Minggu, 08 Desember 2013

Berkunjung ke Museum Wushu di Shanghai


Ini tulisan saya yang berkisah tentang museum Wushu di Shanghai, China. Alhamdulillah dimuat di harian "Pikiran Rakyat" edisi Maret 2013 lalu. 

Shanghai terkenal dengan The Bund dan Oriental Pearl TV Towernya yang  merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia. Akan tetapi, tahukah anda bahwa ada satu tempat  menarik di Shanghai yang tidak banyak diketahui orang namun menyimpan peninggalan berharga akan kekayaan budaya bangsa China?
Tersembunyi di dalam area Shanghai University of Sports yang asri, terdapat sebuah bangunan yang  cukup megah berpintu kaca.  Sebuah patung berukuran cukup besar sedang memegang pedang  dengan mata pedang mengarah ke bawah berada di sisi pintu masuk. Sementara di bagian tembok  atas tampak berbagai gambar orang dengan berbagai posisi dan gerakan wushu. Di pintu kaca tercantum  tulisan dalam pita merah: The Chinese Wushu Museum.

Pada awalnya, terus terang saya kurang begitu tertarik untuk masuk ke dalamnya. Dalam bayangan saya,  museum wushu ini paling hanya berisi beberapa peninggalan tentang wushu yang berbau “jadul”. Tidak lain niat awal saya memasuki museum itu untuk sekedar menghangatkan badan yang sudah mulai mengigil diterpa angin  musim dingin di Shanghai menjelang akhir januari lalu. Namun ketika memasuki pintu utama, saya segera menyadari bayangan saya tentang museum Wushu, sepenuhnya salah.  Subhanallah..  Satu lagi bukti bahwa bangsa China memang benar-benar bangsa yang sangat menghargai budaya dan sejarahnya.
Museum  Wushu ini didirikan pada tahun 2007, termasuk ke dalam kawasan Shanghai University of Sports  dengan luas  mencakup 2.000 meter persegi.  Wushu  sendiri  bermakna  "seni bertempur/bela diri". Diambil dari paduan dua kata yaitu  “Wu” yang berarti ilmu perang  dan “Shu” yang berarti seni.  Namun demikian, tak hanya beladiri yang bersifat gerakan atau olah tubuh saja yang  dipelajari di dalam wushu, namun  juga hal-hal  terkait kesehatan tubuh serta mental dan pikiran.
Sejak di pintu masuk, pengunjung sudah disambut oleh pemandangan yang tidak biasa. Tampak sebuah tonggak dengan aksen hitam putih dan semburat lampu kebiruan serta nuansa merah di bagian langit-langit dan di lantai di tengah ruangan. Suasana ruangan yang agak gelap dan temaram membuat efek cahaya cukup membantu  memberi kesan ceria serta sedikit dramatis. Sementara di sekelilingnya tampak berbagai display kaca berisi beragam senjata dan peralatan yang sering digunakan untuk beladiri. Dalam display khusus untuk senjata  terdapat  beragam peralatan yang cukup membuat seram, seperti tombak yang panjangnya hampir 3  meter terbuat dari perunggu dan bambu,  busur, pedang, rantai yang dilengkapi bola terbuat dari besi,  anak panah yang ujungnya  mekar, dan juga cambuk. 



Tidak perlu khawatir dengan kendala bahasa, karena disediakan informasi dalam bentuk multi media yang mudah diakses oleh pengunjung. Keterangan yang tercantum pun banyak disediakan dalam bahasa Inggris, sehingga memudahkan pengunjung yang tak paham tulisan kanji dalam bahasa China. Terdapat pula beberapa layar monitor yang menayangkan para pemain wushu sedang menampilkan jurus-jurus bela diri dalam balutan kostum tradisional China, serasa menyaksikan tayangan film silat yang sering muncul di televisi.
Semakin jauh masuk ke dalam museum ini, saya semakin kagum. Nyata benar bahwa pemerintah China benar-benar memiliki komitmen kuat untuk menjaga dan memelihara budaya wushu  seperti tercantum di preface  yang terdapat di dekat pintu masuk museum, bahwa pendirian museum  bertujuan: To discover, inherit, carry forward and develop the treasures of Chinese Wushu culture and to reproduce its long and arduous journey through thousands of years of history.

 
Museum  ini memiliki beragam koleksi benda yang menarik. Di area yang lebih dalam tampak lebih banyak display menampilkan beberapa barang yang bernilai sejarah dan ditata apik dalam ruangan pameran. Diantaranya golden wooden wushu handycraft yang berasal dari dynasty Qing, patung prajurit berkuda, patung Huo Yuanjia master wushu yang  hidup antara tahun 1869-1910  dan terkenal di akhir dynasty Qing, beberapa buku tua  yang menampilkan manual instruksi wushu, buku taktik militer seperti "The Art of War," dan buku pengajaran seni bela diri lainnya, juga berbagai lencana atau tanda penghargaan, foto atlet wushu China sampai berbagai  keramik antik yang memiliki  kandungan seni wushu (the art of wushu). Tak kalah menarik adalah berbagai diorama cantik yang menggambarkan kehidupan  China dimasa lampau saat wushu berkembang dengan pesat, seperti adegan pasukan prajurit  berkuda, adegan sekelompok murid yang sedang berlatih gerakan wushu di peguruan, adegan duel antar pemain wushu bahkan sampai adegan petinju seukuran manusia yang baru saja memukul KO lawannya dalam ring lengkap dengan wasitnya.  Sementara  sisi lain dari tembok tampak lukisan peperangan bangsa China. 

Museum ini dibagi menjadi ruang tempat senjata, ruang area sejarah dan wilayah multimedia. Memasuki museum ini kita akan diajak untuk menelusuri sejarah perkembangan wushu dari masa ke masa termasuk pengetahuan tentang hakikat dari wushu itu sendiri. Kita bisa belajar sejarah perkembangan kronologi beladiri  wushu, dari zaman primitif ke zaman modern, sampai akhirnya berkembang menjadi salah satu cabang olahraga yang diikutsertakan dalam kompetisi internasional.
Untuk masuk ke dalam museum ini tidak diminta uang masuk karena sudah termasuk ke dalam biaya yang dipungut apabila kita beserta rombongan bermaksud untuk menjelajah seputar kawasan Shanghai University of Sports  yang luas dan tertata rapi. Apabila berkunjung ke Shanghai, tempat ini dapat menjadi alternatif wisata menarik yang membuat kita dapat berkaca pada kemajuan bangsa China dan menarik pelajaran darinya.

Sabtu, 07 Desember 2013

SATU HARI DI BUKITTINGGI, MENELUSURI PEMANDANGAN NAGARI ELOK DAN JEJAK SEJARAH BUNG HATTA



Tulisan saya yang berkisah tentang jalan-jalan ke Bukittinggi dan dimuat di rubrik Plesir majalah Sekar.  

Menikmati pesona Bukittinggi selama sehari-semalam, tidaklah cukup. Namun dalam waktu yang sangat singkat itu, saya segera jatuh cinta pada kota berhawa sejuk yang terletak sekitar 900 meter diatas permukaan laut tersebut. Tak hanya dimanjakan pemandangan keindahan alam, Bukittinggi juga kaya akan budaya dan jejak sejarah masa lampau. Jangan lupakan pula sajian kulinernya yang enak dipandang dan sedap menggoyang lidah. Kunjungan ke Bukittinggi memang wisata yang memanjakan seluruh pancaindera dan meninggalkan kesan yang tidak mudah hilang.
Hari sudah sore ketika saya meluncur meninggalkan kota Padang menuju Bukittinggi. Perjalanan Padang-Bukittinggi melewati kota Padang Panjang selama 2 jam nyaris tidak terasa karena cantiknya pemandangan di sisi jalan. Bukit dan tebing menghijau diantarai kecipak sungai berair jernih yang mengalir deras disela-sela batu besar.  Uniknya, sungai itu mengalir tepat di sisi jalan raya, membuat saya mau tak mau berhenti sejenak  untuk menikmati keindahan sungai dan pemandangan alam sekitar.  Tak lupa saya mampir di air terjun lembah Anai yang berada tepat disisi jalan. Cukup mengeluarkan uang sebesar tiga ribu rupiah perorang, kita sudah dapat menikmati sejuknya air terjun yang tingginya sekitar 60 meter dan berair jernih ini.  Saya pun menyempatkan singgah di Warung Sate Padang Mak Sukur di tepi jalan kota Padang Panjang. Seporsi sate Padang seharga delapan belas ribu rupiah dan segelas teh susu telor ternyata cukup mengobati lapar bahkan hingga malam menjelang.  Tak lupa saya sempatkan juga mampir di kios kecil di sisi jalan untuk mencicipi Sala Lauak, cemilan gurih yang terbuat dari  campuran tepung  beras dan ikan. 

Senja sudah temaram ketika saya memasuki kota Bukittinggi. Pemandangan Jam Gadang segera menyambut saya. Kabut tipis yang berarak turun menyelimuti puncak jam yang berdiri tegak sama sekali tak menyurutkan keramaian di sekitarnya. Tak jauh dari situ, tampak para pedagang meramaikan malam. Tak hanya penjual souvenir dan kripik Sanjay, beberapa penjual mukena dan kerudung tampak menggelar lapaknya malam itu. Sepotong mukena border cantik buatan Bukittinggi yang tersohor itu, segera beralih ke tangan saya. Oya, jangan sungkan untuk menawar apabila dirasa harga terlalu tinggi.
Cuaca yang semakin dingin mengingatkan saya untuk segera beranjak dan mencari tempat menginap malam ini, sekedar meluruskan badan yang penat. Deretan penginapan di kawasan Teuku Umar menjadi pilihan saya malam itu. Harganya murah-meriah, cukup terjangkau di kantong. Tak perlu merogoh kantong terlalu dalam, dengan uang sekitar 175 ribu (hari kerja) fasilitas kamar sederhana dengan double bed dilengkapi air mandi hangat dan TV berukuran 14 inci sudah bisa diperoleh. Tempat ini cukup strategis dan memungkinkan saya berjalan kaki untuk menuju beberapa kawasan wisata selama di Bukittinggi. 

Melihat Ngarai Sianok dari Janjang Koto Gadang
Pagi hari, saya dibangunkan oleh adzan dan ceramah subuh di masjid dekat penginapan. Suasana religius yang kental mewarnai pagi di Bukittinggi. Tanpa membuang waktu, setelah menunaikan ibadah sholat subuh, saya segera beranjak menuju Janjang Koto Gadang atau dikenal dengan Great Wall yang baru diresmikan 26 Januari 2013 lalu untuk menikmati pemandangan Ngarai Sianok.  Ngarai Sianok bisa dinikmati melalui berbagai sisi. Salah satunya adalah melalui Janjang Koto Gadang yang menghubungkan Koto Gadang dengan Ngarai Sianok   melalui jalur tangga sepanjang  kurang lebih satu kilometer.


Tangga yang mendaki, bentuk tembok dan susunan batu bata segera mengingatkan saya pada Great Wall atau Tembok Raksasanya  China. Tampak bangunan tembok  masih baru yang sayangnya, tak luput dari corat-coret tangan jahil. Udara pagi yang sejuk serta halimun yang menempel di dedaunan  menyambut saya pagi itu. Hamparan sawah yang menghijau dilatarbelakangi pebukitan sungguh melenakan mata. Sebuah jembatan kayu dengan muatan maksimal 10 orang  harus saya lalui  untuk mencapai Great Wall. Undakan tangga yang  curam cukup menguras keringat, namun rasa penasaran akan keindahan view dari puncak tangga mengalahkan segalanya. Tiba di puncak, tampak di kejauhan  bentangan lembah   persawahan dengan kabut tipis yang menggantung. Sementara di seberang samar-samar terlihat pagar taman Panorama yang merupakan salah satu point of view dalam memandang keindahan Ngarai Sianok. 
Puas memandangi dan meresapi keindahan alam sambil beristirahat melepas lelah, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah Nagari atau desa Koto Gadang. Seruas jalan aspal yang mulus  diselingi beberapa pohon coklat, saya tempuh sambil berjalan kaki. Sembari  berjalan, saya pandangi beberapa rumah penduduk di sisi jalan yang masih kental akan sentuhan tradisi, mengingatkan saya akan kisah yang saya pernah baca tentang suasana  perkampungan Minang. Jalan yang tidak terlalu lebar dengan rumah-rumah  berjendela besar memungkinkan para penduduk  saling bertukar sapa. 

Pada beberapa rumah saya mendapati tulisan yang menawarkan menu masakan gulai  itiak lado Ijau yang terkenal sebagai makanan lezat khas daerah setempat. Hanya sayangnya, hari masih sangat pagi tak memungkinkan saya untuk singgah dan mencicipinya.  Tak lama berjalan, saya jumpai sepetak pasar kaget tempat penduduk berjualan dan membeli kebutuhan sehari-hari. Perut lapar dan tenaga yang terkuras  segera terobati dengan satu porsi ketupat sayur dan pical dengan harga murah-meriah, cukup lima ribu untuk ketupat sayur dan enam ribu untuk pical plus ketupat. Ketupat yang padat disiram  kuah sayur dan kacang serta ditaburi kerupuk merah segera menuntaskan sarapan saya yang nikmat pagi itu.
Lepas dari pasar kaget, saya segera menyetop angkot untuk kembali menuju pusat kota Bukittinggi.  Sepanjang perjalanan melewati Nagari Koto Gadang adalah  pemandangan yang elok. Areal pesawahan yang menghijau segar sekali lagi memanjakan  mata saya. Sesekali tampak bangunan surau, masjid desa maupun rumah adat yang megah. Sebuah bangunan perpustakaan desa menjadi symbol betapa penduduk desa adalah insan cerdas yang haus akan ilmu. Perpustakaan itu seolah menjadi saksi bisu yang bercerita tentang jejak perantau Koto Gadang yang menjadi kaum terpelajar dimana-mana.

Taman Panorama, Lubang Jepang dan Kebun Binatang
Saya tiba di  Taman panorama setelah berganti angkot sebanyak dua kali.  Cukup membayar lima ribu rupiah untuk memasuki taman Panorama, sudah termasuk tiket untuk memasuki Gua Jepang. Lagi-lagi view Ngarai Sianok segera memanjakan mata saya tatkala memandangnya dari Panorama.  Beberapa ekor monyet tampak asyik bercengkrama di dalam taman. Pemandangan Ngarai Sianok dari Taman Panorama ini lebih sempurna karena dapat melihat pemandangan lembah yang memanjang dan berkelok, yang sebelumnya tidak tampak dari Great Wall. Tampak bentangan Ngarai Sianok sejauh 15 km  dengan lebar sekitar 200 meter dan dalam 100 meter.  Di bagian dasarnya tampak sungai Sianok  yang berkelok mengalir sampai di kejauhan. Dari taman panorama ini pula kita dapat memasuki Gua atau lubang Jepang dengan jalan masuk  tangga yang cukup curam.
Setelah puas menikmati pemandangan Ngarai Sianok dari Taman Panorama, kami segera bergegas menuju Benteng Fort De Kock yang terletak di dalam Kebun Binatang Kinantan. Kontur daerah Bukittinggi yang naik-turun dan panas matahari yang mulai menyengat  di pagi menjelang siang itu membuat  langkah saya mulai terasa berat. Akan tetapi dekatnya jarak antar tempat wisata yang ingin saya kunjungi, membuat saya tetap bersemangat. Sangat disarankan memakai sepatu dan pakaian yang nyaman apabila ingin berkeliling ke beberapa area wisata di Bukittinggi sambil berjalan kaki ala backpacker.

Cukup membayar 10 ribu kita dapat mengunjungi area Benteng Fort De Kock dan Rumah Adat Baanjuang yang termasuk dalam areal kebun binatang. Dari arah benteng Fort De Kock untuk menuju rumah adat Baanjuang, saya harus melalui jembatan Limpapeh yang terletak tepat di atas jalan yang cukup ramai di Bukittinggi. Untuk memasuki rumah adat Baanjuang, hanya perlu membayar sebesar dua ribu rupiah, selanjutnya saya dapat menyaksikan beragam peninggalan budaya Minang yang tersimpan di rumah adat ini. Mulai dari perhiasan, alat masak, peralatan bermain sampai miniature rumah maupun pakaian adat tertata rapi disini. Tersedia juga pelaminan pengantin Minang  yang cantik. Kita bisa berfoto ala pengantin Minang dengan membayar lima puluh ribu rupiah untuk mendapat 3 lembar foto cantik sebagai kenang-kenangan.
Keluar dari kebun binatang, tak lupa saya sempatkan makan siang di Benteng Family Restaurant yang konon merupakan asal muasal tersedianya menu ayam pop. Tak perlu khawatir, meski di plangnya tercantum spesifik untuk masakan ayam pop dan ikan bakar, pada kenyataannya menu masakan padang lainnya juga disajikan disini. Harga nasi plus ayam pop cukup bersaing, yaitu sekitar enam belas ribu rupiah saja.

Rumah Kelahiran Bung Hatta
Tujuan saya siang ini untuk mengakhiri kunjungan di Bukittinggi adalah  Istana Bung Hatta dan rumah kelahiran Bung Hatta. Hanya saja, kami hanya dapat memandangi Istana Bung Hatta dari kejauhan sebab istana tersebut tidak menerima kunjungan. Sebaliknya, rumah kelahiran Bung Hatta terbuka untuk umum. Pengunjung diperbolehkan masuk dengan gratis dan melihat-lihat kondisi rumah bersejarah tersebut.  Selama beberapa waktu berikutnya, kita seolah diajak kembali ke masa silam untuk menelusuri jejak-jejak sejarah kehidupan Bung Hatta. Tatanan ruangan yang tidak banyak berubah  dengan furniture antik serta jajaran foto di dinding seolah menjadi saksi bisu yang menceritakan kisah-kisah bersejarah dari tokoh proklamator Indonesia itu.
Rumah kelahiran Bung Hatta terdiri dari beberapa ruangan. Paling depan di sisi kiri pintu masuk adalah ruang baca Bung Hatta. Ruangan yang sangat sederhana, terdiri dari sebuah tempat tidur dan sebuah lemari kaca berisi buku-buku. Namun dibalik kesederhanaan ruangan itu, tersimpan semangat belajar yang tak kunjung padam.  Masuk ke dalam rumah di lantai bawah,  terdapat beberapa kamar di sisi kanan dan kiri serta ruang duduk di tengah kamar. Di lantai dualah terdapat kamar yang merupakan tempat kelahiran Bung Hatta.  Sementara di bagian belakang rumah terdapat lumbung padi, dapur, kamar mandi, bendi serta kamar bujang yang merupakan tempat diletakkannya sepeda yang sering digunakan Bung Hatta. Ruang makan terdapat disisi kiri rumah dekat tangga yang menuju ke lantai dua. Meski ruang makan tidak terlalu luas namun terlihat nyaman, menyiratkan kehangatan dari sang pemiliki rumah.

 Lepas Dhuhur, dengan enggan saya beranjak meninggalkan Bukittinggi, sembari tak lupa membawa berjuta kisah. Kisah tentang nagari elok yang keindahannya sungguh mempesona. Kisah tentang semangat belajar rakyatnya serta jejak-jejak sejarah kaumnya yang patut menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.

Berkemah di Gunung Masigit, Kareumbi



Semilir angin pegunungan  terasa sejuk membelai kulit ketika  kendaraan yang saya sekeluarga tumpangi mulai bergerak mendaki jalan menuju arah Gunung Masigit. Setelah satu setengah jam meninggalkan hiruk pikuk dan macetnya Bandung menuju arah Cicalengka, sungguh menyegarkan rasanya menghirup udara segar serta menikmati teduhnya  pepohonan rindang di sisi jalan.
Jalan yang kami tempuh tidak sepenuhnya mendaki, namun adakalanya melandai membuat kami bisa menepi untuk sesaat melepas lelah. Sembari beristirahat, kami menikmati view daerah Cicalengka di sekitarnya dan kawasan Bandung dari kejauhan. Meski sinyal handphone tidak lagi bersahabat saat kami memasuki kawasan Gunung Masigit, namun hal ini tidak mengurangi kegembiraan dan suasana riang yang dirasakan. Riang karena rindu yang sebentar lagi akan terpuaskan.  Ya, rindu ingin menikmati nyanyian alam, gemerisik dedaunan, pepohonan, udara segar serta suara burung bersahutan  di kedalaman hutan Gunung Masigit yang asri.
Berkendara sekitar satu setengah jam dari wilayah timur kota Bandung ke arah kecamatan Cicalengka, kawasan ini lebih dikenal dengan Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit, Kareumbi dengan luas sekitar 12.420,70 hektar (sumber : http://kareumbi.wordpress.com). Pintu masuk yang kami lalui terletak di kampung Leuwiliang, Desa Tanjungwangi, kecamatan Cicalengka.
Sejak pintu masuk ke  kawasan ini, tampak pemandangan pepohonan Rasamala dan beberapa jenis pohon lainnya yang  berukuran cukup besar.  Tanah yang lembab dan  suasana yang  agak gelap karena cahaya matahari hanya dapat menerobos di sela-sela lebatnya dedaunan  segera menyambut kami.  Tak jauh dari situ, melewati  beberapa ruas pembibitan pohon  akhirnya kami sampai juga ke salah satu Camping Ground yang ada di Kareumbi. Camping Ground ini berupa tanah lapang yang cukup luas dinaungi  pepohonan  serta sebuah kolam  disisinya  yang dilengkapi bangunan sederhana.
Menjumpai lapangan berumput yang luas di tengah kerindangan pepohonan dan sejuknya udara pegunungan,  anak-anak dengan lincah dan bersemangat segera berlari  ke segala penjuru. Tanpa segan mereka segera  mengejar belalang yang berlompatan di rerumputan atau bermain dengan potongan ranting yang berguguran. Segarnya, sesaat melepas penat  menikmati suasana  bebas polusi dan bebas dari kemacetan yang biasa ditemui di keseharian
Tepat di sisi lapangan tampak beberapa tenda dengan warna-warni mencolok yang sudah didirikan,  dapat disewa dengan harga terjangkau dan siap untuk ditempati.  Di tengah-tengah lapangan tampak bekas-bekas api unggun menandakan area perkemahan ini cukup sering digunakan. Untuk kegiatan memasak yang sederhana seperti sekedar menggoreng atau merebus air untuk membuat mie instant atau menyeduh kopi, dapat dilakukan di sekitar tenda. Tentunya dengan tetap memperhatikan keamanan dan kebersihan lingkungan. Namun, apabila kondisi tidak memungkinkan untuk memasak  atau anak-anak tidak terlalu cocok dengan menu yang kita siapkan, tidak perlu khawatir karena berjarak beberapa meter dari area camping ground ada sebuah warung yang menjual makanan. Kita bisa membeli nasi berlauk ayam atau telur goreng untuk dimakan.
Sedangkan untuk kegiatan MCK, Mandi-cuci-kakus juga tidak perlu khawatir karena  kamar mandi atau toilet telah tersedia di beberapa tempat pada area bumi perkemahan. Salah satunya di  dekat warung nasi maupun sisi lain area perkemahan yang lebih menjorok ke dalam hutan. Meski fasilitasnya sederhana, namun merasakan cipratan kesegaran air pegunungan sungguh memberi nuansa  tak terkira.

Duduk santai sembari berbincang di serambi tenda beralaskan tikar sambil menikmati  alam hutan Gunung  Masigit merupakan salah satu  alternative refreshing yang cukup menyegarkan. Namun apabila masih dirasa kurang variatif, pihak pengelola kawasan konservasi sudah menyediakan beberapa aktivitas  yang menarik dan cukup  menantang seperti hiking, bersepeda dan menginap di rumah pohon. Sekadar mendaki lebih jauh masuk ke dalam hutan pun cukup menyenangkan, menjumpai air yang mengalir bening dan jernih  di sela-sela bebatuan.
Sembari melihat-lihat, saya mengamati di sela-sela semak  dan tetumbuhan  di sekeliling hutan  tampak  area  berisi beberapa tanaman  berukuran sedang atau lebih kecil. Tanaman tersebut ditanam dengan jarak teratur  dan  diberi tanda  berupa papan kayu yang bertuliskan beberapa nama instansi. Ternyata tanaman ini bukan sembarang tanaman, melainkan merupakan salah satu  bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang diadakan oleh pengelola  konservasi, yaitu wali pohon. Cukup membayar lima puluh ribu  perbatang pohon, kita dapat menjadi wali pohon yang artinya kita dapat berperan serta untuk menanam dan merawat  bibit pohon tersebut.
Satu malam menghabiskan  hari di  bumi perkemahan Gunung Masigit Kareumbi  bagaikan menikmati  sepotong surga yang hilang di  tengah keriuhan kota Bandung. Sungguh  banyak manfaat yang bisa didapat dengan mengajak anak-anak untuk kemping di bumi perkemahan Gunung Masigit.  Tanpa menyita waktu banyak ataupun  menghabiskan liburan berhari-hari, anak dapat belajar dan bermain di alam dengan beragam kegiatan yang menyehatkan sekaligus mengeratkan ikatan antar anggota  keluarga.  Seandainya memungkinkan, sebagai penduduk  Bandung  sempatkanlah  berkunjung   bersama keluarga ke kawasan konservasi Gunung Masigit untuk mengenalkan alam kepada anak-anak tercinta. Lebih baik lagi apabila mengajak keluarga besar, teman-teman atau komunitas untuk mempererat jalinan silaturahmi sembari menikmati segarnya alam Gunung Masigit.

Senin, 09 September 2013

Tentang Buku Panduan Perjalanan Haji untuk Perempuan


Hakikat ibadah haji bagi kaum muslim maupun muslimah sama pentingnya. Sebagai hamba, tiada bedanya laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT dalam melaksanakan ibadah haji. Tetapi perjalanan haji bagi perempuan memiliki kekhususan. Sesuai fitrahnya, banyak hal yang akan dihadapi oleh perempuan dalam perjalanan haji. Seluruhnya menyangkut kondisi fisik dan psikologis perempuan yang membutuhkan keamanan dan kenyamanan selama perjalanan. 

Buku ini berisi:
-Persiapan calon jemaah haji perempuan, sejak persiapan di tanah air, hingga kepulangan kembali.
-Dilengkapi kisah inspiratif, tips, informasi pengetahuan, daftar do and don't serta foto penunjang.
-Ditambah paparan informasi dan pengalaman ketika menunaikan ibadah haji bersama anak kecil, atau orangtua.  



Jumat, 06 September 2013

Buku Panduan Perjalanan Haji untuk Perempuan

Alhamdulilaah...
Setelah menunggu dalam kurun waktu yang cukup lama, akhirnya terbit juga buku solo perdana saya hasil kerjasama dengan Indscript Corp & Penerbit Elex Media.
Sebuah persembahan dari hati untuk kaum muslimah yang berniat melakukan perjalanan menunaikan ibadah haji.
Buku ini juga merupakan wujud kerinduan saya untuk kembali bersujud dan bersimpuh di rumahNya. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemudahan..amiin...amiiin...ya Robb... Juga wujud kerinduan yang tak pernah putus akan kota tercinta saya, Madinah Al Munawwaroh...

Bismillah....






Selasa, 13 Agustus 2013

Tulisan Perjalanan ke China di Majalah Sekar

Alhamdulillaah.. lagi-lagi tulisan perjalanan ke China Januari lalu dimuat di rubrik Plesir majalah Sekar edisi akhir juli-awal agustus 2013.
Bertambah lagi satu profesi selain profesi utama sebagai ibu rumah tangga dan psikolog, juga profesi sampingan (baru) sebagai travel writer :)) Ternyata menarik juga ya profesi travel writer; selain bisa menikmati karunia Allah swt  berupa keindahan alam dan  kekayaan budaya yang tiada habisnya kita juga bisa menuliskannya sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu kelak plus dapat honor pula (sst..... lumayan kalau dikumpulin mah bisalah buat dipakai jalan-jalan lagi ;p)
subhanallah... alhamdulillah..

Tertarik untuk menulis di majalah sekar?
Silakan tulis kisah perjalanan anda dan segera email ke : sekar@gramedia-majalah.com  jangan lupa  sertakan foto-foto cantik. 
Happy writing :))
 






Meningkatkan kemampuan Bicara Balita Anda


Kemampuan bicara anak merupakan salah satu kemampuan dasar yang perlu dikuasai anak. Perkembangan kemampuan bicara akan menunjang perkembangan aspek-aspek lainya seperti kemampuan dan keterampilan anak dalam berkomunikasi, berbahasa dan membaca. Kemampuan ini dapat distimulasi dan dilatih sejak dini bahkan sejak anak masih didalam kandungan. Berikut beberapa tips yang dapat dipraktekkan oleh ayahbunda untuk meningkatkan kemampuan bicara anak di usia  balita
1. 1. Memperdengarkan bunyi-bunyian atau mengajak bicara sejak di dalam kandungan
Sejak masa kehamilan sebaiknya sering diperdengarkan berbagai bunyi kepada bayi dalam kandungan atau mengajaknya bicara. Lantunan ayat suci Al Qur’an dari bunda/ayahnya, music yang lembut atau music klasik  bahkan sapaan dari orang-orang sekitar sangat bermanfaat untuk mengenalkan bunyi pada sang jabang bayi.
2. 2. Being Talkactive Mom or dad
Meski mungkin sebelumnya ayahbunda adalah orang yang pendiam, namun menghadapi anak usia batita &/balita kita harus menjadi orang yang “cerewet”. Siapa lagi yang bisa menstimulasi kemampuan bicaranya kecuali Anda sebagai orangtuanya?
3. 3. Bila membicarakan suatu benda yang berwujud kongkrit, apabila memungkinkan tunjukkan benda yang dimaksud, kalau perlu biarkan anak menyentuhnya
Anak tak hanya perlu mengetahui nama benda yang dimaksud, tetapi ia pun perlu mengetahui bagaimana wujud, rupa dan bentuk dari benda untuk mengenalkan konsep tentang benda tersebut kepada anak.
4. 4. Buatlah anak nyaman berbicara dengan anda
Berbicara dengan lembut namun intonasi tetap jelas. Suara yang terlalu keras atau bernada seperti membentak, akan membuat anak tidak nyaman. Biasakan selalu berbicara dengan nada yang lembut dan beri perhatian penuh tatkala anak hendak berbicara.
5. 5. Ajak anak melihat cara pengucapan anda, termasuk gerak bibir dan posisi lidah ketika mengatakan sesuatu kata yang baru.
Anak belajar mengucap dengan cara mendengar dan melihat cara pengucapan. Agar ia dapat mengucap dengan tepat, biasakanlah untuk mengucap sesuatu dengan tepat pula. Apabila anak kesulitan menirukan pengucapan, cobalah ajak anak untuk melihat dan menirukan cara pengucapan anda.
6. 6. Dengarkan anak bicara
Sesedikit apa pun waktu anda, jangan abaikan anak anda yang hendak mengajak anda bicara. Jangan pernah memadamkan keinginannya untuk mengekspresikan dirinya ketika menceritakan sesuatu kepada anda walaupun dengan pengucapan yang belum terlalu jelas dan kosa kata yang masih terbatas.
7. 7. Jangan biasakan anak berbicara dengan pelafalan yang tidak jelas
Meski ayahbunda mengetahui dan mengerti apa yang diucapkan oleh anak, tetapi belum tentu semua orang bisa mengerti, bukan? Oleh karena itu biasakanlah anak untuk berbicara dengan artikulasi dan pelafalan yang jelas. Perbaiki atau koreksi cara pengucapan anak apabila ada yang keliru. Namun tetap dilakukan dengan cara-cara yang lembut dan penuh kasih sayang. Tentunya juga jangan memaksakan kemampuan anak karena ada beberapa huruf yang pelafalannya cukup sulit untuk dikuasai anak di usia balita serta baru akan dapat dikuasai anak di tahapan usia selanjutnya misalnya huruf r, z, atau bahkan s.