Senin, 11 Mei 2015

Cerita Anak : Bawang Putih Pesanan Bunda





Hanif sedang asyik menggambar di teras rumah ketika terdengar suara lembut memanggil.
“Hanif….Hanif….” Itu suara Bunda.
Dengan sigap Hanif menghampiri, ”Ada apa Bunda?” 
“Hanif, bisa minta tolong pergi sebentar ke warungnya Bu Mar? Bunda perlu bawang putih, nih.”  
Hanif  mengangguk. Warung Bu Mar tidak jauh dari rumahnya, hanya berjarak enam rumah, terletak dipojok jalan. Hanif sudah  beberapa kali ke sana. Warung Bu Mar bersebelahan dengan rumah Agung, teman Hanif. Selain itu, yang lebih penting, tampaknya Bunda sedang sangat membutuhkan pertolongan Hanif.
Bunda mengulurkan selembar uang dua ribu rupiah,“ Ini uangnya. Terimakasih ya, Nak.”
Hanif bergegas pergi.  Tidak lama, ia sampai di warung Bu Mar. Warung itu sedang sepi. Tidak ada seorang pun disana. Hanif melihat-lihat barang-barang yang dijajakan di dalam etalase warung. Tampak beberapa toples permen, coklat dan kacang. Semuanya kesukaan Hanif.
Ssst… Jangan bilang-bilang ya! Sebenarnya Hanif suka sekali dengan macam-macam kue dan coklat yang sering dijajakan di warung-warung, termasuk warung Bu  Mar. Rasanya sedap sekali! Tetapi Bunda berpesan supaya Hanif tidak terlalu sering jajan. Lebih baik makan kue  yang dibuat Bunda di rumah, seperti pisang goreng keju, martabak mini, atau  puding roti. Kue-kue bikinan Bunda sebenarnya enak sekali. Tapi sekali-sekali Hanif ingin juga jajan seperti teman-temannya yang lain. Kadang-kadang memang Hanif diizinkan Bunda membeli kue di warung, tapi tidak banyak dan tidak sering.
Kini Hanif memandang lapar ke arah toples-toples berisi berbagai macam penganan itu. Saking asyiknya Hanif, ia tidak sadar Bu Mar sudah muncul dari dalam rumah dan menghampirinya.
”Hanif, mau beli apa?” tanya Bu Mar.
Hanif masih berpikir. Tiba-tiba terlintas ide di kepalanya.
“Bu, berapa paling sedikit jika ingin beli  bawang putih?”
“Paling sedikit seribu rupiah” kata Bu Mar.
“Kalau coklat itu berapa harganya? “ Hanif menunjuk toples berisi coklat kesukaannya.
“ Itu seribu rupiah”  
Hanif kembali berpikir. Hmmm… Jika aku membeli bawang putih seribu rupiah, lalu sisa uangnya untuk membeli coklat, sepertinya tidak apa-apa. Bunda  tidak akan tahu.  Cuma bawang putih yang didapatnya  menjadi lebih sedikit. Tidak lama, Hanif sudah memutuskan keinginannya.
 “ Bu,beli bawang putih seribu rupiah dan satu coklat.”  Kata hanif sambil mengangsurkan uang yang digenggamnya.
Ketika sedang menunggu Bu Mar selesai membungkus pesanannya, tiba-tiba Hanif teringat Bunda. Memang Bunda tidak tahu. Tetapi kira-kira, tindakannya ini jujur atau tidak, ya? Bunda pernah berpesan padanya agar  menjadi anak yang jujur. Membeli coklat menggunakan uang pembeli bawang putih, apakah itu jujur? Tanpa sepengetahuan Bunda pula. Meskipun Bunda tidak melihat, bukankah Allah Maha Melihat? Kata Bunda, Allah Maha Melihat apa pun yang disembunyikan  manusia. Jadi?
“Hanif, ini pesanannya” suara Bu Mar mengagetkan Hanif.
 “Mmmh….saya nggak jadi beli coklat deh, Bu. Saya beli bawang putih saja,  dua ribu rupiah,” ujar Hanif.
Hanif pulang dengan langkah gontai. Diserahkannya kantong plastik berisi bawang putih  itu kepada Bunda..
“ Wah, anak bunda memang hebat! Terimakasih banyak ya sayang” Puji Bunda sambil mengelus rambut Hanif. Hanif hanya mengangguk sambil membalikkan badannya. Terbayang olehnya potongan coklat yang lezat itu. Duh!
Tiba-tiba Bunda menyentuh bahunya dan  mengangsurkan sebuah kotak berwarna hitam dengan gambar coklat.
“Ini, ada oleh-oleh coklat dari Om Ris. Kemarin Om Ris baru pulang dari Pekanbaru dan menitipkan oleh-oleh buat Hanif dan Fathan. Bunda lupa, baru teringat sekarang.”
Wow! Hanif melonjak senang. Oleh-oleh dari Om Ris selalu lezat, apalagi coklatnya. Tersenyum lebar, Hanif menerima kotak itu.
“Terima kasih Bunda!”
Bunda mengangguk, “Jangan lupa berbagi dengan Abangmu, ya!”
“Oke Bun..” sahut Hanif riang. Tentu, coklat dari Om Ris jauuuh lebih lezat dari coklat yang ada di warung Bu Mar tadi. Dan yang lebih penting, Hanif memperolehnya dengan jujur!

 Note: Huruf merah adalah tulisan saya  yang diedit  oleh  sang editor. Huruf biru adalah tulisan saya yang dihapus sang editor. Nah... ini artinya kudu belajar lebih keras lagi untuk edit tulisan sendiri :). Oya tulisan ini dimuat di majalah Irfan vol 6. Satu-satunya cerita anak yang baru sempat ditulis dan kebetulan dimuat. Alhamdulillah

being full time mommy at home





Setelah sekian lama off menulis, kembali  membuka blog lagi. Ya, kebetulan kondisi kemarin yang tidak  memungkinkan menuangkan isi hati *tsah* berhubung pekerjaan sedang banyak2nya, kondisi kehamilan anak ketiga yang lebih berat dari dua kehamilan sebelumnya dan banyak alasan-alasan lain membuat saya  off dulu dari dunia tulis-menulis.
Hanya saja akhir-akhir ini ada satu topic yang membuat saya  tergelitik kembali menulis. Tak lain setelah memantau dan merasakan kembali bagaimana rasanya jadi full time mommy at home….Hihi .. bener2 dah full timenya karena asisten pun sedang tak punya. Semua dikerjakan sendiri- tentu dengan bantuan suami plus anak-anak yang “dipaksa”  jadi asisten cilik haha..  Hal-hal yang kemarin terlewat karena kesibukan pekerjaan plus tinggal delegasi ke asisten jadi terperhatikan sekarang. Ternyata oh ternyata…. Memang banyak hal yang saya lewatkan.
Satu  hal yang bisa saya tarik kesimpulan sekarang adalah tidak mudah menjadi full time mommy at home. Bahkan menurut saya *pendapat pribadi* ternyata secara  mental jauh lebih berat dibanding menjadi  ibu  bekerja. Ini benar-benar pendapat pribadi saya ya. Kalau ada yang punya pendapat berbeda, silakan.
Berikut  hal-hal yang perlu proses adaptasi dari ibu yang sebelumnya bekerja kemudian beralih peran  menjadi full time mommy at home:
1.       Jenis Aktivitas
Tuntutan dan deskripsi pekerjaan yang  berbeda. Kalau Ibu bekerja tentunya sesuai dengan job desc dari masing-masing profesinya. Misalnya kalau bekerja di bidang keuangan dan administrasi  berkutat di masalah angka-angka ataupun data-data, kalau dokter ya kudu melayani pasien, melakukan diagnosa dll, kalau seperti saya di bidang psikologi yang ketemu klien ya mesti banyak observasi, melakukan interview, melakukan pemeriksaan dan  membuat laporan. Sementara  rata-rata  kalau full time mommy at home apalagi yang no asisten ya… pekerjaannya nyaris seragam; bersih-bersih rumah, mencuci, menyetrika dan memasak. Ada pula yang ibu bekerja di rumah sekaligus full time mommy at home, kerjaannya double; ya bekerja sesuai profesinya atau bisnisnya ya beresin  pekerjaan rumah juga.
2.       Lingkungan
Tak bisa dipungkiri, satu hal yang menarik dari ibu  bekerja adalah  lingkungan kerja dan pergaulan yang lebih dinamis. Bisa berinteraksi dengan  klien yang  terdiri dari beragam jenis karakternya,  bergaul dengan  teman-teman kerja yang kompak, senasib sepenanggungan, dll. Apalagi kalau  mendapat kesempatan jalan-jalan entah ke tempat klien atau ada urusan pekerjaan  lainnya yang  mengharuskan keluar kota, bisa dapat pengalaman  dan suasana baru.   Pendeknya  lingkungan yang lebih dinamislah. Untuk full time mommy  at home sebenarnya cukup beragam. Ada yang lebih ke lingkungan dalam & sekitar rumah, tetangga, sesama ibu-ibu yang menunggu anak sekolah, arisan, pengajian dll. Tapi banyak juga full time mommy at home yang aktif berkiprah sekitar rumah, di lingkungan RT/RW bahkan dalam cakupan yang lebih luas.  Tapi ya itu kembali lagi ke sisi pribadi orang yang bersangkutan. Apakah memang senang  terjun beraktivitas  ke lingkungan masyarakat yang lebih luas atau lebih suka beraktivitas di dalam rumah. Semua kembali  kepada orang yang bersangkutan. Thanks God sekarang ada media social. Paling tidak itu sangat membantu  full time mommy at home untuk  melebarkan  jaringan pergaulannya tanpa harus sering keluar rumah.
3.       Ekspektasi
Kalau di dunia kerja ada target dan tuntutan  kerja yang jelas. Misalnya  ya seperti saya, laporan kudu  beres tanggal segini kalau nggak, bakal ditagih terus atau  lebih  parah ; klien bisa complain.  Bahkan bisa  menyebabkan  bagian atau unit lain yang dirugikan karena menunggu pekerjaan kita ga selesai-selesai.  Sementara kalau full time mommy at home  ya kalau suka  menunda pekerjaan sih mungkin  ga akan  ngaruh  ke pihak eksternal ya tapi dampaknya ke diri sendiri dan  internal keluarga.  Jadinya yang kasihan suami sama anak-anak, misal menunda menyetrika  seragam malamnya,  pasti besok pagi-pagi mommy sendiri yang repot  karena terjadi kehebohan dalam mempersiapkan  baju seragam. Ya  intinya kalau full time mommy kelihatannya komitmen lebih ke diri sendiri dan  ke keluarga untuk bisa memastikan  pekerjaan  beres.  Sementara  kalau  ibu  bekerja di luar rumah  tanggung jawabnya lebih  kepada pihak eksternal. Tapi menurut saya justru yang paling sulit itu ya komit ke diri sendiri.   
4.       Penghargaan
Nah,  ini  nih menurut saya justru yang paling berat. Kalau ibu  bekerja di luar rumah rewardnya jelas, dapat salary dan penghargaan dari kantor. Malah kalau  hasil kerjanya excellent  bakal lebih banyak dapat apresiasi dari banyak pihak seperti atasan, rekan kantor dan klien atau berupa  kenaikan salary, bonus dll.  Pokoknya  dapat pengakuan atas apa yang sudah  kita kerjakan yang secara signifikan  juga mempengaruhi rasa keberhargaan diri  kita ( self esteem). Tidak heran kalau ibu  bekerja  di luar rumah sering dikatakan  kebutuhan self actualizationnya lebih dapat terpenuhi. Sementara kalau full time mommy at home, bisa dibilang hasil kerjanya sering luput dari penghargaan pihak  lain. Boro-boro dapat gaji hehe….dipuji  oleh pihak yang berkepentingan seperti suami atau anak-anak saja  kadang  tidak. Hihi…. Padahal kalau cucian  baju nggak beres atau rumah  kotor  berantakan atau tidak ada  masakan di rumah, gimana hayooo…..? Rempong  juga kan… (bersambung)

Senin, 21 April 2014

Serba-serbi Tinggal di Luar Negeri (2)





Satu hari saya berbincang via bb dengan salah seorang sahabat saya membicarakan postingan tulisan saya sebelumnya tentang  “Serba-serbi tinggal di luar negeri” . Setelah membaca tulisan saya, Ia berpendapat bahwa tinggal di luar negeri itu berat. Ia juga  menyatakan bahwa kalau tidak terpaksa sekali, enggan  untuk pindah ke luar negeri. Alasan utama dan terbesarnya adalah : Keluarga. Ya, system kekerabatan yang cukup kuat  mengakar di Indonesia menjadi salah satu  hal yang membuat tidak semua orang antusias untuk mencicipi pengalaman tinggal di luar negeri. Meski saat ini kecanggihan teknologi sudah memungkinkan orang yang terpisah ribuan kilometer bisa berkomunikasi dengan lancar, namun hal ini tidak berarti banyak bagi sebagian orang.

Kali lain, saya berbincang dengan sahabat saya yang lain. Kebetulan suaminya mendapat tawaran untuk  bekerja di luar  dengan gaji yang berlipat di satu negara kawasan Timur tengah yang terkenal paling “kinclong”. Sama dengan cerita sebelumnya, sahabat saya yang ini pun enggan pindah ke luar. Saya maklum. Karirnya sebagai pegawai negeri sipil di suatu instansi pemerintah sedang melaju. “Mau ngapain aku  disana?” Katanya sambil bergidik  ketika saya menyampaikan tentang beberapa alternatif  aktivitas yang paling mungkin dilakukannya kalau ia mengikuti suami bekerja di luar negeri.

Setiap orang punya pilihan bukan? tentunya apapun  alasan mereka, itu sah-sah saja.  Dan sah-sah saja kala banyak orang yang selalu mengaitkan pekerjaan di luar negeri dengan kelimpahan materi yang berlebih dibandingkan dengan di tanah air.

Padahal setiap orang yang bekerja dan tinggal di luar negeri, tidak melulu memiliki alasan berdasarkan materi. Seorang sahabat  memutuskan untuk menetap dalam waktu tidak terbatas  di Madinah karena ia sudah merasa damai disana. Bisa ke Nabawi dan raudhah  kapanpun ia suka ataupun umroh kapanpun ia mau, anak-anaknya mendapat pendidikan agama  dan hafalan Qur’an yang sesuai dengan keinginannya dan ia pun masih bisa beraktivitas mengajar para TKW. Untuk berjumpa dengan para kerabat di Indonesia tidak masalah, karena mereka bisa berjumpa dengannya saat umroh ataupun haji. Indah, bukan?

Salah seorang keluarga juga memutuskan untuk menetap di Amerika bukan hanya semata alasan materi, meski masih berkaitan. Ia mendapati kenyataan dengan tinggal dan bekerja di Amerika kondisi financialnya sangatlah  tercukupi dan ia pun masih  memiliki waktu luang yang cukup  (dari segi kuantitas dan kualitas) untuk dihabiskan bersama keluarga.  Padahal di Indonesia, pasangan suami-istri  tersebut sudah lama bekerja di perusahaan  multinasional ternama dengan karir melesat  dan gaji yang tidak main-main.  Tapi ya itu, waktu habis untuk bekerja. Membandingkan dengan di Indonesia, rasanya sungguh jauh. Sudah habis mencurahkan  waktu, tenaga dan pikiran- bahkan terkadang  waktu keluarga terpaksa dikorbankan- gaji tetap segitu-segitu  saja.

Saya teringat, seorang kerabat pernah  bertanya tentang gaji suami di Saudi. Mau tak mau saya terpaksa menjawab meski  hanya sebatas menyebutkan kisarannya “Ah..segitu mah di Indonesia   masih bisalah” Saya hanya nyengir.  Ya, mungkin kalau perbandingannya hanya materi, hanya itu pula yang di dapat. Tapi buat saya dan suami, pertimbangan  kami saat itu bukan hanya itu. Pertimbangan terbesar kami  adalah adanya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan yang entah kapan bisa kami peroleh. Apalagi mengingat kondisi saat ini yang antriannya saja sudah  membuat geleng-geleng kepala, selain tentu biayanya yang tidak kecil.

Diluar itu, banyak hal yang membuat saya  merasa beruntung  pernah mencicipi tinggal di negeri orang. Saya sangat setuju dengan tulisan dari  salah satu blogger favorit saya; Jihan Davincka,   yang intinya  mengatakan bahwa   berbagai pengalaman  berinteraksi dan beradaptasi  dengan berbagai ragam  manusia dan budaya  bisa merubah persepsi seseorang dalam  memandang kehidupan.  
Can’t more agree.

Itu terjadi pada saya. Pengalaman tinggal di luar sesungguhnya benar-benar  membuka cakrawala berpikir saya. Mengubah persepsi saya tentang dunia dan segala isinya.  Bahkan merubah persepsi tentang diri saya sendiri. Meski pun terus terang saya agak terlambat juga  mendapat pencerahan ini. 

Terus terang, hidup saya alhamdulillah  berjalan mulus saja selama ini. Bersekolah di sekolah favorit, lulus, menikah, punya anak semuanya berjalan dengan  baik. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah yang maha rahman dan rahim. Dari segi konteks lingkungan pun yang saya jumpai  kebanyakan teman-teman yang sama bersekolah di sekolah  favorit, berpendidikan, berkecukupan dll, dsb. Tadinya saya pikir hal itu biasa saja.  Toh, semua teman saya juga mengalami hal yang sama. Bahkan banyak yang jauh lebih  hebat.

Tetapi…banyak hal ternyata yang saya jumpai  di Madinah yang benar-benar  menjungkir balikkan persepsi saya sebelumnya. Bahwa banyak orang yang tidak seberuntung  saya dan teman-teman saya.

Bukan sekali-dua kali saya  menjumpai wajah-wajah  perempuan milik sebangsa saya. Diantara  kibasan abaya, sesekali saya  menatap wajah-wajah  yang tak asing, tergopoh-gopoh mengikuti rombongan  keluarga besar warga setempat. Sambil kerepotan menggendong dan menggandeng anak-anak asuhannya sementara sang nyonya melenggang begitu saja.  Kali lain saya  berjumpa dengan mereka yang  bersembunyi di balik dinding kamar, tak bisa leluasa  keluar karena  tak punya dokumen resmi.  Tanpa  kepastian, hidup yang benar-benar terbatasi. Atau mereka yang mencoba lari tapi terjebak dan terpaksa pasrah pada nasib.

Menjumpai orang-orang yang tak punya  banyak pilihan untuk hidup tapi karena kondisi harus tetap berjuang.  Menjumpai orang-orang yang dengan keterbatasannya  gigih  menantang kehidupan.  Demi hidup dan kehidupan orang-orang tercinta  di tanah air. Berjuang di tanah asing yang bahkan seringkali tidak memihak mereka.  Bahkan yang lebih ekstrim, berjuang  diantara  batas tipis berdosa atau tidak; hanya untuk  mempertahankan  hak paling dasar;  kebutuhan untuk hidup dan keamanan.   Dan mungkin yang paling parah dan membuat hati geram adalah menyaksikan  orang-orang sebangsa  yang dengan teganya  memeras keringat dan memanfaatkan saudaranya setanah air dengan berbagai dalih. Saya tak akan menceritakan lebih detil, karena sudah banyak berita yang beredar di tanah air cukup memberikan gambaran secara umum.

Intinya, banyak hal yang saya temui, terus terang membuat saya mengelus dada. Subhanallah….. ternyata saya seharusnya lebih banyak lagi bersyukur kepada Allah.

Kalau saya membayangkan  berada di posisi mereka, belum tentu  saya sekuat  dan senekad itu. Mungkin kebetulan nasib saya saja lebih beruntung. Bisa datang ke Saudi  bersama  keluarga, suami yang melindungi saya  dan bekerja sebagai professional  dengan  penghargaan dan  pendapatan yang cukup. Kalau ada yang mengganggu, siap-siap saja lirik suami *hehe* Kalau tak betah tinggal angkat koper, pulang ke Bandung.#home sweet home#

Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak punya pilihan. Mau pulang atau bertahan sama sulitnya, bagai buah simalakama. Bagaimana dengan mereka yang mengais setiap realnya untuk hidup, menghitung setiap detiknya untuk pulang,  mengumpulkan setiap keberanian untuk sekedar  menghirup udara  bebas karena takut dirazia, memohon setiap perlindungan atas ancaman tak kasat mata yang ada diluar sana, menepis setiap tetes keringat serta air matanya untuk setiap pengorbanan yang mereka  lakukan?  Doa saya, semoga perlindungan Allah selalu menyertai mereka.

Meski demikian, tidak semuanya bernasib tragis,  karena ada pula yang menemukan surganya disini. Ya, diantara para TKW yang kebetulan masih  harus  berjuang, saya  bertemu  dengan beberapa perempuan Indonesia yang beruntung dipersunting warga setempat dan memiliki anak-anak yang cantik dan tampan. Mata mereka berbinar bahagia dan penuh rasa syukur. Semoga suami mereka selalu  memuliakan mereka dan rahmat Allah tercurah tiada putusnya.

Dari merekalah saya belajar. Untuk itu, tak pernah saya berhenti bersyukur kepada Allah  untuk kesempatan tinggal dan  belajar di Madinah. Belajar melihat sisi kehidupan yang berbeda. Ya, kita tak pernah tahu, kapan, dimana dan dari siapa kita bisa  memetik  hikmah kehidupan. Untuk saya, kebetulan saya menemukan mutiara kehidupan itu di antara damainya Madinah. Mungkin untuk orang lain tak perlu mencari sejauh itu.

Satu lagi, pengalaman yang saya peroleh saat  berinteraksi  dengan warga setempat. Seperti sudah saya sampaikan sebelumnya, seringkali saya disangka pembantu atau khadimat. Mungkin karena sudah jadi kelaziman di negara ini, perempuan Indonesia yang mengenakan abaya dan bukan jamaah haji/umroh adalah mereka yang berprofesi sebagai  pembantu atau khadimat. Mungkin juga sudah nasib warga Indonesia yang selalu  menjadi warga kelas dua, tak hanya di luar negeri tapi bahkan di negerinya sendiri. Untuk  menghadapi hal seperti ini, biasanya saaat berinteraksi dengan mereka saya menggunakan bahasa Inggris. Saya jarang-kecuali kepepet-memakai bahasa  tarzan. Kalau bahasa arab, terus terang kemampuan saya parah sekali hehe…. Daann…. dari beberapa kali berinteraksi, separah-parahnya  bahasa Inggris saya, ternyata  mereka lebih parah lagi. Hihihi.. Biarlah setidak-tidaknya saya masih bisa menegakkan harga diri sebagai perempuan  warga Indonesia. 

Meski tak banyak kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan mereka, saya senang mengamati mereka, bagaimana kebudayaan mereka, cara mereka berinteraksi baik dalam keluarga maupun dengan orang asing. Dari situ setidaknya saya mendapat pengetahuan baru  tentang  budaya dan tradisi  negara-negara Timur Tengah yang  sangat  diwarnai family cultural. Dari situ saya  paham apa yang melatarbelakangi sikap  mereka dalam berinteraksi dengan orang asing. Ini menjadi  bahan  dan sumber data yang sangat  bermanfaat saat saya membuat buku  “Panduan  Perjalanan haji untuk Perempuan” Tak hanya berkisah tentang  perjalanan haji saja namun juga ulasan sederhana  tentang  adaptasi secara social budaya di Saudi.

Dari semua itu, satu yang saya tahu.  

Tak perlu ragu melempar sauh sejauh mungkin dan merentang sayap selebar mungkin untuk menemukan hakikat diri.  Setiap pengalaman, setiap petualangan, setiap penjelajahan tak  akan pernah sia-sia.  Seperti layaknya puzzle, setiap potongan  akan membawa episode baru yang membuka mata hati dan cara pandang kita  terhadap dunia menjadi lebih lengkap dan berwarna (quote by me) #baru belajar#



Sabtu, 22 Maret 2014

Serba-serbi Tinggal di Luar Negeri



Pengalaman saya tinggal di luar negeri sebenarnya  cuma seiprit  alias cuma sebentar. Dibandingkan dengan teman-teman yang bertahun-tahun menetap, berpindah-pindah dari satu  negara ke negara lainnya atau bahkan ada yang menjadi warga negara setempat…..wow... jauhh!  Berbekal pengalaman yang cuma sebentar ini plus mendengar dan membaca tulisan tentang teman-teman yang berkesempatan tinggal di luar negeri, saya coba menuliskan beberapa point  yang umum dialami oleh para pendatang di negeri orang.

-          Masa adaptasi; pertamakali tiba, jangan heran kalau banyak hal ditemui akan jauh berbeda dengan apa yang biasa kita jumpai di  tanah air. Sekalipun kita sudah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya  sebaiknya tetap bersiap menghadapi  adanya kejutan-kejutan yang akan mewarnai masa awal sebagai pendatang baru.

-          Jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk terkaget-kaget…karena  mau tidak mau kita akan disibukkan dengan  beragam kegiatan yang harus dipersiapkan untuk menjalani rutinitas di tempat baru; misalnya mencari  tempat tinggal permanent  untuk  pendatang yang  tinggal di tempat sementara,  mencari toko yang available untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari, berburu sekolah  yang  cocok untuk anak-anak  sampai menemukan  tempat atau komunitas yang nyaman  untuk pergaulan.  Yang jadi masalah, kadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan. Belum lagi sejumlah pertimbangan yang menyertai; seperti  mendapatkan bahan makanan yang halal dan murah, sekolah anak  yang nyaman dan sistem pendidikan yang sesuai dan lainnya.

-          Untuk pendatang yang beruntung  tinggal di negara muslim, bersyukurlah. Seperti waktu saya di Madinah,  Ibaratnya, di supermarket mau mengambil bahan makanan apapun dengan mata tertutup, insya Allah halal. Mau jajan di restoran juga demikian. Hal yang sebaliknya  dengan yang saya alami waktu berkunjung ke China. Teman saya yang kebetulan tinggal  di negara non muslim juga demikian; harus cermat meneliti kandungan  zat-zat yang terdapat dalam bahan makanan yang  ingin dibeli apakah masih  termasuk halal untuk dikonsumsi atau tidak.

Tapi in shaa Allah, dibelahan dunia manapun tempat kita akan  tinggal, akan selalu ada kemudahan  dan pertolongan Allah.

-          Siap bekerja keras. Mau leyeh-leyeh seperti di Indonesia yang relative mudah mencari asisten? Jangan harap hal itu terjadi kalau kita bermukin di negara lain. Kalau di Indonesia ada si Mbak atau si Bibik yang  bisa diandalkan untuk  membantu mencuci piring atau mengasuh anak, tinggal di luar berarti kita harus siap mengandalkan diri sendiri atau  berbagi tugas dengan pasangan.  Cucian menumpuk atau ada tikus di dapur….Ya kudu puter otak sendiri – jangan harap bisa minta tolong sama Mamang tukang sampah untuk membantu mengusir tikus.  Tugas keseharian benar-benar tanggung jawab sendiri  dan sangat jarang untuk bisa benar-benar libur, kecuali kalau sudah ada kesepakatan dengan pasangan. Demikian juga urusan masak-memasak; kalau libur, mau dikasih makan apa anak-anak?  Masalahnya kalau sering-sering jajan, bisa jebol  ini kantong hihihi….. Belum lagi masalah selera  yang kadang tidak cocok dengan masakan setempat.

Masalahnya bisa berbeda kalau kebetulan tempat kita tinggal  berdekatan dengan tetangga sesama orang Indonesia yang doyan masak.  Seperti saya waktu di Madinah yang lumayan sering dapat kiriman kue dan masakan enak-enak dari tetangga  yang baik hati atau dapat lungsuran sisa makanan dari  travel umrah yang makanan jamaahnya tidak habis.

Gengsi? Ke laut aja kalee….Tinggal di luar negeri   bukan berarti berfoya-foya lho ya… kecuali kalau  tabungan  sudah menumpuk atau tanah  ada dimana-mana alias kehidupan sudah pasti terjamin ketika pulang ke tanah air nanti.  Kalau bagi saya, tinggal di luar negeri artinya ya penghematan.  Dan juga menahan diri dari hal-hal yang bisa didapat dengan mudah di tanah air. Misalnya  kangen makan batagor atau bakso tapi jangan harap ada yang lewat. Jadinya asyik googling  untuk cari tahu gimana cara bikin sendiri.

Maka jangan heran kalau ibu-ibu pemukim luar negeri adalah istri-istri binangkit – jago masak, beberes rumah dan ngurus anak, karena semuanya dikerjakan sendiri. Pokoknya salut berat deh.

-          Bergabung di komunitas warga Indonesia. Sebagai sesama warga Indonesia di negara asing; jalinan persaudaraan harus benar-benar erat. Ya, kepada siapa lagi kita menengok  apabila kebetulan  membutuhkan bantuan. Sebagai sesama perantau,  tentu sama-sama  mengetahui situasi yang dihadapi di negeri orang; susah-senangnya. Kadang  saling ketergantungannya cukup besar; bahkan tak jarang  tetangga atau teman yang  kita jumpai di sana lebih terasa sebagai saudara  atau bahkan keluarga dibandingkan dengan saudara sedarah di tanah air.  Hanya saja, ya itu….lingkup pergaulan terasa tidak terlalu luas dibandingkan dengan di tanah air. Apabila di tanah air kita akan banyak bertemu orang baru dalam pergaulan kita atau karena berbagai urusan, misalnya;   tapi kalau kebetulan kita tinggal di negara yang warga Indonesianya sedikit ya harus terima saja kalau tiap ada pertemuan ketemunya dengan orang –orang yang sama. Istilahnya 4 L  lah….Loe lagi loe lagi.
- Serunya tinggal di luar negeri adalah kesempatan yang terbilang jarang  untuk  melihat kebudayaan dan pemandangan  yang berbeda  dengan di tanah air. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Percaya deh… biar nggak punya uang atau  bermodal nekad sekalipun; jangan sia-siakan kesempatan untuk berpetualang  menelusuri dan menikmati  suasana dan budaya setempat yang berbeda dengan tanah air; seperti menikmati kulinernya atau berbincang dengan warga setempat. Mumpung jaraknya dekat.  Jangan seperti saya yang menyesal  setelah kembali ke Indonesia. Jauh-jauh berkelana di Madinah paling jauh cuma sampai Mekah atau Jeddah. Bahkan Thaif atau  Made in Saleh yang tergolong tempat  ngetop di Saudi pun belum sempat saya  kunjungi. *tepok jidat* Dahulu ketika ada seorang teman yang menyarankan supaya kami  mencoba travelling ke Mesir atau Abu Dhabi  karena jaraknya terhitung dekat dari Saudi-daripada bolak-balik pulang kampung ke Indonesia- saya hanya tertawa. Sekarang? Huhuhu…. saya hanya bisa gigit jari dan berharap suatu hari dapat kesempatan untuk berpetualang lagi *lirik suami* Aamiin ya Robb.