Sabtu, 21 Desember 2013

Cantiknya China di musim dingin








Tulisan ini  dimuat di rubrik Plesir majalah Sekar  edisi juli-agustus lalu - dengan beberapa editan di sana-sini- terimakasih pak editor ;p ... Nah ini tulisan aslinya, silakan dinikmati.
Akhir Januari 2013, saya berkesempatan mengunjungi kota Shanghai dan Beijing di China yang tengah diselimuti salju. Berikut sekilas cerita pengalaman saya. 

Nuansa Timur dan Barat di Shanghai
Perjalanan saya dimulai dengan menginjakkan kaki di Shanghai, salah satu kota tersibuk di daratan China. Selain merupakan salah satu pusat bisnis  dan kota termodern di China, Shanghai dikenal sebagai kota  yang cantik  dengan perpaduan budaya timur dan barat.  Tak hanya  ornament khas budaya setempat dengan nuansa merah menyala  yang saya jumpai di sudut-sudut kota. Namun  di  trotoar tepi jalan, saya jumpai pula jajaran cafĂ© mungil dengan deretan kursi  dan  meja  yang dinaungi payung besar;  mengesankan nuansa  yang  khas Eropa. Di Shanghai, saya pun terhitung lebih mudah menjumpai warga asing dibandingkan di Beijing. 

Nuansa barat yang mewarnai pemandangan di Shanghai tidak terlepas dari jejak sejarah dimasa lampau. Secara geografis Shanghai terletak di dekat sungai  dan sejak dahulu merupakan pusat perdagangan  sehingga  memungkinkan interaksi penduduk setempat  dengan para pendatang di berbagai penjuru dunia. Nama Shanghai berasal dari kata shang  yang artinya  di atas  dan hai yang berarti laut. Cikal bakal kota Shanghai adalah sebuah kampung yang sudah berusia sekitar 100 tahun. Melalui perkembangan ekonomi yang sangat pesat, Shanghai menjelma menjadi kota metropolitan  yang modern dengan jumlah penduduk saat ini mencapai 22 juta jiwa. Dari jumlah tersebut sekitar 13 jutanya merupakan warga asli sementara sisanya adalah kaum pendatang dari sejumlah negara  termasuk pendatang dari Taiwan yang cukup memegang peran penting dalam bidang ekonomi.
Shanghai adalah salah satu potret dari kemajuan bangsa  China.  Sebagai salah satu kota metropolitan yang mendunia, Shanghai menunjukkannya dengan jelas melalui banyaknya jalan layang dan  gedung modern pencakar langit. Jalan-jalan layang yang mulus tampak mendominasi kota, sementara disisi  jalan menjulang gedung-gedung tinggi. Di antara ramainya  gedung pencakar langit,  tampak kawasan pemukiman, ditandai dengan gedung-gedung apartement yang bertingkat banyak dan jemuran yang melambai-lambai dari sisi-sisi jendela.  Tak hanya modern, sejumlah taman kota yang terawat dan terpelihara dengan rapi semakin menambah pesona Shanghai. 


Aliran sungai Huangpu  yang berada di tengah kota membelah Shanghai menjadi dua  bagian, timur dan barat. Bagian timur merupakan sisi kota yang modern sementara bagian barat  kota  adalah old town. Diantara kedua sisi itu  terdapat The Bund yang merupakan waterfront atau kawasan kota yang  berbatasan langsung dengan sungai Huangpu. Dengan berdiri di area The Bund kita bisa melihat sisi old town dari kota Shanghai yang dipenuhi bangunan lama, kuno namun artistik dan sisi kota baru yang terdiri dari gedung-gedung modern. Sungguh pemandangan yang kontras. Namun, inilah uniknya Shanghai.

Di sisi timur Shanghai yang merupakan kawasan mahal dan modern, terdapat salah satu gedung   yang sempat menjadi  salah satu gedung tertinggi di dunia, yaitu Oriental  Pearl  TV Tower  dengan tinggi sekitar 468 meter. Pengunjung dapat menyaksikan pemandangan dari atas dengan menaiki lift canggih berukuran superbesar dan bergerak supercepat. Sungguh mempesona melihat Shanghai yang jelita dimalam hari dengan gemerlap cahaya  dan kilauan lampu  di tepi sungai  Huangpu yang terbentang  sampai jauh di kegelapan.
Pemandangan Shanghai tidak hanya cantik oleh warna-warni bunga, cafĂ© atau  warna-warni lampu kota  di malam hari. Ramainya lalu lalang gadis-gadis Shanghai yang jelita dan modis dengan berbagai model busana musim dingin  terbaru semakin membuat semarak di tengah suhu dingin yang menggigit.  


Di Shanghai sendiri  terdapat kaum muslim, meski tidak sebanyak di Beijing.  Terdapat sejumlah masjid di Shanghai. Salah satunya yang sempat saya singgahi adalah masjid Xiaotaoyuan yang didirikan tahun 1925. Sementara  untuk kuliner halal, saya sempat menyambangi beberapa restoran China muslim dengan label halal. Masakan disajikan dengan citarasa perpaduan China dan timur tengah. Untuk Anda yang sedikit pemilih soal makanan akan lebih baik membekali diri dengan abon atau makanan kering lainnya karena terkadang ada bumbu yang rasanya sedikit terlalu tajam dan bisa membuat nafsu makan malah menurun. Di beberapa restoran muslim ini, saya menemukan makanan khas timur tengah seperti Kubz dan kebab dengan proses pembuatan yang tidak berbeda dengan di negara asalnya, lengkap dengan tungku pembakarannya. Kubz sendiri dapat dicemil sebagai makanan ringan penahan dingin dengan harga sekitar 5 yuan perlembar (1 yuan = Rp 1600,-).

Untuk wisata belanja, tak lengkap ke Shanghai apabila belum mampir ke Nanjing Road. Nanjing  Road merupakan pedestrian yang ramai dikunjungi para wisatawan setempat maupun traveller mancanegara;  sangat terkenal di Shanghai  bahkan di Asia.  Dengan trotoar yang sangat lebar dan bebas lalu lintas kendaraan- kecuali kereta mini yang sesekali lewat- para pejalan kaki mendapatkan surganya disini. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat berbagai toko yang menjual beragam produk, utamanya fashion dan produk branded. Di tengah-tengah keramaian  Nanjing Road,  saya menemukan pemandangan unik, yaitu adanya sekelompok perempuan  dalam balutan mantel musim dingin yang asyik menari mengikuti alunan music. Tanpa mempedulikan udara dingin dan ramainya lalu lalang pengunjung, mereka bergerak dengan energik. Pemandangan menarik lainnya adalah banyaknya wisatawan dari berbagai bangsa yang ditemui di Nanjing Road. Tempat belanja lain yang sempat saya singgahi adalah Chenghuangmiao Bazzar. Meski Chenghuangmiao lebih dikenal sebagai tempat wisata kuliner non halal namun tempat ini cukup recommended untuk membeli  buah tangan. Coba menelusuri pasar ini lebih ke dalam, maka kita akan menemukan berbagai pernak-pernik  dengan harga 10 yuan for all.  Oleh-oleh yang tersedia di Chenghuangmiao sangat beragam. Mulai dari keramik mungil beraneka bentuk, gantungan kunci, tempelan magnet, pajangan, mainan anak, selendang, kaos sampai aneka produk kesehatan.

Main salju di Beijing
Beijing adalah tujuan perjalanan saya selanjutnya. Dengan menumpang speed train (kereta cepat) perjalanan sekitar 1150 km  antara Shanghai-Beijing sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu lima jam saja. Hanya saja, karena salju yang sedang turun dengan deras di sepanjang perjalanan, membuat laju kereta  sedikit terhambat, hingga kami baru tiba di Beijing sekitar enam jam kemudian.  Speed Train ini cukup nyaman dengan  harga tiket sekitar 553 yuan untuk perjalanan Shanghai-Beijing. Sepanjang perjalanan saya melihat hujan salju yang semakin tebal menutupi seluruh pemandangan menjadi putih bersih di beberapa tempat yang dilalui kereta..
Sampai di Beijing, tampak salju menyelimuti berbagai tempat. Suhu di Beijing  terasa lebih dingin  dan menggigilkan daripada Shanghai.  Suasana yang  sedikit berbeda segera tertangkap ketika kami menelusuri jalan-jalan di Beijing. Nuansa Beijing tidaklah semeriah Shanghai. Beberapa bangunan yang saya lihat bahkan terkesan suram berpadu dengan dinginnya cuaca saat itu. Kala malam menjelang, cahaya lampu kota yang berpendar juga tak sesemarak di Shanghai yang bermandi cahaya.
Apabila di Shanghai saya lebih banyak melakukan wisata kota, maka Beijing menawarkan wisata sejarah dan budaya. Beijing memiliki banyak sekali tempat indah yang sangat recommended untuk dikunjungi dan dapat menambah wawasan tentang perjalanan sejarah dan kebudayaan kuno bangsa China. Tapi sebelum beranjangsana ke tempat-tempat itu, tentu saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mampir sejenak mencicipi cemilan halal ala China. Cemilan ini diperoleh dari sebuah restoran muslim di Beijing, harganya  3 yuan perpotong dengan cita rasa manis.

Sementara untuk wisata belanja di Beijing,  saya menyempatkan mampir ke Silk Street, sebuah pusat perbelanjaan di Beijing. Mirip-mirip Mangga Dua kalau di Jakarta. Di sini tersedia beragam produk yang bikin lapar mata dan potensial menguras isi kantong, dari mulai tas, dompet, jam tangan, tas, koper sepatu, oleh-oleh, handycraft sampai galaxy tab. Semuanya made in China.  Dari harga 1000 yuan yang ditawarkan untuk sebuah tas yang saya taksir, saya berhasil mendapatkannya dengan harga 100 yuan yang artinya 10 % dari harga yang ditawarkan. Cukup fantastis, bukan?

Beberapa tempat wisata di Beijing dan sekitarnya
Di Beijing banyak terdapat tempat wisata. Diantaranya antara lain Tiananmen Square, Forbidden City, Summer Palace, Ming Tomb dan last but not least; Great Wall. Kunjungan pertama saya adalah Tiananmen Square. Lapangan dengan luas 440.000 meter persegi namanya cukup terkenal di dunia karena peristiwa demonstrasi bersejarah tahun 1989.
Suhu udara  yang terasa dingin  menggigit, tidak menghambat sejumlah wisatawan untuk datang berkunjung;  termasuk serombongan besar wisatawan dengan bendera  Negara Vietnam. Tak jauh dari situ tampak Foto Mao Ze Dong terpampang dalam ukuran super besar. Melalui  tangga dan lorong di bawah tanah kami segera bergegas menuju Forbidden City yang terletak di sebelah utara lapangan Tiananmen.  Forbidden City atau istana terlarang memiliki  sekitar 800 bangunan yang merupakan peninggalan dynasty Ming dan Qing. Siapkan alas kaki yang nyaman untuk menelusuri cantiknya  arsitektur bangunan istana di Forbidden City.  Pastikan juga alas kaki tersebut tidak licin, karena di dalam Forbidden City kita harus melalui undakan tangga yang basah terkena salju. Menyusuri Forbidden city harus melalui beberapa gerbang. Forbidden City memiliki banyak kuil, kamar-kamar untuk anggota kerajaan serta berbagai bangunan yang merupakan bagian dari rangkaian istana cantik ini. Hmmm…., imajinasi saya langsung melayang.  Suasana tempat  ini benar-benar mengingatkan saya pada  film The Last Emperor.  Meski musim dingin, forbidden city  tetap ramai pengunjung terutama penduduk setempat. Selepas area Forbidden City, saya disambut aliran sungai yang membeku, tepat di pintu keluarnya.
Tempat tujuan saya selanjutnya adalah Summer Palace. Summer Palace merupakan istana tempat tinggal  raja selama musim panas. Di musim dingin, Summer Palace sama sekali tidak kehilangan pesonanya. Danau buatan yang terhampar  di Summer Palace saat itu sedang membeku dan ditutupi putihnya salju. Meskipun terdapat tanda dilarang menginjakkan kaki di atas danau, namun hamparan salju yang membeku di atas danau sungguh sayang untuk dilewatkan. Dengan berhati-hati, saya mencari area yang lebih aman dan mencoba mencicipi sensasi berjalan diatas hamparan bekuan salju.




Berkunjung ke Ming Tomb, merupakan agenda kami selanjutnya. Ming Tomb merupakan kompleks kuburan raja-raja dari Dinasty Ming. Meski sekilas terlihat tidak menarik karena harus masuk kedalam bangunan makam, namun pemandangan di luar di sekitar Ming Tomb  saat musim dingin sungguh cantik. Beberapa pepohonan yang daunnya sudah berguguran  tampak menghiasi halaman disela-sela hamparan salju yang memutih.


Menutup kunjungan saya ke Beijing adalah Great Wall yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia.  Menapaki tangga-tangga Great Wall di musim dingin bukan merupakan perjuangan yang mudah. Salju yang mencair membuat tangga Great Wall seringkali licin, sementara suhu udara yang sangat dingin seolah membekukan tangan dan kedua ujung kaki saya.  Rangkaian tangga yang saya naiki semakin curam membuat pemadangan  di sekeliling saya semakin memukau dengan hamparan dan tumpukan salju dimana-mana. Meski rangkaian tangga masih jauh ke atas, saya akhirnya memutuskan turun kembali ke bawah dan menghangatkan diri di sebuah toko souvenir.  
Pulang dari Great Wall, saya harus kembali ke tanah air.  Sungguh takkan terlupa oleh saya kenangan akan keindahan budaya dan jejak sejarah China yang menakjubkan.  Semoga kelak saya akan bisa kembali mengunjunginnya.




Tips Travelling ke China:
- Meski sudah berupaya sebisa mungkin berhati-hati saat mampir ke toilet umum yang ada China. Tetap saja dalam beberapa kesempatan saya menemukan kondisi toilet yang kurang memadai, maka setiap kali hendak berjalan-jalan seharian, saya selalu membekali diri dengan botol kosong, tissue dan tissue basah. Biasanya sebelum ke toilet, saya terlebih dahulu mengisi botol kosong tersebut dengan air keran di westafel untuk membersihkan diri. Rata-rata toilet di china yang saya temui hanya tersedia fasilitas untuk menyiram wc.
-Lebih aman sebenarnya adalah toilet hotel atau toilet di pertokoan modern/rumah makan, sebaiknya  berhati-hati  apabila masuk ke toilet umum yang terlalu ramai terutama yang berada di pasar atau tempat-tempat lain yang banyak digunakan oleh masyarakat umum.
-Jangan ragu atau segan dalam menawar barang setiap kali membeli, paling tidak sekitar 20 % dari harga awal. Apabila penjual menunjukkan reaksi yang kurang membuat kita nyaman, tidak perlu dipedulikan. Dengan modal kegigihan menawar dan  “tebal muka”, saya berhasil mendapatkan barang-barang yang diinginkan  jauh di bawah harga yang ditawarkan. 
-Untuk mempermudah komunikasi dengan keluarga di tanah air dianjurkan untuk membeli nomor  setempat.
-Jangan ragu atau lupa untuk memastikan kualitas barang setiap kali membeli barang di China termasuk produk makanan, pastikan selalu tanggal kadaluwarsanya.
- Simpan kartu nama hotel atau potret bangunan hotel  untuk berjaga-jaga apabila tersesat.
-Meskipun terdapat perbedaan bahasa, namun secara umum dengan menggunakan bahasa tarzan kita masih bisa berkomunikasi dengan baik dengan warga setempat.
- Hati-hati membeli souvenir dari pedagang kakil lima setempat, lebih baik membayar dengan uang pas. Kalau pun ada kembalian, pastikan uang yang anda terima adalah uang asli. Masalah uang palsu cukup marak terjadi di China.
- China memiliki banyak tempat wisata dengan pemandangan alam yang cantik, kaya akan peninggalan  budaya  dan  sejarah, oleh karena itu jangan lewatkan kesempatan untuk berkunjung dan menikmatinya.

Minggu, 08 Desember 2013

Berkunjung ke Museum Wushu di Shanghai


Ini tulisan saya yang berkisah tentang museum Wushu di Shanghai, China. Alhamdulillah dimuat di harian "Pikiran Rakyat" edisi Maret 2013 lalu. 

Shanghai terkenal dengan The Bund dan Oriental Pearl TV Towernya yang  merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia. Akan tetapi, tahukah anda bahwa ada satu tempat  menarik di Shanghai yang tidak banyak diketahui orang namun menyimpan peninggalan berharga akan kekayaan budaya bangsa China?
Tersembunyi di dalam area Shanghai University of Sports yang asri, terdapat sebuah bangunan yang  cukup megah berpintu kaca.  Sebuah patung berukuran cukup besar sedang memegang pedang  dengan mata pedang mengarah ke bawah berada di sisi pintu masuk. Sementara di bagian tembok  atas tampak berbagai gambar orang dengan berbagai posisi dan gerakan wushu. Di pintu kaca tercantum  tulisan dalam pita merah: The Chinese Wushu Museum.

Pada awalnya, terus terang saya kurang begitu tertarik untuk masuk ke dalamnya. Dalam bayangan saya,  museum wushu ini paling hanya berisi beberapa peninggalan tentang wushu yang berbau “jadul”. Tidak lain niat awal saya memasuki museum itu untuk sekedar menghangatkan badan yang sudah mulai mengigil diterpa angin  musim dingin di Shanghai menjelang akhir januari lalu. Namun ketika memasuki pintu utama, saya segera menyadari bayangan saya tentang museum Wushu, sepenuhnya salah.  Subhanallah..  Satu lagi bukti bahwa bangsa China memang benar-benar bangsa yang sangat menghargai budaya dan sejarahnya.
Museum  Wushu ini didirikan pada tahun 2007, termasuk ke dalam kawasan Shanghai University of Sports  dengan luas  mencakup 2.000 meter persegi.  Wushu  sendiri  bermakna  "seni bertempur/bela diri". Diambil dari paduan dua kata yaitu  “Wu” yang berarti ilmu perang  dan “Shu” yang berarti seni.  Namun demikian, tak hanya beladiri yang bersifat gerakan atau olah tubuh saja yang  dipelajari di dalam wushu, namun  juga hal-hal  terkait kesehatan tubuh serta mental dan pikiran.
Sejak di pintu masuk, pengunjung sudah disambut oleh pemandangan yang tidak biasa. Tampak sebuah tonggak dengan aksen hitam putih dan semburat lampu kebiruan serta nuansa merah di bagian langit-langit dan di lantai di tengah ruangan. Suasana ruangan yang agak gelap dan temaram membuat efek cahaya cukup membantu  memberi kesan ceria serta sedikit dramatis. Sementara di sekelilingnya tampak berbagai display kaca berisi beragam senjata dan peralatan yang sering digunakan untuk beladiri. Dalam display khusus untuk senjata  terdapat  beragam peralatan yang cukup membuat seram, seperti tombak yang panjangnya hampir 3  meter terbuat dari perunggu dan bambu,  busur, pedang, rantai yang dilengkapi bola terbuat dari besi,  anak panah yang ujungnya  mekar, dan juga cambuk. 



Tidak perlu khawatir dengan kendala bahasa, karena disediakan informasi dalam bentuk multi media yang mudah diakses oleh pengunjung. Keterangan yang tercantum pun banyak disediakan dalam bahasa Inggris, sehingga memudahkan pengunjung yang tak paham tulisan kanji dalam bahasa China. Terdapat pula beberapa layar monitor yang menayangkan para pemain wushu sedang menampilkan jurus-jurus bela diri dalam balutan kostum tradisional China, serasa menyaksikan tayangan film silat yang sering muncul di televisi.
Semakin jauh masuk ke dalam museum ini, saya semakin kagum. Nyata benar bahwa pemerintah China benar-benar memiliki komitmen kuat untuk menjaga dan memelihara budaya wushu  seperti tercantum di preface  yang terdapat di dekat pintu masuk museum, bahwa pendirian museum  bertujuan: To discover, inherit, carry forward and develop the treasures of Chinese Wushu culture and to reproduce its long and arduous journey through thousands of years of history.

 
Museum  ini memiliki beragam koleksi benda yang menarik. Di area yang lebih dalam tampak lebih banyak display menampilkan beberapa barang yang bernilai sejarah dan ditata apik dalam ruangan pameran. Diantaranya golden wooden wushu handycraft yang berasal dari dynasty Qing, patung prajurit berkuda, patung Huo Yuanjia master wushu yang  hidup antara tahun 1869-1910  dan terkenal di akhir dynasty Qing, beberapa buku tua  yang menampilkan manual instruksi wushu, buku taktik militer seperti "The Art of War," dan buku pengajaran seni bela diri lainnya, juga berbagai lencana atau tanda penghargaan, foto atlet wushu China sampai berbagai  keramik antik yang memiliki  kandungan seni wushu (the art of wushu). Tak kalah menarik adalah berbagai diorama cantik yang menggambarkan kehidupan  China dimasa lampau saat wushu berkembang dengan pesat, seperti adegan pasukan prajurit  berkuda, adegan sekelompok murid yang sedang berlatih gerakan wushu di peguruan, adegan duel antar pemain wushu bahkan sampai adegan petinju seukuran manusia yang baru saja memukul KO lawannya dalam ring lengkap dengan wasitnya.  Sementara  sisi lain dari tembok tampak lukisan peperangan bangsa China. 

Museum ini dibagi menjadi ruang tempat senjata, ruang area sejarah dan wilayah multimedia. Memasuki museum ini kita akan diajak untuk menelusuri sejarah perkembangan wushu dari masa ke masa termasuk pengetahuan tentang hakikat dari wushu itu sendiri. Kita bisa belajar sejarah perkembangan kronologi beladiri  wushu, dari zaman primitif ke zaman modern, sampai akhirnya berkembang menjadi salah satu cabang olahraga yang diikutsertakan dalam kompetisi internasional.
Untuk masuk ke dalam museum ini tidak diminta uang masuk karena sudah termasuk ke dalam biaya yang dipungut apabila kita beserta rombongan bermaksud untuk menjelajah seputar kawasan Shanghai University of Sports  yang luas dan tertata rapi. Apabila berkunjung ke Shanghai, tempat ini dapat menjadi alternatif wisata menarik yang membuat kita dapat berkaca pada kemajuan bangsa China dan menarik pelajaran darinya.

Sabtu, 07 Desember 2013

SATU HARI DI BUKITTINGGI, MENELUSURI PEMANDANGAN NAGARI ELOK DAN JEJAK SEJARAH BUNG HATTA



Tulisan saya yang berkisah tentang jalan-jalan ke Bukittinggi dan dimuat di rubrik Plesir majalah Sekar.  

Menikmati pesona Bukittinggi selama sehari-semalam, tidaklah cukup. Namun dalam waktu yang sangat singkat itu, saya segera jatuh cinta pada kota berhawa sejuk yang terletak sekitar 900 meter diatas permukaan laut tersebut. Tak hanya dimanjakan pemandangan keindahan alam, Bukittinggi juga kaya akan budaya dan jejak sejarah masa lampau. Jangan lupakan pula sajian kulinernya yang enak dipandang dan sedap menggoyang lidah. Kunjungan ke Bukittinggi memang wisata yang memanjakan seluruh pancaindera dan meninggalkan kesan yang tidak mudah hilang.
Hari sudah sore ketika saya meluncur meninggalkan kota Padang menuju Bukittinggi. Perjalanan Padang-Bukittinggi melewati kota Padang Panjang selama 2 jam nyaris tidak terasa karena cantiknya pemandangan di sisi jalan. Bukit dan tebing menghijau diantarai kecipak sungai berair jernih yang mengalir deras disela-sela batu besar.  Uniknya, sungai itu mengalir tepat di sisi jalan raya, membuat saya mau tak mau berhenti sejenak  untuk menikmati keindahan sungai dan pemandangan alam sekitar.  Tak lupa saya mampir di air terjun lembah Anai yang berada tepat disisi jalan. Cukup mengeluarkan uang sebesar tiga ribu rupiah perorang, kita sudah dapat menikmati sejuknya air terjun yang tingginya sekitar 60 meter dan berair jernih ini.  Saya pun menyempatkan singgah di Warung Sate Padang Mak Sukur di tepi jalan kota Padang Panjang. Seporsi sate Padang seharga delapan belas ribu rupiah dan segelas teh susu telor ternyata cukup mengobati lapar bahkan hingga malam menjelang.  Tak lupa saya sempatkan juga mampir di kios kecil di sisi jalan untuk mencicipi Sala Lauak, cemilan gurih yang terbuat dari  campuran tepung  beras dan ikan. 

Senja sudah temaram ketika saya memasuki kota Bukittinggi. Pemandangan Jam Gadang segera menyambut saya. Kabut tipis yang berarak turun menyelimuti puncak jam yang berdiri tegak sama sekali tak menyurutkan keramaian di sekitarnya. Tak jauh dari situ, tampak para pedagang meramaikan malam. Tak hanya penjual souvenir dan kripik Sanjay, beberapa penjual mukena dan kerudung tampak menggelar lapaknya malam itu. Sepotong mukena border cantik buatan Bukittinggi yang tersohor itu, segera beralih ke tangan saya. Oya, jangan sungkan untuk menawar apabila dirasa harga terlalu tinggi.
Cuaca yang semakin dingin mengingatkan saya untuk segera beranjak dan mencari tempat menginap malam ini, sekedar meluruskan badan yang penat. Deretan penginapan di kawasan Teuku Umar menjadi pilihan saya malam itu. Harganya murah-meriah, cukup terjangkau di kantong. Tak perlu merogoh kantong terlalu dalam, dengan uang sekitar 175 ribu (hari kerja) fasilitas kamar sederhana dengan double bed dilengkapi air mandi hangat dan TV berukuran 14 inci sudah bisa diperoleh. Tempat ini cukup strategis dan memungkinkan saya berjalan kaki untuk menuju beberapa kawasan wisata selama di Bukittinggi. 

Melihat Ngarai Sianok dari Janjang Koto Gadang
Pagi hari, saya dibangunkan oleh adzan dan ceramah subuh di masjid dekat penginapan. Suasana religius yang kental mewarnai pagi di Bukittinggi. Tanpa membuang waktu, setelah menunaikan ibadah sholat subuh, saya segera beranjak menuju Janjang Koto Gadang atau dikenal dengan Great Wall yang baru diresmikan 26 Januari 2013 lalu untuk menikmati pemandangan Ngarai Sianok.  Ngarai Sianok bisa dinikmati melalui berbagai sisi. Salah satunya adalah melalui Janjang Koto Gadang yang menghubungkan Koto Gadang dengan Ngarai Sianok   melalui jalur tangga sepanjang  kurang lebih satu kilometer.


Tangga yang mendaki, bentuk tembok dan susunan batu bata segera mengingatkan saya pada Great Wall atau Tembok Raksasanya  China. Tampak bangunan tembok  masih baru yang sayangnya, tak luput dari corat-coret tangan jahil. Udara pagi yang sejuk serta halimun yang menempel di dedaunan  menyambut saya pagi itu. Hamparan sawah yang menghijau dilatarbelakangi pebukitan sungguh melenakan mata. Sebuah jembatan kayu dengan muatan maksimal 10 orang  harus saya lalui  untuk mencapai Great Wall. Undakan tangga yang  curam cukup menguras keringat, namun rasa penasaran akan keindahan view dari puncak tangga mengalahkan segalanya. Tiba di puncak, tampak di kejauhan  bentangan lembah   persawahan dengan kabut tipis yang menggantung. Sementara di seberang samar-samar terlihat pagar taman Panorama yang merupakan salah satu point of view dalam memandang keindahan Ngarai Sianok. 
Puas memandangi dan meresapi keindahan alam sambil beristirahat melepas lelah, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah Nagari atau desa Koto Gadang. Seruas jalan aspal yang mulus  diselingi beberapa pohon coklat, saya tempuh sambil berjalan kaki. Sembari  berjalan, saya pandangi beberapa rumah penduduk di sisi jalan yang masih kental akan sentuhan tradisi, mengingatkan saya akan kisah yang saya pernah baca tentang suasana  perkampungan Minang. Jalan yang tidak terlalu lebar dengan rumah-rumah  berjendela besar memungkinkan para penduduk  saling bertukar sapa. 

Pada beberapa rumah saya mendapati tulisan yang menawarkan menu masakan gulai  itiak lado Ijau yang terkenal sebagai makanan lezat khas daerah setempat. Hanya sayangnya, hari masih sangat pagi tak memungkinkan saya untuk singgah dan mencicipinya.  Tak lama berjalan, saya jumpai sepetak pasar kaget tempat penduduk berjualan dan membeli kebutuhan sehari-hari. Perut lapar dan tenaga yang terkuras  segera terobati dengan satu porsi ketupat sayur dan pical dengan harga murah-meriah, cukup lima ribu untuk ketupat sayur dan enam ribu untuk pical plus ketupat. Ketupat yang padat disiram  kuah sayur dan kacang serta ditaburi kerupuk merah segera menuntaskan sarapan saya yang nikmat pagi itu.
Lepas dari pasar kaget, saya segera menyetop angkot untuk kembali menuju pusat kota Bukittinggi.  Sepanjang perjalanan melewati Nagari Koto Gadang adalah  pemandangan yang elok. Areal pesawahan yang menghijau segar sekali lagi memanjakan  mata saya. Sesekali tampak bangunan surau, masjid desa maupun rumah adat yang megah. Sebuah bangunan perpustakaan desa menjadi symbol betapa penduduk desa adalah insan cerdas yang haus akan ilmu. Perpustakaan itu seolah menjadi saksi bisu yang bercerita tentang jejak perantau Koto Gadang yang menjadi kaum terpelajar dimana-mana.

Taman Panorama, Lubang Jepang dan Kebun Binatang
Saya tiba di  Taman panorama setelah berganti angkot sebanyak dua kali.  Cukup membayar lima ribu rupiah untuk memasuki taman Panorama, sudah termasuk tiket untuk memasuki Gua Jepang. Lagi-lagi view Ngarai Sianok segera memanjakan mata saya tatkala memandangnya dari Panorama.  Beberapa ekor monyet tampak asyik bercengkrama di dalam taman. Pemandangan Ngarai Sianok dari Taman Panorama ini lebih sempurna karena dapat melihat pemandangan lembah yang memanjang dan berkelok, yang sebelumnya tidak tampak dari Great Wall. Tampak bentangan Ngarai Sianok sejauh 15 km  dengan lebar sekitar 200 meter dan dalam 100 meter.  Di bagian dasarnya tampak sungai Sianok  yang berkelok mengalir sampai di kejauhan. Dari taman panorama ini pula kita dapat memasuki Gua atau lubang Jepang dengan jalan masuk  tangga yang cukup curam.
Setelah puas menikmati pemandangan Ngarai Sianok dari Taman Panorama, kami segera bergegas menuju Benteng Fort De Kock yang terletak di dalam Kebun Binatang Kinantan. Kontur daerah Bukittinggi yang naik-turun dan panas matahari yang mulai menyengat  di pagi menjelang siang itu membuat  langkah saya mulai terasa berat. Akan tetapi dekatnya jarak antar tempat wisata yang ingin saya kunjungi, membuat saya tetap bersemangat. Sangat disarankan memakai sepatu dan pakaian yang nyaman apabila ingin berkeliling ke beberapa area wisata di Bukittinggi sambil berjalan kaki ala backpacker.

Cukup membayar 10 ribu kita dapat mengunjungi area Benteng Fort De Kock dan Rumah Adat Baanjuang yang termasuk dalam areal kebun binatang. Dari arah benteng Fort De Kock untuk menuju rumah adat Baanjuang, saya harus melalui jembatan Limpapeh yang terletak tepat di atas jalan yang cukup ramai di Bukittinggi. Untuk memasuki rumah adat Baanjuang, hanya perlu membayar sebesar dua ribu rupiah, selanjutnya saya dapat menyaksikan beragam peninggalan budaya Minang yang tersimpan di rumah adat ini. Mulai dari perhiasan, alat masak, peralatan bermain sampai miniature rumah maupun pakaian adat tertata rapi disini. Tersedia juga pelaminan pengantin Minang  yang cantik. Kita bisa berfoto ala pengantin Minang dengan membayar lima puluh ribu rupiah untuk mendapat 3 lembar foto cantik sebagai kenang-kenangan.
Keluar dari kebun binatang, tak lupa saya sempatkan makan siang di Benteng Family Restaurant yang konon merupakan asal muasal tersedianya menu ayam pop. Tak perlu khawatir, meski di plangnya tercantum spesifik untuk masakan ayam pop dan ikan bakar, pada kenyataannya menu masakan padang lainnya juga disajikan disini. Harga nasi plus ayam pop cukup bersaing, yaitu sekitar enam belas ribu rupiah saja.

Rumah Kelahiran Bung Hatta
Tujuan saya siang ini untuk mengakhiri kunjungan di Bukittinggi adalah  Istana Bung Hatta dan rumah kelahiran Bung Hatta. Hanya saja, kami hanya dapat memandangi Istana Bung Hatta dari kejauhan sebab istana tersebut tidak menerima kunjungan. Sebaliknya, rumah kelahiran Bung Hatta terbuka untuk umum. Pengunjung diperbolehkan masuk dengan gratis dan melihat-lihat kondisi rumah bersejarah tersebut.  Selama beberapa waktu berikutnya, kita seolah diajak kembali ke masa silam untuk menelusuri jejak-jejak sejarah kehidupan Bung Hatta. Tatanan ruangan yang tidak banyak berubah  dengan furniture antik serta jajaran foto di dinding seolah menjadi saksi bisu yang menceritakan kisah-kisah bersejarah dari tokoh proklamator Indonesia itu.
Rumah kelahiran Bung Hatta terdiri dari beberapa ruangan. Paling depan di sisi kiri pintu masuk adalah ruang baca Bung Hatta. Ruangan yang sangat sederhana, terdiri dari sebuah tempat tidur dan sebuah lemari kaca berisi buku-buku. Namun dibalik kesederhanaan ruangan itu, tersimpan semangat belajar yang tak kunjung padam.  Masuk ke dalam rumah di lantai bawah,  terdapat beberapa kamar di sisi kanan dan kiri serta ruang duduk di tengah kamar. Di lantai dualah terdapat kamar yang merupakan tempat kelahiran Bung Hatta.  Sementara di bagian belakang rumah terdapat lumbung padi, dapur, kamar mandi, bendi serta kamar bujang yang merupakan tempat diletakkannya sepeda yang sering digunakan Bung Hatta. Ruang makan terdapat disisi kiri rumah dekat tangga yang menuju ke lantai dua. Meski ruang makan tidak terlalu luas namun terlihat nyaman, menyiratkan kehangatan dari sang pemiliki rumah.

 Lepas Dhuhur, dengan enggan saya beranjak meninggalkan Bukittinggi, sembari tak lupa membawa berjuta kisah. Kisah tentang nagari elok yang keindahannya sungguh mempesona. Kisah tentang semangat belajar rakyatnya serta jejak-jejak sejarah kaumnya yang patut menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.

Berkemah di Gunung Masigit, Kareumbi



Semilir angin pegunungan  terasa sejuk membelai kulit ketika  kendaraan yang saya sekeluarga tumpangi mulai bergerak mendaki jalan menuju arah Gunung Masigit. Setelah satu setengah jam meninggalkan hiruk pikuk dan macetnya Bandung menuju arah Cicalengka, sungguh menyegarkan rasanya menghirup udara segar serta menikmati teduhnya  pepohonan rindang di sisi jalan.
Jalan yang kami tempuh tidak sepenuhnya mendaki, namun adakalanya melandai membuat kami bisa menepi untuk sesaat melepas lelah. Sembari beristirahat, kami menikmati view daerah Cicalengka di sekitarnya dan kawasan Bandung dari kejauhan. Meski sinyal handphone tidak lagi bersahabat saat kami memasuki kawasan Gunung Masigit, namun hal ini tidak mengurangi kegembiraan dan suasana riang yang dirasakan. Riang karena rindu yang sebentar lagi akan terpuaskan.  Ya, rindu ingin menikmati nyanyian alam, gemerisik dedaunan, pepohonan, udara segar serta suara burung bersahutan  di kedalaman hutan Gunung Masigit yang asri.
Berkendara sekitar satu setengah jam dari wilayah timur kota Bandung ke arah kecamatan Cicalengka, kawasan ini lebih dikenal dengan Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit, Kareumbi dengan luas sekitar 12.420,70 hektar (sumber : http://kareumbi.wordpress.com). Pintu masuk yang kami lalui terletak di kampung Leuwiliang, Desa Tanjungwangi, kecamatan Cicalengka.
Sejak pintu masuk ke  kawasan ini, tampak pemandangan pepohonan Rasamala dan beberapa jenis pohon lainnya yang  berukuran cukup besar.  Tanah yang lembab dan  suasana yang  agak gelap karena cahaya matahari hanya dapat menerobos di sela-sela lebatnya dedaunan  segera menyambut kami.  Tak jauh dari situ, melewati  beberapa ruas pembibitan pohon  akhirnya kami sampai juga ke salah satu Camping Ground yang ada di Kareumbi. Camping Ground ini berupa tanah lapang yang cukup luas dinaungi  pepohonan  serta sebuah kolam  disisinya  yang dilengkapi bangunan sederhana.
Menjumpai lapangan berumput yang luas di tengah kerindangan pepohonan dan sejuknya udara pegunungan,  anak-anak dengan lincah dan bersemangat segera berlari  ke segala penjuru. Tanpa segan mereka segera  mengejar belalang yang berlompatan di rerumputan atau bermain dengan potongan ranting yang berguguran. Segarnya, sesaat melepas penat  menikmati suasana  bebas polusi dan bebas dari kemacetan yang biasa ditemui di keseharian
Tepat di sisi lapangan tampak beberapa tenda dengan warna-warni mencolok yang sudah didirikan,  dapat disewa dengan harga terjangkau dan siap untuk ditempati.  Di tengah-tengah lapangan tampak bekas-bekas api unggun menandakan area perkemahan ini cukup sering digunakan. Untuk kegiatan memasak yang sederhana seperti sekedar menggoreng atau merebus air untuk membuat mie instant atau menyeduh kopi, dapat dilakukan di sekitar tenda. Tentunya dengan tetap memperhatikan keamanan dan kebersihan lingkungan. Namun, apabila kondisi tidak memungkinkan untuk memasak  atau anak-anak tidak terlalu cocok dengan menu yang kita siapkan, tidak perlu khawatir karena berjarak beberapa meter dari area camping ground ada sebuah warung yang menjual makanan. Kita bisa membeli nasi berlauk ayam atau telur goreng untuk dimakan.
Sedangkan untuk kegiatan MCK, Mandi-cuci-kakus juga tidak perlu khawatir karena  kamar mandi atau toilet telah tersedia di beberapa tempat pada area bumi perkemahan. Salah satunya di  dekat warung nasi maupun sisi lain area perkemahan yang lebih menjorok ke dalam hutan. Meski fasilitasnya sederhana, namun merasakan cipratan kesegaran air pegunungan sungguh memberi nuansa  tak terkira.

Duduk santai sembari berbincang di serambi tenda beralaskan tikar sambil menikmati  alam hutan Gunung  Masigit merupakan salah satu  alternative refreshing yang cukup menyegarkan. Namun apabila masih dirasa kurang variatif, pihak pengelola kawasan konservasi sudah menyediakan beberapa aktivitas  yang menarik dan cukup  menantang seperti hiking, bersepeda dan menginap di rumah pohon. Sekadar mendaki lebih jauh masuk ke dalam hutan pun cukup menyenangkan, menjumpai air yang mengalir bening dan jernih  di sela-sela bebatuan.
Sembari melihat-lihat, saya mengamati di sela-sela semak  dan tetumbuhan  di sekeliling hutan  tampak  area  berisi beberapa tanaman  berukuran sedang atau lebih kecil. Tanaman tersebut ditanam dengan jarak teratur  dan  diberi tanda  berupa papan kayu yang bertuliskan beberapa nama instansi. Ternyata tanaman ini bukan sembarang tanaman, melainkan merupakan salah satu  bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang diadakan oleh pengelola  konservasi, yaitu wali pohon. Cukup membayar lima puluh ribu  perbatang pohon, kita dapat menjadi wali pohon yang artinya kita dapat berperan serta untuk menanam dan merawat  bibit pohon tersebut.
Satu malam menghabiskan  hari di  bumi perkemahan Gunung Masigit Kareumbi  bagaikan menikmati  sepotong surga yang hilang di  tengah keriuhan kota Bandung. Sungguh  banyak manfaat yang bisa didapat dengan mengajak anak-anak untuk kemping di bumi perkemahan Gunung Masigit.  Tanpa menyita waktu banyak ataupun  menghabiskan liburan berhari-hari, anak dapat belajar dan bermain di alam dengan beragam kegiatan yang menyehatkan sekaligus mengeratkan ikatan antar anggota  keluarga.  Seandainya memungkinkan, sebagai penduduk  Bandung  sempatkanlah  berkunjung   bersama keluarga ke kawasan konservasi Gunung Masigit untuk mengenalkan alam kepada anak-anak tercinta. Lebih baik lagi apabila mengajak keluarga besar, teman-teman atau komunitas untuk mempererat jalinan silaturahmi sembari menikmati segarnya alam Gunung Masigit.