Alhamdulillaah....tulisan perjalanan saya sewaktu menikmati cantiknya Bukittinggi dimuat di majalah Sekar edisi akhir juni-awal juli 2013. Pemandangan Bukittinggi memang sungguh elok. Tak henti saya mengucap asma Allah dan berdecak kagum tatkala menyaksikan betapa menawan pemandangan kelokan Ngarai Sianok dari kejauhan atau betapa cantik pemandangan sawah membentang di Nagari Koto Gadang.
Betapa indahnya Indonesia... mudah2an tahun ini saya bersama anak-anak dan ayahnya bisa berpetualang mengagumi dan mensyukuri keindahan nusantara yang merupakan karunia Allah swt.. amiin
Kamis, 18 Juli 2013
Rabu, 26 Juni 2013
Tulisan Perjalanan di Koran Pikiran Rakyat
Alhamdulillah bulan Maret 2013 lalu tulisan perjalanan saya waktu ke Museum Wushu di Shanghai dimuat di Koran Pikiran Rakyat. Tentu saja sangat menyenangkan karena akhirnya bisa tembus juga ke Pikiran Rakyat.
Ssst.. akhir Juni-awal Juli ini ada tulisan perjalanan saya ke Bukittinggi yang dimuat di Majalah Sekar edisi terbaru.
Nanti saya share ya..
Sabtu, 22 Juni 2013
Beautiful Madinah
Meski
ada angan yang terukir bahwa suatu hari kelak saya dapat berkunjung ke
kota Madinah, tak terbayangkan bahwa saya akhirnya benar-benar
menapakkan kaki disana, menghirup udaranya dan sempat merasakan jadi
bagian darinya. Madinah, kota tempat Rasulullah bermukim setelah hijrah
sampai wafatnya beliau. Kota yang amat beliau cintai setelah Mekah.
Berada di Madinah selama beberapa waktu membuat mata saya terbuka untuk
mengenal lebih jauh sisi lain kehidupan dan masyarakat kota Madinah.
Dari ‘Aisyah ra berkata; ketika kami masuk, Madinah adalah negeri tempat
bersarangnya penyakit, lalu Rasulullah saw berdo’a:Ya Allah,
berikanlah kecintaan kami kepada Madinah, sebagaimana Engkau berikan
kecintaan kepada Mekah, atau lebih dari itu, dan bersihkanlah ia serta
berkatilah kepada kami dalam makanan dan bekalnya, dan gantilah wabah
penyakitnya dengan juhfah (Shahih Bukhari, no. 1889; Shahih Muslim, no. 1376, sumber : Sejarah Madinah Munawwarah oleh Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani)
Melewati
batas kota Madinah, tampak padang pasir terhampar diselingi bukit batu
di sisi kanan dan kiri jalan raya. Suasana tampak sepi dan gersang. Satu
dua buah toko yang menjual minuman dingin dan rumah-rumah penduduk
bermunculan di sisi jalan. Mendekati pusat kota, keramaian
bertambah. Rumah dan toko yang berjajar semakin banyak. Di salah satu
sudut kota, tampak deretan toko-toko yang cukup rapi berbaris di tepi
jalan namun pada sudut kota yang lain terlihat pemandangan yang bertolak
belakang. Beberapa rumah dan bangunan tampak dibangun di bukit-bukit
batu dengan arsitektur sederhana, terkesan seadanya. Memasuki pusat
kota, tampak Mesjid Nabawi berdiri dengan megahnya. Saat itu (tahun
2005) pembangunan sedang giat dilakukan dalam rangka perluasan mesjid
Nabawi. Pemukiman dan pusat keramaian penduduk semuanya berputar
mengelilingi masjid yang sekaligus merupakan pusat kota Madinah.
Penduduk Madinah tergolong multi etnis. Mayoritas berkebangsaan Arab. Selain warga asli arab saudi, terdapat
juga penduduk yang berasal dari negara timur tengah lain seperti Mesir,
Suriah, Jordan, Libanon dan Turki. Selain itu, ada juga penduduk dari
negara asia lainnya seperti Bangladesh, India, Pakistan, Filiphina dan
Indonesia. Warga Bangladesh dan Indonesia cukup dikenal
sebagai pekerja di sektor informal seperti supir, petugas kebersihan
atau penjaga toko. Selain itu, warga negara afrika seperti Sudan juga
banyak ditemui di Madinah.
Pertama
kali tiba, saya harus memakai abaya (baju luar berwarna hitam) dan
cadar. Sempat canggung juga ketika pertama kali memakai cadar. Cadar
yang saya kenakan cukup rapat menutup wajah dan hanya menyisakan sedikit
celah untuk mata saya. Sebagian wanita warga Saudi bahkan
melengkapi cadarnya dengan tabir berupa sehelai kain tipis berwarna
hitam sehingga raut wajah mereka benar-benar tidak terlihat dari luar.
Banyak aktivitas yang biasa kami lakukan selama tinggal di Madinah. Pada
malam-malam musim panas biasanya saya berjalan santai bersama suami
untuk sholat maghrib atau isya di masjid nabawi sambil mendorong kereta
bayi sementara si kecil tertidur lelap didalamnya. Apabila ia terjaga,
ia akan menyepakkan kaki-kaki mungilnya sambil menatap langit Madinah
yang indah di waktu malam. Dari kejauhan, kemilau kubah mesjid nabawi
serta adzan yang syahdu berkumandang sungguh sempurna mengundang kami
dan warga madinah yang datang berduyun-duyun untuk segera bersujud
kepada Sang Khalik.
Kami tinggal di kawasan Tarik Salam. Jarak antara imaroh (rumah)
kami dengan mesjid Nabawi tidak terlampau jauh, bisa ditempuh setengah
jam berjalan kaki dengan santai. Sungguh nyaman menyusuri jalan sambil
melihat-lihat suasana kota. Aroma kari yang khas tercium saat kami
melewati restoran arab atau turki. Di tepi jalan, kami jumpai sekumpulan
pria yang sedang mengantre roti kubus untuk makan malam atau beberapa
anak lelaki berkulit hitam yang asyik bermain bola sambil menikmati
cuaca malam yang hangat.
Menginap di Hotel Singgasana, Surabaya
Alhamdulillah, bulan ini Bunda berkesempatan singgah di kota Surabaya sebanyak dua kali. Kedua-duanya dalam rangka pekerjaan. Alhamdulillah selain Bibik bisa dikondisikan untuk menginap sementara Bunda ke Surabaya, kebetulan pula Ibu mertua sedang singgah di Bandung, jadilah kepergian Bunda ke Surabaya diacc oleh Ayah. Meskipun memang agak berat untuk meninggalkan Fathan dan Hanif, tetapi Bunda meyakinkan diri bahwa dengan adanya Ayah, Ibu dan Bibik bisa menggantikan fungsi Bunda sementara Bunda ke Surabaya.
Alhamdulillah lagi kunjungan ke Surabaya ini selain memang menyenangkan juga sangat memuaskan buat Bunda. Kalau istilahnya mah work hard, play harder hehehe.... Disela-sela jadwal pekerjaan yang padat, kami-Bunda and team masih sempat kukurilingan Surabaya bahkan sampai ke Madura. Dan lebih menyenangkan lagi adalah fasilitas yang diberikan, termasuk transportasi dan penginapan. Di Surabaya Bunda berkesempatan menginap di Hotel Singgasana. Karena pergi agak terburu-buru, Bunda tidak sempat searching dulu di internet tentang hotel ini. Makanya Bunda agak takjub sewaktu baru tiba di hotel. Hotel ini menurut Bunda sangat recommended. Suasananya nyaman dan menu sarapannya buanyak.. Mulai dari menu nasional seperti lontong kari sampai menu internasional seperti sushi dan kimchi ada, juga kesukaan bunda yaitu dimsum. Fasilitasnya juga oke, ada kolam renang yang lumayan besar dan beberapa sepeda yang bisa digunakan gratis. Bunda jadi serasa berlibur sambil bekerja. Hanya saja jarak dari loby ke kamar yang agak jauh membuat Bunda sempat terpikir ingin menggunakan sepeda atau sepatu roda. Terpikir juga, pasti alangkah senangnya kalau bisa menginap disini bersama ayah dan krucil. Tapi waktu melihat harganya hehehe.. lumayan juga ya.. Jadi dinikmati saja ya berlibur sambil bekerja ini.. Mumpung haratis...
Kalau yang penasaran bisa lihat foto-foto di Hotel Singgasana ini.
Alhamdulillah lagi kunjungan ke Surabaya ini selain memang menyenangkan juga sangat memuaskan buat Bunda. Kalau istilahnya mah work hard, play harder hehehe.... Disela-sela jadwal pekerjaan yang padat, kami-Bunda and team masih sempat kukurilingan Surabaya bahkan sampai ke Madura. Dan lebih menyenangkan lagi adalah fasilitas yang diberikan, termasuk transportasi dan penginapan. Di Surabaya Bunda berkesempatan menginap di Hotel Singgasana. Karena pergi agak terburu-buru, Bunda tidak sempat searching dulu di internet tentang hotel ini. Makanya Bunda agak takjub sewaktu baru tiba di hotel. Hotel ini menurut Bunda sangat recommended. Suasananya nyaman dan menu sarapannya buanyak.. Mulai dari menu nasional seperti lontong kari sampai menu internasional seperti sushi dan kimchi ada, juga kesukaan bunda yaitu dimsum. Fasilitasnya juga oke, ada kolam renang yang lumayan besar dan beberapa sepeda yang bisa digunakan gratis. Bunda jadi serasa berlibur sambil bekerja. Hanya saja jarak dari loby ke kamar yang agak jauh membuat Bunda sempat terpikir ingin menggunakan sepeda atau sepatu roda. Terpikir juga, pasti alangkah senangnya kalau bisa menginap disini bersama ayah dan krucil. Tapi waktu melihat harganya hehehe.. lumayan juga ya.. Jadi dinikmati saja ya berlibur sambil bekerja ini.. Mumpung haratis...
Kalau yang penasaran bisa lihat foto-foto di Hotel Singgasana ini.
Jumat, 21 Juni 2013
MEMILIH PRASEKOLAH YANG TEPAT UNTUK ANAK
Bulan–bulan ini, Ayahbunda yang
memiliki anak usia pra sekolah pasti sedang sibuk-sibuknya mencari
pendidikan pra sekolah yang sesuai untuk buah hati tercinta. Seiring meningkatnya
kesadaran akan pentingnya pendidikan anak sejak dini, kebutuhan untuk
menyekolahkan anak terutama pada masa-masa golden
age (1 – 5 tahun) semakin nyata. Kondisi ini disambut hangat kalangan
bisnis dan praktisi pendidikan.
Pendidikan pra sekolah menjamur di sudut-sudut kota yang strategis.
Singkatnya, berbagai pilihan pendidikan pra sekolah tersedia lengkap. Orangtua
dimanjakan pilihan yang beraneka ragam. Namun demikian, tetap dituntut kejelian
untuk memilih pendidikan pra sekolah yang tepat bagi anak.
Tentu saja ada faktor-faktor yang perlu menjadi acuan orangtua sebelum
memutuskan pendidikan prasekolah yang terbaik bagi anak. Menurut Marian Edelman Borden dalam buku Smart Start: The Parents’ Complete Guide to
Preschool Education yang diterbitkan oleh Kaifa, secara ringkas informasi
yang perlu diketahui oleh orang tua sebelum menentukan pendidikan pra sekolah
untuk anaknya adalah sebagai berikut :
1.
Perbandingan jumlah guru dan murid untuk menjamin
kualitas pendidikan dan pengasuhan di sekolah tersebut
2.
Latar belakang pendidikan para staf terkait dengan
kualitas sumber daya yang profesional
3.
Sekolah yang sudah terakreditasi dan memiliki izin dari
pemerintah lokal dan pihak yang berwenang termasuk dari departemen kesehatan.
4.
Brosur
Teliti baik-baik, apakah isi brosur sesuai dengan kenyataan yang didapati
pada saat orang tua mengunjungi sekolah itu? Apakah kegiatan yang ada sesuai
dengan tujuan perkembangan pada tahap perkembangan anak usia pra sekolah ? Pada
usia pra sekolah semestinya lebih menekankan hal-hal mendasar, seperti: belajar
berbagi, kerja sama, menjelajahi dunia sekitar, menggunakan pancaindra untuk
tumbuh secara intelektual, emosional dan fisik.
5.
Lokasi
Tentukan dengan jelas lokasi yang praktis serta paling memungkinkan bagi
orang tua dan aman bagi anak.
6.
Lingkungan
Untuk lingkungan dalam kelas, lihatlah apakah ruang kelas cukup luas,
bersih, terawat dan tertata dengan baik, memiliki sirkulasi udara yang bagus
dan lembab, pencahayaan yang
memadai serta keamanan yang terjamin?
Untuk lingkungan di luar gedung sekolah harus aman dan terawasi dengan
baik pada saat kedatangan dan pulang
sekolah. Halaman bermain harus memenuhi segala persyaratan dan perlengkapan
anak untuk dapat bermain tetapi juga harus aman dan terlindung (berpagar).
7.
Para staf pendidik yang bertanggung jawab di sekolah
Meskipun para staf pendidik memiliki gaya pendekatan dan kepribadian yang
berbeda, yang harus diketahui dengan pasti adalah apakah mereka menikmati
pekerjaan mereka sebagai guru. Apakah mereka sungguh-sungguh menyukai anak-anak
? Bagaimana mereka menangani masa adaptasi anak di lingkungan atau kegiatan
baru? Bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak, baik bahasa tubuh maupun
penggunaan bahasanya, apakah ia benar-benar mendengarkan anak? Bagaimana
disiplin yang diterapkan? Bagaimana cara guru menghadapi anak yang sulit diatur?
serta bagaimana interaksi guru dengan anak? Namun yang perlu
diperhatikan secara keseluruhan adalah perhatikan ekspresi anak-anak selama
belajar, apakah mereka tampak bahagia, tertarik dan sibuk dengan kegiatannya?
Dari semua point diatas, kalau boleh menambahkan, hal terpenting adalah mengenalkan pendidikan agama termasuk
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai pondasi yang paling mendasar
bagi perkembangan anak selanjutnya. Kedua, kenali kecenderungan karakter dan kebutuhan
anak. Meski saat ini, banyak pendidikan
pra sekolah yang menawarkan
pendekatan multidisiplin, baik dari aspek psikologis, agama, fisik dan lainnya,
tetap harus diperhatikan bahwa setiap pra sekolah memiliki program unggulan
masing-masing. Apabila anak memerlukan lingkungan yang menekankan sosialisasi
dan perkembangan emosi yang baik, Anda dapat memilih pendidikan pra
sekolah dengan pilihan kegiatan yang
mengutamakan hal tersebut. Demikian pula apabila anak cenderung lebih mudah
menyerap informasi melalui gerakan maka pilihlah sekolah yang
banyak menekankan kegiatan olah tubuh
sebagai sarana mengembangkan kreativitas dan aktivitas anak untuk
menyalurkan energinya. Tidak dianjurkan untuk memilih pra sekolah yang
mengajarkan keterampilan calistung tapi pilihlah pendidikan pra sekolah yang
lebih terarah pada kegiatan yang mendorong minat belajar, memfasilitasi rasa
ingin tahu serta meningkatkan wawasan pengetahuan anak tentunya melalui berbagai
kegiatan yang sesuai. Nah, sudahkah Anda memilih sekolah yang tepat bagi
pendidikan pra sekolah anak tercinta Anda?
Sabtu, 15 Juni 2013
Singapore, Kota yang Mendidik Pelancong
Sekali lagi, saya mendapat
kesempatan untuk mengunjungi Singapore. Mungkin bagi sebagian orang,
jalan-jalan ke Singapore merupakan hal yang biasa, semudah membalik telapak
tangan. Namun, bagi saya, kesempatan beranjangsana ke Singapore merupakan suatu
hal yang cukup luar biasa. Maka saya coba menikmati moment-moment selama
transit di Singapore meski waktu yang
ada cukup mepet, hanya 24 jam atau sehari semalam saja.
Meski bukan kunjungan pertama
saya, namun sejujurnya baru pada
kunjungan kali ini saya mendapat kesempatan untuk belajar dari Singapore. Sejauh ini yang membuat saya
terkesan, saya merasa dengan segala kondisi yang ada dan fasilitas yang
terintegrasi dengan baik, seolah-olah Singapore sedang dan telah “mendidik”.
Tidak hanya bagi warganya namun juga sekedar
pelancong backpacker seperti saya.
Pelajaran pertama adalah
kemandirian. Dimulai dengan menggunakan transportasi MRT, sebagai angkutan
massal di Singapore. Meski cukup tekan rute tujuan dan memasukkan jumlah dollar
Singapore sesuai jarak tempuh di mesin otomatis yang tersedia, namun tetap
dituntut kemandirian, setidaknya untuk membaca peta kota Singapore dan membeli kartu
sampai dengan penggunaannya. Perlu untuk mandiri secara teknologi.
Untungnya hal ini diiringi petunjuk dan aturan yang jelas, sehingga bisa
mengurangi kebingungan para wisatawan. Waktunya? Cepat dan praktis! Tiba di
tujuan tanpa macet.
Nyasar? Jangan tanya jalan pada sembarang orang bak di
Indonesia. Pelajaran kedua, Ikuti dan patuhi petunjuk yang resmi. Baik berupa
tulisan dalam beberapa bahasa baik
bahasa Inggris maupun Melayu. Bisa juga bertanya ke pusat informasi turis.
Tidak semua orang tahu tempat yang ingin kita tuju, meski tempat itu cukup
terkenal. Apalagi jika orang tersebut adalah kaum pendatang atau imigran, jangan-jangan
ia malah tidak paham bahasa Inggris.
Pelajaran ketiga, patuh dan taat pada
aturan. Di dalam stasiun MRT tercantum dengan jelas peraturan dilarang merokok
bahkan juga makan durian. Kalau tidak,
akan didenda ratusan bahkan ribuan dollar Singapore (1 dollar Singapore =
sekitar 8 ribu rupiah). Hukum reward dan punishment yang mengacu pada
kepentingan umum tampak jelas.
Punishmentnya adalah denda yang teramat besar, sementara rewardnya adalah
kebersihan lingkungan dan fasilitas umum
yang terjaga dengan baik.
Pelajaran keempat, menjaga
kebugaran dan kesehatan dengan jalan kaki. Turun dari MRT jangan harap ada ojeg
atau becak yang melintas.
Bersiap-siaplah memakai sepatu yang nyaman dan bawaan jangan terlalu berat.
Memang untuk yang tidak biasa dan di Indonesia banyak mengandalkan motor, mobil
atau angkot seperti saya, kaki lumayan pegal. Tapi tanpa disadari ini merupakan
kegiatan yang menyehatkan dan murah tentunya. Tidak perlu keluar banyak uang
untuk fitness tapi badan sudah terasa bugar. Ditambah dengan metode “jalan
cepat” yang diterapkan kebanyakan warga kota dan dengan pemandangan hijau yang
menyegarkan dan polusi yang minimal. Setidaknya di atas trotoar dan diluar
stasiun MRT. Badan bugar, mata segar.
Cukup satu hari, sehari semalam
di Singapore saya telah mendapat banyak pelajaran. Kota yang terintegrasi
dengan baik, dalam bentuk aturan yang konsisten dan fasilitas umum yang terjaga
ternyata secara nyata berusaha mendidik
warganya untuk mandiri, patuh mengikuti aturan serta sehat dan bugar. Jangan
bandingkan dengan Bandung, atau kota lain yang paciweuh; banyaknya warga yang “nyaman” menggunakan kendaraan pribadi berupa motor
dan mobil. Kemudian berlomba-lomba bersaing dengan angkutan umum memenuhi
jalan. Bahkan terkadang sering tidak mengindahkan aturan. Akibatnya, waktu di jalan yang lama habis akibat
macet yang disertai “keterpaksaan” menghisap polusi udara. Membuat tidak sehat jiwa dan raga.
Namun demikian, setiap hal ada
sisi baik atau buruk. Di Indonesia meski kondisi demikian ternyata masih
memungkinkan masyarakat berinteraksi. Entah mengeluh tentang kemacetan dengan
sesama pengguna angkot atau bahkan sesama
pengguna kendaraan yang “bersitegang” di jalanan. Hal ini yang belum saya
jumpai di Singapore. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Mudah-mudahan
kelak dalam hal ini Indonesia bisa lebih baik. Mampu mendidik warganya tanpa
harus kehilangan kehangatan dan kepedulian
yang menjadi salah satu ciri khas masyarakatnya.
Eksplorasi ke Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan, bermain sambil belajar
Eksplorasi ke Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan, bermain sambil belajar
Hendak menghabiskan waktu libur
bersama anak yang cuma sebentar dengan biaya murah meriah? Hendak mencari tempat yang menghibur sekaligus
mendidik bagi anak? Salah satu alternatif
yang saya sarankan adalah Puspa Iptek Kota baru Parahyangan. Untuk warga
Bandung dan sekitarnya, Puspa Iptek memang bukan tempat yang asing.
Tidak lebih dari 5 menit selepas
tol Padalarang, memasuki kota baru Parahyangan kita akan langsung disambut oleh
sebuah bangunan berbentuk unik dengan warna mencolok. Pada bangunan tersebut terdapat sun dial atau
jam matahari yang merupakan jam matahari terbesar di Asia Tenggara.
Banyak sekali peralatan atau
percobaan yang disajikan di museum ini. Beberapa di antaranya, bola melayang,
kursi paku, cermin tak hingga, momentum, gravitasi, kaleidoskop, pompa air
Archimedes, sampai wajah nengok. Ditanggung, anak-anak pasti akan sangat
tertarik untuk mengeksplorasi dan bereksperimen dengan beragam percobaan
disana. Nah, supaya kunjungan bisa berjalan efektif baik untuk anak-anak maupun
ayah bundanya, ada beberapa tips nyaman
berkunjung ke Puspa Iptek :
-
Perkirakan waktu yang tepat.
Jam buka Puspa
Iptek mulai dari pukul 08.30 sampai
dengan pukul 16.00. Lebih pagi tiba di sana,
akan lebih nyaman karena udara masih cukup segar. Selain itu, pilih hari yang
tepat untuk berkunjung. Sebaiknya berkunjung
pada hari-hari dimana anak
sekolah umumnya belum libur besar atau masih di awal-awal tahun ajaran baru.
Puspa Iptek merupakan tempat favorit untuk dikunjungi oleh sejumlah sekolah.
Oleh karena itu, apabila kita berkunjung kesana sekeluarga, akan lebih nyaman
apabila suasananya tidak terlalu ramai. Anak pun lebih leluasa mengamati dan
mencoba berbagai peralatan yang tersedia di sana. Selain itu, kita pun bisa mendapatkan penjelasan secara langsung dari petugas museum tentang
berbagai eksperimen yang dilakukan.
Apabila berkunjung bersamaan
dengan rombongan anak sekolah, selain tempat akan lebih sesak, pembelajaran
anak terhadap berbagai peralatan sains disana juga akan kurang efektif karena
harus bergiliran dengan anak lainnya.
-
Perhitungkan usia anak.
Tempat ini
paling pas dikunjungi oleh anak usia sekolah,
yaitu mulai tingkat SD ke atas. Meski
beberapa peralatan juga cukup menarik bagi anak usia pra sekolah, namun
sebagian besar peralatan di sana lebih sesuai untuk pembelajaran sains bagi
anak usia SD ke atas. Apabila membawa anak balita, lebih baik kita dampingi.
-
Baca petunjuk yang tersedia dengan seksama.
Paling baik adalah
mendapat penjelasan dari petugas museum. Akan tetapi apabila tidak
memungkinkan, kita pun dapat mendampingi anak dalam mencoba berbagai
alat/percobaan disana. Jangan lupa, baca petunjuknya dengan teliti.
-
Mengetahui perkiraan biaya
Apabila kita
hanya ingin mengunjungi museum, kita diharuskan membayar tiket masuk yang cukup
murah, yaitu 12 ribu per orang. Pada waktu saya berkunjung, ada juga pilihan
lain berupa tiket terusan, yaitu selain mengunjungi museum, kita juga dapat menonton film 4
dimensi sehingga totalnya biaya yang dikeluarkan sebesar 24 ribu per orang.
Hanya saja bangunan bioskop, cukup jauh jaraknya karena tidak bersatu dengan bangunan museum.
-
Jangan lupa, tengok merchandise
Puas
berjalan-jalan, jangan lupa mampir ke toko souvenir yang terletak di dekat
pintu keluar. Souvenir ini bukan sembarangan souvenir lho… Tapi merupakan
produk yang dikemas khusus untuk anak apabila ingin melakukan beragam percobaan
di rumah sepulang dari Puspa Iptek. Bahan yang dikemas untuk satu kali
percobaan cukup praktis namun tetap aman. Tujuannya agar anak mendapat pengetahuan
tentang reaksi yang terjadi sebagai hasil percampuran dari satu bahan dengan
bahan lainnya.
-
Serunya bereksperimen
Kalau beruntung
ketika kita datang, para petugas yang
berjaga disana akan menampilkan satu atau dua eksperimen yang menarik dan dapat
disaksikan oleh seluruh pengunjung. Serunya para pengunjung juga dapat terlibat
langsung dalam eksperimen, tentunya dibawah bimbingan para petugas.
-
Singgah di Mesjid Al Irsyad
Kota Baru
Parahyangan secara umum merupakan tempat yang nyaman untuk berjalan-jalan,
apalagi apabila kita membawa kendaraan. Siangnya, selesai berkunjung ke Puspa
Iptek Parahyangan, kita dapat menyempatkan diri untuk menunaikan sholat dzuhur
di mesjid Al Irsyad yang letaknya tidak jauh. Disain bangunan Mesjid Al Irsyad
yang modern namun unik akan membuat kita betah berlama-lama menghabiskan waktu
sembari beristirahat melepas lelah.
So… tunggu apa lagi ? mari
belajar sambil bermain ke Puspa Iptek !
1.
Langganan:
Postingan (Atom)









