danau buatan yang terhampar  di Summer Palace saat itu sedang membeku dan ditutupi putihnya salju. Meskipun terdapat tanda dilarang menginjakkan kaki di atas danau, namun hamparan salju yang membeku di atas danau sungguh sayang untuk dilewatkan. Dengan berhati-hati, saya mencari area yang lebih aman dan mencoba mencicipi sensasi berjalan diatas hamparan bekuan salju.




Berkunjung ke Ming Tomb, merupakan agenda kami selanjutnya. Ming Tomb merupakan kompleks kuburan raja-raja dari Dinasty Ming. Meski sekilas terlihat tidak menarik karena harus masuk kedalam bangunan makam, namun pemandangan di luar di sekitar Ming Tomb  saat musim dingin sungguh cantik. Beberapa pepohonan yang daunnya sudah berguguran  tampak menghiasi halaman disela-sela hamparan salju yang memutih.


Menutup kunjungan saya ke Beijing adalah Great Wall yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia.  Menapaki tangga-tangga Great Wall di musim dingin bukan merupakan perjuangan yang mudah. Salju yang mencair membuat tangga Great Wall seringkali licin, sementara suhu udara yang sangat dingin seolah membekukan tangan dan kedua ujung kaki saya.  Rangkaian tangga yang saya naiki semakin curam membuat pemadangan  di sekeliling saya semakin memukau dengan hamparan dan tumpukan salju dimana-mana. Meski rangkaian tangga masih jauh ke atas, saya akhirnya memutuskan turun kembali ke bawah dan menghangatkan diri di sebuah toko souvenir.  
Pulang dari Great Wall, saya harus kembali ke tanah air.  Sungguh takkan terlupa oleh saya kenangan akan keindahan budaya dan jejak sejarah China yang menakjubkan.  Semoga kelak saya akan bisa kembali mengunjunginnya.




Tips Travelling ke China:
- Meski sudah berupaya sebisa mungkin berhati-hati saat mampir ke toilet umum yang ada China. Tetap saja dalam beberapa kesempatan saya menemukan kondisi toilet yang kurang memadai, maka setiap kali hendak berjalan-jalan seharian, saya selalu membekali diri dengan botol kosong, tissue dan tissue basah. Biasanya sebelum ke toilet, saya terlebih dahulu mengisi botol kosong tersebut dengan air keran di westafel untuk membersihkan diri. Rata-rata toilet di china yang saya temui hanya tersedia fasilitas untuk menyiram wc.
-Lebih aman sebenarnya adalah toilet hotel atau toilet di pertokoan modern/rumah makan, sebaiknya  berhati-hati  apabila masuk ke toilet umum yang terlalu ramai terutama yang berada di pasar atau tempat-tempat lain yang banyak digunakan oleh masyarakat umum.
-Jangan ragu atau segan dalam menawar barang setiap kali membeli, paling tidak sekitar 20 % dari harga awal. Apabila penjual menunjukkan reaksi yang kurang membuat kita nyaman, tidak perlu dipedulikan. Dengan modal kegigihan menawar dan  “tebal muka”, saya berhasil mendapatkan barang-barang yang diinginkan  jauh di bawah harga yang ditawarkan. 
-Untuk mempermudah komunikasi dengan keluarga di tanah air dianjurkan untuk membeli nomor  setempat.
-Jangan ragu atau lupa untuk memastikan kualitas barang setiap kali membeli barang di China termasuk produk makanan, pastikan selalu tanggal kadaluwarsanya.
- Simpan kartu nama hotel atau potret bangunan hotel  untuk berjaga-jaga apabila tersesat.
-Meskipun terdapat perbedaan bahasa, namun secara umum dengan menggunakan bahasa tarzan kita masih bisa berkomunikasi dengan baik dengan warga setempat.
- Hati-hati membeli souvenir dari pedagang kakil lima setempat, lebih baik membayar dengan uang pas. Kalau pun ada kembalian, pastikan uang yang anda terima adalah uang asli. Masalah uang palsu cukup marak terjadi di China.
- China memiliki banyak tempat wisata dengan pemandangan alam yang cantik, kaya akan peninggalan  budaya  dan  sejarah, oleh karena itu jangan lewatkan kesempatan untuk berkunjung dan menikmatinya.