Sabtu, 22 Maret 2014

Serba-serbi Tinggal di Luar Negeri



Pengalaman saya tinggal di luar negeri sebenarnya  cuma seiprit  alias cuma sebentar. Dibandingkan dengan teman-teman yang bertahun-tahun menetap, berpindah-pindah dari satu  negara ke negara lainnya atau bahkan ada yang menjadi warga negara setempat…..wow... jauhh!  Berbekal pengalaman yang cuma sebentar ini plus mendengar dan membaca tulisan tentang teman-teman yang berkesempatan tinggal di luar negeri, saya coba menuliskan beberapa point  yang umum dialami oleh para pendatang di negeri orang.

-          Masa adaptasi; pertamakali tiba, jangan heran kalau banyak hal ditemui akan jauh berbeda dengan apa yang biasa kita jumpai di  tanah air. Sekalipun kita sudah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya  sebaiknya tetap bersiap menghadapi  adanya kejutan-kejutan yang akan mewarnai masa awal sebagai pendatang baru.

-          Jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk terkaget-kaget…karena  mau tidak mau kita akan disibukkan dengan  beragam kegiatan yang harus dipersiapkan untuk menjalani rutinitas di tempat baru; misalnya mencari  tempat tinggal permanent  untuk  pendatang yang  tinggal di tempat sementara,  mencari toko yang available untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari, berburu sekolah  yang  cocok untuk anak-anak  sampai menemukan  tempat atau komunitas yang nyaman  untuk pergaulan.  Yang jadi masalah, kadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan. Belum lagi sejumlah pertimbangan yang menyertai; seperti  mendapatkan bahan makanan yang halal dan murah, sekolah anak  yang nyaman dan sistem pendidikan yang sesuai dan lainnya.

-          Untuk pendatang yang beruntung  tinggal di negara muslim, bersyukurlah. Seperti waktu saya di Madinah,  Ibaratnya, di supermarket mau mengambil bahan makanan apapun dengan mata tertutup, insya Allah halal. Mau jajan di restoran juga demikian. Hal yang sebaliknya  dengan yang saya alami waktu berkunjung ke China. Teman saya yang kebetulan tinggal  di negara non muslim juga demikian; harus cermat meneliti kandungan  zat-zat yang terdapat dalam bahan makanan yang  ingin dibeli apakah masih  termasuk halal untuk dikonsumsi atau tidak.

Tapi in shaa Allah, dibelahan dunia manapun tempat kita akan  tinggal, akan selalu ada kemudahan  dan pertolongan Allah.

-          Siap bekerja keras. Mau leyeh-leyeh seperti di Indonesia yang relative mudah mencari asisten? Jangan harap hal itu terjadi kalau kita bermukin di negara lain. Kalau di Indonesia ada si Mbak atau si Bibik yang  bisa diandalkan untuk  membantu mencuci piring atau mengasuh anak, tinggal di luar berarti kita harus siap mengandalkan diri sendiri atau  berbagi tugas dengan pasangan.  Cucian menumpuk atau ada tikus di dapur….Ya kudu puter otak sendiri – jangan harap bisa minta tolong sama Mamang tukang sampah untuk membantu mengusir tikus.  Tugas keseharian benar-benar tanggung jawab sendiri  dan sangat jarang untuk bisa benar-benar libur, kecuali kalau sudah ada kesepakatan dengan pasangan. Demikian juga urusan masak-memasak; kalau libur, mau dikasih makan apa anak-anak?  Masalahnya kalau sering-sering jajan, bisa jebol  ini kantong hihihi….. Belum lagi masalah selera  yang kadang tidak cocok dengan masakan setempat.

Masalahnya bisa berbeda kalau kebetulan tempat kita tinggal  berdekatan dengan tetangga sesama orang Indonesia yang doyan masak.  Seperti saya waktu di Madinah yang lumayan sering dapat kiriman kue dan masakan enak-enak dari tetangga  yang baik hati atau dapat lungsuran sisa makanan dari  travel umrah yang makanan jamaahnya tidak habis.

Gengsi? Ke laut aja kalee….Tinggal di luar negeri   bukan berarti berfoya-foya lho ya… kecuali kalau  tabungan  sudah menumpuk atau tanah  ada dimana-mana alias kehidupan sudah pasti terjamin ketika pulang ke tanah air nanti.  Kalau bagi saya, tinggal di luar negeri artinya ya penghematan.  Dan juga menahan diri dari hal-hal yang bisa didapat dengan mudah di tanah air. Misalnya  kangen makan batagor atau bakso tapi jangan harap ada yang lewat. Jadinya asyik googling  untuk cari tahu gimana cara bikin sendiri.

Maka jangan heran kalau ibu-ibu pemukim luar negeri adalah istri-istri binangkit – jago masak, beberes rumah dan ngurus anak, karena semuanya dikerjakan sendiri. Pokoknya salut berat deh.

-          Bergabung di komunitas warga Indonesia. Sebagai sesama warga Indonesia di negara asing; jalinan persaudaraan harus benar-benar erat. Ya, kepada siapa lagi kita menengok  apabila kebetulan  membutuhkan bantuan. Sebagai sesama perantau,  tentu sama-sama  mengetahui situasi yang dihadapi di negeri orang; susah-senangnya. Kadang  saling ketergantungannya cukup besar; bahkan tak jarang  tetangga atau teman yang  kita jumpai di sana lebih terasa sebagai saudara  atau bahkan keluarga dibandingkan dengan saudara sedarah di tanah air.  Hanya saja, ya itu….lingkup pergaulan terasa tidak terlalu luas dibandingkan dengan di tanah air. Apabila di tanah air kita akan banyak bertemu orang baru dalam pergaulan kita atau karena berbagai urusan, misalnya;   tapi kalau kebetulan kita tinggal di negara yang warga Indonesianya sedikit ya harus terima saja kalau tiap ada pertemuan ketemunya dengan orang –orang yang sama. Istilahnya 4 L  lah….Loe lagi loe lagi.
- Serunya tinggal di luar negeri adalah kesempatan yang terbilang jarang  untuk  melihat kebudayaan dan pemandangan  yang berbeda  dengan di tanah air. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Percaya deh… biar nggak punya uang atau  bermodal nekad sekalipun; jangan sia-siakan kesempatan untuk berpetualang  menelusuri dan menikmati  suasana dan budaya setempat yang berbeda dengan tanah air; seperti menikmati kulinernya atau berbincang dengan warga setempat. Mumpung jaraknya dekat.  Jangan seperti saya yang menyesal  setelah kembali ke Indonesia. Jauh-jauh berkelana di Madinah paling jauh cuma sampai Mekah atau Jeddah. Bahkan Thaif atau  Made in Saleh yang tergolong tempat  ngetop di Saudi pun belum sempat saya  kunjungi. *tepok jidat* Dahulu ketika ada seorang teman yang menyarankan supaya kami  mencoba travelling ke Mesir atau Abu Dhabi  karena jaraknya terhitung dekat dari Saudi-daripada bolak-balik pulang kampung ke Indonesia- saya hanya tertawa. Sekarang? Huhuhu…. saya hanya bisa gigit jari dan berharap suatu hari dapat kesempatan untuk berpetualang lagi *lirik suami* Aamiin ya Robb.

Jumat, 24 Januari 2014

Episode Kehidupan : Madinah (3)





Suasana kehidupan Madinah yang tenang ternyata menyimpan  banyak  cerita tentang  warga Indonesia yang berjuang  mencari penghidupan disana. Untuk saya, menyaksikan lika-liku kehidupan mereka di Madinah adalah menyaksikan satu potret tentang realitas hidup. Untuk sebagian orang, hidup memang tak pernah lepas dari perjuangan. Dan itulah yang saya lihat di mata TKI/TKW yang saya jumpai disana.
Pertama kali datang, saya sering disangka TKW atau khadimat yang sedang bekerja. Sekalipun sudah menggendong-gendong si sulung sekalipun atau sengaja pasang ekspresi manis tak berdosa. Maklumlah mungkin tampilan seadanya ;D Memakai abaya pun model yang sangat sederhana, jauh dari gaya. Dari banyak cerita, ternyata hal itu bukan sesuatu yang aneh untuk warga Indonesia  berkunjung ke tanah suci selain untuk maksud ibadah haji/umroh.  Warga Indonesia yang bekerja disana memang jumlahnya cukup besar untuk sector informal seperti rumah tangga. Maka tak heran kalau profesi khadimat cukup populer bagi warga Indonesia. Untuk mereka, Saudi bagaikan tanah yang menjanjikan harapan dan impian. Harapan yang tak mereka dapatkan di tanah air.
Ya, siapa yang tak ingin. Bisa mendulang riyal sambil berkesempatan menunaikan ibadah haji/umroh. Meski harus jauh dari keluarga. Setidaknya ada harapan yang dijemput daripada menunggu sesuatu yang tak pasti di tanah air. Meski kenyataannya tak sedikit rintangan yang dihadapi. Baik bagi pekerja professional, namun  terutama sekali bagi para pekerja dan pendatang illegal.
Seringkali rasa tak nyaman menyelinap di hati bila menyaksikan polisi kerajaan Saudi yang sedang sibuk berjaga-jaga atau melakukan razia. Baik di jalan-jalan, sekitar masjid Nabawi/Masjidil Haram apalagi di checkpoint pintu masuk Mekah.  Tampang bapak polisi yang dingin begitu tak bersahabat. Apalagi untuk para pekerja illegal yang seringkali harus dalam kondisi waspada terus menerus. Oleh karena itu, iqoma hampir tak pernah lepas  dari tas saya. Untuk berjaga-jaga apabila ada razia. Oya Iqoma itu seperti KITAS ya, bukti identitas resmi kita sebagai WNA di Saudi. Jadi apabila ada razia, cukup tunjukkan iqoma ini.
Tapi sekali waktu, saya pernah juga lalai. Waktu itu kebetulan ada sahabat mengajak saya berkeliling kota menghabiskan malam jumat di Madinah (a.k.a malam minggunya Saudi) sambil mencari-cari rumah untuk tempat tinggal baru keluarganya. Keliling kota bukannya seperti (saya) di Indonesia ya.. paling banter jam 9 malam sudah kembali ke kasur- tidur *anak baik* Keliling kota di Madinah ini baru mantap kalau sudah jauh lepas isya. Sekitar jam 11 sampai jam 1 dinihari. Waktu itu kebetulan suami sedang jaga malam. Jadilah saya meminta izin sekalian menginap di rumah sahabat saya itu. Dan asyiklah kami berputar-putar keliling  Madinah mengunjungi beberapa tempat yang jadi pusat keramaian kota. Bahkan sempat bermacet-macet ria segala.  Saya pun tenang saja menikmati suasana sambil menggendong si sulung. Esoknya ketika kembali ke rumah dan sedang beres-beres, saya baru sadar iqoma saya tertinggal di rumah. Hadeuhhh… untung tidak ada razia kala itu. Kalau ada razia, bisa dipastikan saya  suami bakalan repot berurusan dengan kepolisian setempat untuk menjemput istrinya kembali.
Saking banyaknya  pekerja di sector informal dari Indonesia, warga Saudi tampaknya sudah terbiasa  menyamaratakan bahwa semua pekerja Indonesia di Saudi adalah para supir dan pembantu atau penjaga toko dan petugas kebersihan. Maka tampak tak lazim bagi mereka ketika ada beberapa pekerja professional dari Indonesia yang juga mencari penghidupan disini. Satu kali  bahkan  seorang teman yang membantu mengurus dokumen penting  milik suami -yang sempat hilang- mendapati rasa heran dan tidak percaya  dari seorang  petugas warga Saudi saat mengisi keterangan  bahwa pekerjaan suami adalah dokter. Mungkin mereka tak biasa mendapatkan ada warga Indonesia dengan latar belakang pendidikan dan  profesional seperti dokter yang bekerja di Saudi. Namun hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kondisi yang terpaksa harus dihadapi oleh sejumlah pekerja ilegal saudara sebangsa setanah air.
(Bersambung)


Jumat, 10 Januari 2014

Episode Kehidupan : Madinah (2)


Masjid Nabawi dilihat dari arah kawasan Asia/dekat Masjid Ijabah tahun 2006


Selang beberapa bulan tinggal di imaroh lama,  yang lebih menyerupai kamar kost itu;  Alhamdulillah suami mendapat tawaran untuk menyewa sebuah  imaroh baru yang lebih bagus dan lebih luas. Oya, bicara tentang imaroh, sebenarnya sebagai bagian dari fasilitas yang diberikan kemenkes Saudi, suami berhak mendapat tempat tinggal di sebuah flat yang terletak di dekat rumah sakit plus beberapa perlengkapan rumah tangga. Namun karena lokasi flat ini jauh dari pusat kota Madinah, terutama masjid Nabawi makanya kami-saya dan suami sepakat untuk mencari apartemen lain yang lebih dekat dengan masjid Nabawi.
Oleh karena kami tidak menempati flat yang sudah disediakan dan memilih tinggal di tempat lain, kami berhak atas jatah penggantian uang sewa rumah sebesar beberapa ribu real. Untuk hal ini, harus saya akui – meski masih kalah dibandingkan negara teluk lainnya yang menjanjikan fasilitas yang jauh lebih menggiurkan untuk pegawainya- namun fasilitas dari pemerintah Saudi ini sudah sangat baik dan kami syukuri. *kapan Indonesia bisa begitu ya*
Imaroh lama kami yang terletak di kawasan Asia dan dekat dengan masjid Ijabah;  memang benar-benar dekat jaraknya dengan masjid Nabawi.  Mungkin sekitar 1 sampai 2 kilometer (maksimal). Melewati  jalan-jalan yang ramai oleh toko yang menjual berbagai bahan makanan dan pernak-pernik khas Asia tenggara, termasuk Indonesia serta restoran Jakarta & Surabaya yang menghidangkan makanan khas Indonesia, menyebrang sedikit berbelok melalui jalan-jalan mulus yang dipenuhi hotel-hotel megah tempat para jamaah umroh/haji. Tak berapa lama, tampaklah kubah masjid Nabawi yang cantik di kejauhan.
Sementara imaroh baru kami di kawasan Tarik Salam lebih jauh jaraknya.  Namun masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki kira-kira hampir setengah jam (maksimal). Jalannya pun lurus saja. Bisa masuk melalui pintu Babussalam.  Imaroh baru kami ini tempatnya meski lebih jauh tapi  memang kawasannya lebih bersih dan bagus dari imaroh lama. Saya menempati tingkat dasar dari empat lantai yang ada di apartemen ini. Secara lokasi  memang sangat strategis karena  berada langsung dekat pintu masuknya.
Karena posisi yang strategis ini,  beberapa kali  pintu imaroh saya kedapatan diketuk oleh orang tak dikenal.  Untungnya pintu imaroh saya sangat tebal. Pokoknya saking tebalnya untuk mengetuk pintu tak seperti layaknya kita mengetuk pintu rumah di Indonesia. Mengetuk pintu harus dengan kekuatan penuh- menggedor sih  – tepatnya hehe…
Satu kali ada yang mengetuk pintu imaroh saya dengan keras. Dog! Dog! Dog! Samar-samar  terdengar si pengetuk  juga berbicara dengan suara keras menggunakan bahasa yang tidak saya pahami. Haduuuhh… Saya yang sedang berdua saja dengan anak di rumah  agak-agak cemas (takut- tepatnya haha). Siapa pula itu? Tak sopan ‘kali! Tapi berhubung suami sudah wanti-wanti  dengan sangat *istri bandel*  agar saya tidak sembarangan membuka pintu kepada sembarangan orang, akhirnya saya diam saja. Menyimak di balik pintu sambil berusaha keras memahami apa yang dia ucapkan. *Ngomong apa sih dikau * Beberapa lama, setelah tak juga mendapat tanggapan, akhirnya dia  beranjak pergi. Kabarnya kata teman saya, kadang suka ada pengemis asal Palestine yang meminta-minta.  
Soal seperti ini memang menuntut kewaspadaan lebih dari saya, apalagi seringkali saya hanya tinggal berdua saja dengan anak saya yang saat itu baru berumur setahunan. Pernah suatu kali saya sampai harus janjian miscall-misscallan sama suami untuk memastikan bahwa yang mengetuk pintu  adalah beliau dan  bukan  suami  orang  lain. Hihi.. terlalu ya. Tapi memang harus karena kebetulan pintu imaroh tidak dilengkapi oleh lubang untuk mengintip orang/tamu yang datang.
Imaroh baru ini benar-benar rezeki yang tidak diduga, karena mendapatkan imaroh yang  nyaman  dan sesuai keinginan hati di Madinah tidaklah mudah.   Seorang teman sampai harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan imaroh yang sesuai dengan keinginan hati. Oya imaroh ini harus dibayar sewanya selama 6 bulan kedepan. Kalau tidak salah  totalnya sekitar ribuan real. Sampai-sampai kami- suami dan saya- sebagai new comer di Madinah bangkrut dan harus rela  hanya makan dengan sambal ( pakai nasi tentunya) demi membayar sewa imaroh yang muahal itu. Tapi biarlah….demi privacy dan keleluasaan yang terkadang tak dapat dinilai dengan apapun, rasanya cukup sepadan.
Tinggal di Tarik Salam, membuat saya banyak menemukan pengalaman baru. Terutama dengan  tetangga  asal Indonesia yang juga kebetulan tinggal satu apartement dengan saya. Banyak hal menarik yang membuat saya semakin mengenal lika-liku kehidupan dan mensyukuri segala nikmat yang telah dilimpahkan Allah swt.
(bersambung)

Rabu, 08 Januari 2014

Episode Kehidupan : Madinah (1)






Meski  telah tujuh tahun  saya meninggalkan Madinah, namun tidak mudah rasanya melupakan begitu saja episode kehidupan saya selama hampir dua tahun saya berdiam di kota kecintaan nabi tersebut.
Akhir tahun 2004, ketika  mendengar kabar bahwa suami mendapat pekerjaan di departemen kesehatan pemerintah kerajaan Saudi  dan ditugaskan di rumah sakit King Fahd, Madinah,  terus terang saya sempat galau. Maklum, waktu itu sebagai ibu muda dengan pengalaman yang masih minim alias newbie dalam urusan rumahtangga, meninggalkan kenyamanan di tanah air bukan perkara mudah buat saya. Apalagi, mendengar cerita-cerita  tentang ketatnya aturan plus lika-liku kehidupan di tanah suci yang nota bene adalah hal yang asing untuk saya.
Tapi, berhubung mantan pacar alias suami yang  terlebih dulu berangkat sudah ribut memanggil saya untuk segera menyusul dengan membawa buah hati kami…. apa boleh buat.  Siaap Grakk!  Walaupun terus terang cerita yang beredar semakin menciutkan hati saya. Kalau masalah segala pernak-pernik urusan rumah tangga  yang kudu dihandle sendiri itu sih biasaaa….  Namanya rumah tangga baru, pastinya tahap itu harus dilalui. Sebenarnay yang lebih bikin cemas adalah kisah-kisah “seru” tentang  keamanan hidup disana sebagai warga negara  perempuan Indonesia. Bahkan ibunda pun sempat keberatan saya menyusul suami ke Madinah. Maklum, anak perempuan satu-satunya :)
Baiklah…. Dibalik semua itu  ada satu hal yang membuat saya bertekad menjejakkan kaki ke tanah suci. Adalah asa untuk datang memenuhi panggilanNya,  bersujud ke Baitullah. Kalau ini dinamakan rezeki, mengapa tidak dijemput? Kapan lagi saya beroleh kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah? Walaupun tidak serta merta saya akan mendapat kesempatan itu, mudah-mudahan dengan tinggal di Madinah, mimpi itu akan semakin mendekat.. Insya Allah.
Oya, zaman tahun 2004 itu jangan samakan dengan zaman kini ya, dimana sekarang semua begitu mudah mendapat informasi via internet- tinggal klik Mbah Google. Zaman itu  saya masih agak kesulitan untuk mendapat informasi tentang kehidupan sehari-hari di Madinah. Meski memang banyak informasi dari para saudara dan kerabat yang pernah menunaikan haji atau umroh, namun tetap saja rasanya berbeda. Tentu saja karena saya kondisinya berangkat ke Saudi adalah untuk menetap dan tinggal dalam jangka waktu yang cukup lama.  Pastinya ada banyak hal yang harus dipersiapkan ; termasuk kondisi psikologis.
Setelah melalui proses yang berliku-liku  termasuk bolak–balik mengurus paspor, menghubungi pihak kedutaan Arab untuk pengurusan visa undangan, booking tiket pesawat dan melakukan pemeriksaan kesehatan, tentunya sambil membawa Fathan- buah hati saya yang saat itu berusia 9 bulan, Alhamdulillah… disuatu musim panas pertengahan tahun 2005, resmi sudah saya menjejakkan kaki ke tanah Madinah yang gersang.
Panasnya suhu dan kerasnya tiupan angin gurun pasir yang menyambut saya, benar-benar mengejutkan saya ketika melangkah keluar pesawat Saudi Arabian Airlines yang menerbangkan saya dari Jeddah.
Oya, sebelumnya saya sempat transit dulu di Jeddah selama lebih dari enam jam. Berhubung ini pengalaman pertama melakukan perjalanan internasional, harap  maklum kalau saya sedikit norak. Termasuk ketika saya coba-coba  praktek bahasa Inggris kepada  seorang pelayan cafe di bandara Jeddah ketika membeli kentang goreng untuk sekedar pengganjal perut. Sst…. Cita-cita saya untuk bisa pergi keluar negeri diantaranya memang untuk memperlancar bahasa Inggris meskipun akhirnya tetap tak bisa tercapai :)…hihihi.. ya iya lah…di Madinah kan bahasa yang umum dipakai bahasa arab..jarang ada yang berbicara dalam bahasa Inggris.
Meski cukup kaget ketika kali  pertama merasakan iklim super kering dan panas di Madinah ditambah keribetan memakai cadar, itu masih belum ada apa-apanya dibanding ketika saya pertama kali tiba di imaroh alias apartemen perdana saya di Madinah.  Wew, sejujurnya....sempat speechless...saat itu rasanya saya  ingin lompat dan kabur kembali ke rumah saya yang aman dan  nyaman Bandung… hehehe…
Oya, sebenarnya suami sudah mendapat sebuah imaroh sendiri untuk keluarga kecil kami. Tapi berhubung sayanya penakut, saya memaksa suami untuk pindah dan  tinggal  sama-sama dalam satu apartemen dengan dua keluarga Indonesia lain. Imaroh itu terdiri dari 3 kamar, satu kamar mandi, satu dapur dan satu ruang mungil yang tak bisa dibilang ruang tamu. Keluarga kami menempati salah satu kamarnya. Sementara  keluarga lain adalah pasangan suami istri yang tinggal dan bekerja di Madinah.
Tinggal bersama-sama dalam satu rumah ini  merupakan suatu keputusan yang saya sesali di kemudian hari. Karena memang tak mudah untuk tinggal bersama keluarga lain dalam satu rumah. Yah, jangankan bersama dengan orang lain, dengan keluarga sendiri pun jamak terjadi perbedaan pendapat. Apalagi ini dengan orang lain yang benar-benar asing meski satu bangsa.
Di satu sisi, pengalaman tinggal serumah dengan dua keluarga itu, memberi warna juga pada keseharian saya, terutama awal saya tinggal di Madinah. Paling tidak saya bisa belajar masakan Padang pada salah satu tetangga kamar saya. Masakan Padangnya sungguh sangat lezat. Meski tinggal jauh dari tanah air, alhamdulillaah urusan perut masih terjamin. Saya tak heran kalau beliau akhirnya membuka restoran Padang ketika kembali  ke tanah air.
Imaroh pertama yang saya diami terletak di dekat kawasan Asia yang saat ini sudah dirubuhkan oleh pemerintah Saudi. Kawasan Asia ini adalah salah satu surganya warga Indonesia di Madinah, terutama buat suami saya yang fanatic dengan masakan Indonesia dan saya yang tak ahli-ahli juga memasak  meski sudah terdampar di padang pasir :)). Di kawasan Asia ini terdapat beberapa restoran yang menjual masakan Indonesia.
Jadwal hari-hari biasanya suami full bekerja di rumah sakit. Bahkan dalam seminggu ada saja  jadwal beliau untuk jaga malam, yang artinya dia tidak pulang sehari semalam. Kalau saat seperti itu biasanya  sewaktu di imaroh lama saya merasa agak tenang karena masih ada tetangga kamar-teman serumah. Tetapi ketika awal pindah di imaroh baru yang hanya ditempati saya sekeluarga, saya langsung kunci semua pintu dan mendekam di kamar. Kenapa? Ya itu ada ceritanya tentunya. 
(bersambung)